Historisitas dalam Bingkai Sastra

“Mengapa banyak orang begitu percaya pada sastra? Orang mencari-cari dan memburu-buru karya seorang penulis. Orang bersedia  menjalani hukuman-hukuman dan siksaan-siksaan untuk novel yang ditulisnya. Sudah sejak lama amanat -amanat para raja dilupakan orang, tetapi kata-kata para penyair setiap kali dicetak kembali, dipelajari dan selalu menjadi milik tiap zaman.” (Jacob Sumardjo, 1979)

Sejarah sebagai ilmu berusaha merekonstruksi realitas. Sedangkan sastra sebagai seni bergerak dalam ruang imajinasi—mengekspresikannya imajinasinya. Dalam buku kumpulan puisi Pada Suatu Hari yang Mungkin Tak Sebenarnya Terjadi, Latief sebagai penyair—sebagaimana ia sampaikan dalam kata pengantar bukunya—berusaha mengolaborasikan puisi dengan sejarah sebagai satu kesatuan kisah, peristiwa, seni, dan ilmu. Sejarah dan sastra memiliki korelasi yang signifikan. Thomas Clark Pollock (1965) mendudukkan sejarah sebagai referential symbolism, sedangkan sastra sebagai evocative symbolism.

Sejarah merujuk pada sesuatu di luar dirinya (referensi), sedangkan sastra merujuk pada dirinya sendiri (ekspresi). Namun, keduanya adalah symbolic form—istilah Cassirer— yang diciptakan oleh manusia (Kuntowijoyo, 2004). Menulis sebagai sebuah tindakan menjadi indikator historisitas yang penting dalam hal produksi dan distribusi wacana. Baik karya sastra maupun non-fiksi, keduanya sama-sama produk intelektual yang lahir dari proses penciptaan oleh kemampuan kognitif dan imajinatif manusia. Lalu, seberapa jauh ikhtiar ini terejawantahkan dalam buku kumpulan puisi Pada Suatu Hari yang Mungkin Tak Sebenarnya Terjadi?

Sastra adalah realitas simbolis. Sebagai penutur realitas, sastra memiliki kualitas kembar: di satu pihak mengungkapkan realitas historis, di lain pihak mempunyai kekuatan magis dari ciptaan imajiner (Eliade, 1968: 192). Selanjutnya, Eliade mengatakan bahwa fungsi sastra dalam masyarakat modern mirip seperti fungsi mitos bagi masyarakat primitif, yaitu kekuatan untuk “keluar dari belenggu waktu”. Fungsi ini ditampakkan oleh pengarang dalam salah satu puisinya berikut:

Sejarah tak pernah satu

tak terpisah waktu

….

Di atas tulang belulang nenek moyang

masa silam membangun masa depan,

hari-hari kelabu, dan pengetahuan

bahwa segala yang tumbuh akan tumbang

(Masa Silam Sejarah, hal.10-11)

Sejarah hadir dengan banyak versi dan selalu terikat dengan waktu. Namun, dengan sastra, pengarang ingin memperpanjang wacana tentang “belenggu waktu” itu. Ia menilai bahwa historisitas hanya mencoba menemukan satu realitas: realitas aktual atau realitas historis. Sebagai realitas yang representatif, sastra membangun ruangnya sendiri, yakni ruang yang memiliki fleksibilitas dalam ruang dang waktu; dalam dialektika dan norma-norma etik sebagai interpretasi subjek terhadap suatu peristiwa. Pengarang menghadirkan sejarah sebagai waktu dari masa silam yang kembali direpresentasikan, diwacanakan, dan dipertanyakan ulang kedudukannya. Sedangkan sastra menjadi bingkai untuk mengungkap realitas historis dan imajiner dalam puisi-puisinya.

Momen Puitika Sejarah

Pada dinamikanya, sejarah mampu berkolaborasi dengan sastra atas dasar kesadaran terhadap ruang subjektivitas yang dibangun oleh keduanya. Sejarah, lewat celah tertentu, mampu melahirkan ‘momentum puitika’, sebab sejarah selalu berjalin kelindan dengan bahasa. Bahasa yang kering membangun estetikanya dengan sastra. Hal ini dilakukan tidak hanya oleh penyair dalam perjalanan puitik puisi-puisinya, melainkan juga masyarakat umum dalam membangun dialektika dengan realitas sosialnya. Karena ‘yang puisi’ juga hidup dalam dialektika.

Karena sejarah membangun subjektivitasnya sendiri, maka ia tidaklah abu-abu. Sebaliknya, kebenaran sejarah menjadi bahan baku bagi benang-benang wacana yang terus diproduksi dan dikembangkan. Bahasa dan narasi historisitas telah memainkan dan mereproduksinya sesuai kepentingan subjek individu maupun kelompok. Karena itulah, sejarah memiliki versi yang bermacam-macam. Ia bertendensi pada banyak hal, bahkan penarasiannya bisa semakin menjauh dari kebenaran; menjadi bias antara yang fiksi dan yang fakta. Dalam puisi Latief dapat dilihat adanya kuasa wacana terhadap historisitas tertentu:

Mungkin kau pernah bertanya,

“Mengapa kekuasaan senantiasa

tak jantan: meninjam pupur debu

wajah perempuan, menjadikannya utusan,

duta politik, siasat cantik—meluluhkan

hati besi demi sejengkal tanah pagi hari?”

(Sekar Pembayun, hal.24)

Latief sebagai pengarang juga mengkritik sekaligus merefleksikan dinamika politik dari fragmen sejarah. Sekar Pembayun erat kaitannya dengan peristiwa politis antara Panembahan Senopati, Raja Mataram sekaligus ayah dari Sekar Pembayun dan  Ki Ageng Wanabaya, penguasa Perdikan Mangir. Dalam sebuah wacana, keduanya terlibat perseteruan dalam politik kekuasaan, hingga asmara tak lagi menjadi prioritas dalam kehidupan; kesetiaan bukan lagi sebuah pertimbangan. Namun lagi-lagi, historisitas dipertanyakan: Apakah Sekar Pembayun benar-benar merasa kehilangan, atau justru ia representasi kuasa Sang Ayah yang politis dan manipulatif.

Di tengah banyak kemungkinan-kebenaran inilah, Denis de Rougemont (1965: 173-186) menyatakan, bahwa sastra mengambil alih peran—di tengah kuasa wacana—sebagai penjaga nilai dan menjadikannya sarana perenungan yang tepat (a calculated trap of meditation). Sehingga, puisi-puisi yang terhimpun dalam Pada Suatu Hari yang Mungkin Tak Sebenarnya Terjadi menjadi representasi dari historitas yang selalu dipertanyakan dan direnung-renungkan. Boleh jadi, wacana historis itu benar, namun orientasi, ideologi, singularitas, dan prinsip-prinsip di dalamnya selalu dipertanyakan.

Kembali pada sejarah yang bertendensi pada bias fiksi dan fakta. Iknas Kleden (1998:5) mengatakan, bahwa ilmu sosial penuh dengan fiksi dan fakta. Fiksi dan fakta digunakan untuk menimbang kadar ‘benar’ dan ‘salah’ dalam suatu teks. Klasifikasi ini hadir sebagai perbandingan antara fakta yang dianggap kebenaran empirik dan fiksi yang dianggap rekaa; sebagai khayalan. Pada kenyataannya, ilmu kesusastraan berkembang dan saling mempengaruhi dengan realitas sosial. Hal itu menandakan, bahwa fiksi bukan sekadar omong kosong atau khayalan.

Saya teringat kembali pada perkataan Rocky Gerung—saat dia sedang viral-viralnya—, bahwa fiksi berbeda dengan fiktif. Fiksi, menurutnya, adalah energi untuk mengaktifkan imajinasi, dan itu penting dan baik. Beda dengan ‘fiktif’ yang cenderung mengada-ada. Artinya, fiksi memiliki logika dan makna. Seperti halnya dalam semiotika, kita mengenal penanda (signifier) dan petanda (signified). Dalam sebuah karya sastra, ada bahasa dan konsep yang dibangun atas dasar logika, dan terdapat lapis-lapis makna yang bertendensi pada kesadaran inti perspektif manusia. Itulah mengapa orang-orang tetap percaya pada sastra. Lagi pula, pandangan yang menyatakan bahwa fiksi hanya rekaan dan karena itu dinilai kurang berharga itu telah ditolak oleh H.B. Jassin (1983:79) yang mengatakan, bahwa melalui sastra, pengarang dapat menjalin pikiran yang tinggi dan mulia; mengisi jiwa manusia.

Mengimajinasikan Sejarah

Di sisi lain, puisi juga bersifat naratif. Ia menarasikan sesuatu, baik secara liris maupun secara imajis. Secara liris, ia mengekspresikan gagasan dan perasaannya lewat diksi atau metafor-metafor. Secara imajis, ia memvisualisasikan peristiwa-peristiwa tertentu dengan puitika yang dihadirkan. Kita bisa melihat bagaimana pengarang mengonstruk puisinya dengan mengimajinasikan tokoh-tokoh sejarah dalam puisi imajisnyayang berjudul “Halaman Terakhir Silsilah Ngayogyakarta Hadiningrat”:

Teja bathang membujur ke utara persis di atas istana

Seperti kisah panjang yang tengah diceritakan ulang

Oleh bayang-bayang sebgaai tanda isyarat

Seorang Raja Jawa telah mangkat.

……

Yogyakarta bersimpuh mencucurkan air mata

Kiai Guntur laut mengalunkan gending monggang

Menghanyutkan langut yang nglambrang

Kiai Rataplaya merengkuh dukacita

Menyeret langkah kaki yang terluka

……

(Hal. 26)

Pengarang memilih diksi “Halaman Terakhir” sebagai metafor atas fenomena wafatnya Sultan Hamengkubuwono IX. Secara subjektif, pengarang membangun wacana kritis terhadap tatanan sosial dan politik di Jogja, bahwa baginya tak ada lagi Raja Jawa setelah wafatnya Sultan Hamengku Buwono IX. Fenomena ini dilibatkan sebagai representasi dalam puisi imajisnya yang hadir dalam bentuk-bentuk personifikatif, seperti ‘Yogyakarta yang mencurahkan air mata’, ‘Kiai Guntur Laut (nama gamelan) yang mengalunkan gamelan’, dan ‘Kiai Rataplaya (nama kereta) yang merengkuh dukacita’. Meskipun hal ini sama sekali tidak merekonstruksi sejarah, namun penyair mengambil fragmen-fragmen itu untuk mempertanyakan kembali kembali nilai-nilai dianut atau emosi-emosi yang terlibat sebagai sesuatu yang mungkin tak sebenarnya terjadi.

Kita membangun sejarah kita sendiri dari memori kolektif dan perspektif yang membangun orientasi kita. Sebuah pantai atau gunung mungkin tidak memiliki nilai sejarah dari segi wacana, namun belum tentu bagi kita. Ada potongan-potongan kisah yang bisa terabadikan dalam kata-kata. Seperti halnya puisi “Srau” yang menjadikan pantai sebagai momentum bagi pengarang dalam salah satu penciptaan karyanya. Dari tempat puisi itu dibuat—Pantai Srau yang terdapat di Pacitan—, kita pun tahu bahwa puisi membutuhkan waktu untuk bersuara dan membangun bingkainya terhadap sebuah peristiwa sejarah. Ia akan menjadi sejarah atau kenangan untuk diulang dan direnungkan di kepala, baik oleh pengarang ataupun pembaca.

Keberadaan sastra dapat melengkapi, bahkan mendekonstruksi sejarah dengan karakteristik puitika yang dihadirkannya. Dalam puisi “Membaca Buku Sejarah”, kita bisa melihat eksistensi filsafat-sejarah yang berusaha memperoleh intisari dari berbagai fenomena historis yang terjadi, salah satunya peperangan yang berkutat antara benar salah, menang kalah, luka dan air mata. Namun ternyata, sejarah tidak mencatat semua orang yang mati di dalamnya. Ironi sejarah ini bukanlah hal yang baru. Hanya saja tersingkirkan karena orang-orang atau kelompok tertentu lebih suka membangun narasi ‘sejarah kebesaran’ atau ‘sejarah penaklukan’ daripada ‘sejarah kelam’ atau ‘sejarah yang tertinggal’.

Kita hadapi peperangan

Hanya untuk mendapat keterangan

Siapa benar siapa salah, siapa menang siapa kalah.

Tak ada ksatria di gelanggang

Semua berjuang demi memperebutkan.

Lalu air mata, lalu darah

Orang-orang mati yang tak tercatat sejarah

(Hal. 31)

Pada akhirnya, sastra memiliki peran yang sangat signifikan dalam menggiring sejarah. Sejarah sangat mungkin terlibat dalam kehadiran puisi sebagai karya sastra. Sejarah tidak akan mampu mencatat semuanya. Namun pengalaman, ide, logika, dan kreativitas mampu melengkapi narasinya. Kebenaran sejarah ada pada peristiwa itu sendiri—saat itu terjadi. Ketika dibahasakan, ia telah mengalami reproduksi. Sudut pandang dan naratologi bermain dengan bebas di wilayah ini. Maka, “Hakikat Rumah” sebagai halaman terakhir dalam buku puisi ini menjadi representasi pengarang terhadap liberalitas yang dibangunnya sendiri, yakni liberalitas berdasarkan hati nurani. Terakhir, saya ingin mengutip kalimat di halaman awal dalam buku terbaru Iman Budi Santosa yang berjudul Seni Mencipta Puisi: Jangan lupa terus mengasah diri. Karena mencipta puisi membutuhkan ketajaman rasa, pikir, dan hati nurani.

DAFTAR BACAAN

Casier, Ernst. 1972. The Philosophy of Symbolic Forms: Mythical Thought (Volume 2). New Haven: Yale University Press.

de Rougemont, Denis. 1965. “Religion and the Mission of the Artist,” dalam Spiritual Problems in Contemporary Literature. New York: Harper Torchbooks.

Eliade, Mircea. 1968. Myth and Reality. New York: Harper & Row Publishers.

Jassin, H.B. 1983. “Tuhan, Imajinasi Manusia, dan Kebebasan Mencipta” dalam Sastra Indonesia sebagai Warga Sastra Dunia. Jakarta: PT Gramedia.

Kleden, Ignas. 1998. “Fakta dan Fiksi tentang Fakta dan Fiksi, Imajinasi dalam sastra dan Ilmu Sosial” dalam Kalam, Jurnal Kebudayaan. Edisi 11. 1998. Jakarta

Kuntowijoyo. 2004. Sejarah / Sastra (Jurnal Humaniora Volume 16 No. 1). Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Nugraha, Latief S. 2020. Pada Suatu Hari yang Mungkin Tak Sebenarnya Terjadi. Yogyakarta: Interlude

Pollock, Thomas Clark. 1965. The Nature of Literature,ItsRelationtoScience: Languagein Human Experience. New York: Gordian Press Inc.

Sumardjo, Jakob. 1979. Elite Sastra dalam Budaya Massa. Bandung: L.K.P.L.


A Poster by Achmad Sudiyono Efendi

Ajun Nimbara
Latest posts by Ajun Nimbara (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *