Fragmen-Fragmen Rindu Buat Abah dan Puisi-Puisi Lainnya

Yohan Fikri M, lahir di Ponorogo, 01 November 1998. Penulis merupakan alumnus Pondok Pesantren HM Putra Al-Mahrusiyah Lirboyo Kediri. Mahasiswa aktif di Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Universitas Negeri Malang, serta santri di Ponpes Miftahul Huda Gading, Malang. Bergiat di Komunitas Sastra Langit Malam. Puisi-puisinya termuat di berbagai media daring, dan dalam beberapa antologi bersama, antara lain: Babu Tetek (Penerbit Kuncup, 2018), Santri (Penerbit Sulur, 2019), Sajak Perempuan (Langgam Pustaka, 2020), Eediteik 2 (SIP Publishing, 2020), dan Memasak Ra’a Rete (Jejak Publisher, 2020). Artikelnya pernah dimuat di Journal Kawruh: Journal Of Languange Education, Literature, and Local Culture, Universitas Veteran Bangun Nusantara, Sukoharjo. Menjuarai beberapa kompetisi, antara lain: Juara 2 Lomba Cipta Puisi “Santri” dalam Rangka Memperingati Hari Santri Nasional 2019 diselenggakan oleh Pilihanrakyat.id dan Penerbit Sulur, Juara 1 Lomba Menulis Puisi Tingkat Nasional BATCH 2 diselenggarakan oleh Ruang Kreasi tahun 2020, Juara 1 Lomba Cipta Puisi Nasional 2020 KORPS HMI-Wati Cabang Cirebon,Juara 1 Lomba Cipta Puisi Nasional 2020 Jagat Kreasi Mahasiswa, Universitas Negeri Malang. Bisa disapa melalui email: yohanfikri20@gmail.com, atau Instagramnya: @yohan_fvckry
Yohan Fikri M.
Latest posts by Yohan Fikri M. (see all)

FRAGMEN-FRAGMEN RINDU BUAT ABAH —untuk Abah, Mohammad Mislan Ahmadi /di surau Di surau itu, gertak lantang suaramu, serta dentum tabuh bedugmu, pernah menciutkan nyalang nyaliku.…

Selengkapnya Fragmen-Fragmen Rindu Buat Abah dan Puisi-Puisi Lainnya

Membaca Maut dan Sepilihan Puisi Lainnya Agung Wicaksana

Agung Wicaksana lahir pada 15 September 2000 di Surabaya, Jawa Timur. Buku puisi mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini bertajuk Fanatorium (2017). Puisi-puisinya tersebar di media cetak maupun maya.
Agung Wicaksana
Latest posts by Agung Wicaksana (see all)

Epifani Taman Bungkul I/ Kau sampai di sini. Ketika bangku-bangku kosong Cabang berbuah merupa silsilah dan hujan memeluk tanah Aku menerimamu kembali sebagai ranting-ranting terkulai…

Selengkapnya Membaca Maut dan Sepilihan Puisi Lainnya Agung Wicaksana

Kilas Balik Insidental Moment #10

Admin adalah orang yang rendah hati, terbukti ia bekerja di belakang meja, kalau di atas sulit. Admin menerima segala bentuk pemberian dengan tangan terbuka.
admin

Puisi-puisi Jemi Batin Tikal Pasar Kembang Suatu Malam Menyingkir pinggir rel kereta gigil kerikil debu tengah malam angin dingin menjelang kemarau remang mata bulan lampu…

Selengkapnya Kilas Balik Insidental Moment #10

Episode Karna dan Puisi-puisi Lainnya

Galuh Kresno, lahir di Cilacap, 23 September 1997. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Anggota Komunitas Penyair Institute (KPI), Serayu Institute Purwokerto, Kalatidha Institue. Saat ini sedang disibukan dengan tugas akhir, dan aktivitas lain sebagai tukang kebun. Tinggal di Desa Panulisan Timur, Kec. Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap. No. HP 082135691352. Beberapa karyanya pernah dimuat di Radar Banyumas, Harian Rakyat Sultra, Magelang Ekspres, Minggu Pagi, Harian Fajar Makassar, Biem.co, dan Sahabat Keluarga. Penulis berpartisipasi dalam antologi puisi Kelahiran Kedua, Arun, Kepada Toean Dekker, dan lain-lain.
Galuh Kresno
Latest posts by Galuh Kresno (see all)

Gali Indit bari cicing, milampah teu ngaléngkah· . Di kening kamera aksi menyala nyalang kedap-kedip menatap badan bumi, cangkul mengeruk tanah, buka lubang keliling Beringin…

Selengkapnya Episode Karna dan Puisi-puisi Lainnya

Siapa Pelopor Penyair Yogya?

Latief S. Nugraha, carik di Studio Pertunjukan Sastra. Buku karyanya; Menoreh Rumah terpendam (Interlude, 2016), Sepotong Dunia Emha (Octopus, 2018), Pada Suatu Hari yang Mungkin Tak Sebenarnya Terjadi (Interlude, 2020).
Latief S. Nugraha
Latest posts by Latief S. Nugraha (see all)

Menelusuri arah sejarah perkembangan dan dinamika sastra Indonesia di Yogyakarta, ketika digali lagi ternyata masih banyak hal yang terlewat dan luput dari catatan. Agak susah…

Selengkapnya Siapa Pelopor Penyair Yogya?

Pada Sebatang Sungai dan Puisi-Puisi Lainnya

Bayu Aji Setiawan, berasal dari Siak Sri Indrapura, Riau. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Bergeliat di Studio Pertunjukan Sastra (SPS), Kelas Sunyi, Komunitas Madah, dan Jejak Imaji. Saat ini menjadi bagian dari Penerbit Circa. Dapat berkorespondensi melalui Whatsapp: 085315816871, Instagram: @ajisetiawanbayu, Facebook: Bayu Aji Setiawan, atau Sur-el: bayuajisetiawan226@gmail.com
Bayu Aji Setiawan
Latest posts by Bayu Aji Setiawan (see all)

Pada Sebatang Sungai . Pada sebatang sungai yang mengalirkan air dari hulu ke hilir dari pinggir, seorang ahli nujum berserah diri bersimpuh melipat kedua kaki…

Selengkapnya Pada Sebatang Sungai dan Puisi-Puisi Lainnya

Suatu Pagi yang Mesti Kita Hargai dan Puisi-Puisi Lainnya

Wahyu Hidayat merupakan penulis dari Lampung. Buku terbarunya yang terbit di tahun 2019 adalah Ozlemli Olum. Ia sering memenangkan lomba cipta puisi umum dan nasional. Puisi-puisinya masuk di beberapa media dan antologi ASEAN. Saat ini ia masih berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Kotabumi (UMKO), Lampung. Alamat: Purwosari, Ratu Abung, Abung Selatan, Lampung Utara, Lampung. No Wa/Telepon: 088286562573, IG: Awiyazayan, dan email: wahyuhida1997@gmail.com
Wahyu Hidayat
Latest posts by Wahyu Hidayat (see all)

Suatu Pagi yang Mesti Kita Hargai . pagi yang berlari tak perlu ditarik lagi kalaupun kembali mesti kita dihargai . 1. pagi berkisah tentang mata…

Selengkapnya Suatu Pagi yang Mesti Kita Hargai dan Puisi-Puisi Lainnya

Puisi-puisi Lamuh Syamsuar

Lamuh Syamsuar, Lahir di Lombok Tengah, 1987. Menyelesaikan Studi S1 di IKIP Mataram. Puisi-puisinya pernah disiarkan di Suara NTB, Lombok Post, Jurnal Sastra Santarang, Bali Pos, Banjarmasin Post, Harian Rakyat Sultra, Riau Pos dan Basabasi.co. Buku puisi keduanya, Mata Damar (Yogyakarta, 2019)

FB: Lamuh Syamsuar
IG: @lamuhsyamsuar
Lamuh Syamsuar
Latest posts by Lamuh Syamsuar (see all)

Pembungkus Jiwa                                     :Tuan Guru Lenser . aku lahir. di tanah tandus udara dan api terperam di dalamnya . seorang alim baru saja pergi merelakan…

Selengkapnya Puisi-puisi Lamuh Syamsuar

Memasuki Ruang Puisi

Admin adalah orang yang rendah hati, terbukti ia bekerja di belakang meja, kalau di atas sulit. Admin menerima segala bentuk pemberian dengan tangan terbuka.
admin

Kepala MTs Negeri 1 Sleman, Harsoyo, S.Pd., dalam kata pengantarnya di buku antologi Ruang Puisi terbitan Jejak Pustaka mengungkapkan bahwa sekolah merupakan salah satu tempat…

Selengkapnya Memasuki Ruang Puisi

Membaca Puber Kata

Admin adalah orang yang rendah hati, terbukti ia bekerja di belakang meja, kalau di atas sulit. Admin menerima segala bentuk pemberian dengan tangan terbuka.
admin

Saya merasa beruntung hidup di tengah-tengah kreativitas para pelajar kita yang demikian bergairah, demikian bersemangat, dan sungguh menjanjikan harapan besar khususnya di bidang sastra. Saya…

Selengkapnya Membaca Puber Kata

Pledoi dalam Kelas: Sejarah, Cinta, Rindu, dan Kenangan

Admin adalah orang yang rendah hati, terbukti ia bekerja di belakang meja, kalau di atas sulit. Admin menerima segala bentuk pemberian dengan tangan terbuka.
admin

Antologi puisi Pledoi dalam Kelas menawarkan empat hal yang kerap hadir dalam kehidupan yaitu sejarah, cinta, rindu, dan kenangan. Tema ini memang sudah tidak asing…

Selengkapnya Pledoi dalam Kelas: Sejarah, Cinta, Rindu, dan Kenangan

Pasar Terbakar dan Puisi-puisi lainnya Karya Hendrik Efriyadi

Admin adalah orang yang rendah hati, terbukti ia bekerja di belakang meja, kalau di atas sulit. Admin menerima segala bentuk pemberian dengan tangan terbuka.
admin

Pasar Terbakar -Mandiraja Semalaman, pasar Mandiraja terbakar tersambar kembang api yang disulut dada security Lalu padam, sebelum kembali bara dari gaung mulut calo dan mandor…

Selengkapnya Pasar Terbakar dan Puisi-puisi lainnya Karya Hendrik Efriyadi