Bahasa untuk Anak

Setiap calon orangtua tentu ingin melakukan yang terbaik sebelum dan sesudah kelahiran anaknya. Misalnya, memastikan ibu hamil mendapatkan asupan makanan yang sehat, tidak boleh kecapekan, memeriksa secara rutin keadaan bayi, mengikuti kelas yoga, menjaga kestabilan psikologis, menentukan tempat persalinan yang tepat sampai memilah-milah nama dan masih banyak lagi. Dari sekian persiapan tersebut, yang sebagian belum teratasi dengan pasti, saya bertanya-tanya tentang satu hal: bahasa untuk anak.

Aprinus Salam dalam catatannya, Rasa Berbahasa (dalam aprinussalam.com), mengatakan bahwa dari berbagai kecenderungan pemakaian bahasa dalam praktik kehidupan sehari-hari, kita akan tahu konstruksi “selera berbahasa” yang mana yang telah menguasai. Secara umum, katanya, terdapat tiga lapis bahasa dalam diri kita: bahasa ibu/lokal, bahasa nasional (Indonesia), dan bahasa non-lokal non-nasional (asing, dalam konteks tulisan saya adalah bahasa Inggris). Lanjutnya, implikasi dari pilihan berbahasa tersebut secara langsung juga memosisikan identitas seperti apa yang diambil.

Saya sendiri dibesarkan dengan bahasa Ibu/lokal Jawa yang bervariasi dan dalam satu momen beralih. Sejak kecil saya tinggal di daerah perbatasan‒yang secara peradaban jauh dari perpustakaan, pusat perbelanjaan dan warnet‒antara Magelang dengan Wonosobo. Bahasa percakapan sehari-sehari dengan teman-teman banyak terbawa dialek Wonosoboan. Misalnya, saya menyebut nyong, alih-alih aku. Kata tersebut setidaknya saya ucapkan sampai duduk di Sekolah Menengah Pertama.

Di kursi Sekolah Menengah Kejuruan yang berada di wilayah yang lebih kota‒meski tak bisa dibayangkan seperti halnya kota di Yogyakarta‒ anak-anak yang masih menyebut diri dengan nyong akan diejek, kurang keren, tidak gaul, ndeso begitu. Demi menjaga martabat dan ikatan  pertemanan, saya beralih ke aku. Aku wis ra nduwe duit nek arep main PS. Komunikasi seperti itu hanya berlangsung di sekolah. Ketika pulang ke rumah, saya kembali ke habitat bahasa semula. Namun, entah mengapa dengan orang yang lebih tua, bukan orangtua, saya bisa berkomunikasi dengan krama alus. Saya seminim-minimnya masih bisa menempatkan kata dhahar, maem, dan mangan/mbadog sesuai dengan mitra tutur. Meski tidak secara sengaja diajari, lingkungan saya tinggal mengondisikan untuk berbahasa Jawa, baik ngoko a la Wonosobo, Jawa agak kota maupun krama alus.

Semenjak duduk di bangku perkuliahan, komunikasi saya didominasi oleh bahasa Indonesia. Dari sini timbul kenyamanan dan belakangan saya menyadari bangga berbahasa Indonesia. Semacam ada tanggung jawab intelektual sesuai dengan bidang konsentrasi. Pelan-pelan ngoko a la Wonosobo terkikis sehingga terasa kikuk setiap kali ada kesempatan untuk berkomunikasi. Namun, bahasa Jawa Yogya tetap berjalan dan tak melupakan kebiasaan dalam momen-momen tertentu menggunakan krama alus.

Sementara itu, istri saya sejak kecil tidak berada dalam lingkungan yang mengondisikan berbahasa Jawa. Ia berpindah dari Sumatera ke Jawa Tengah (Kebumen), dan sekarang di Yogya. Bahasa Jawa tak terbawa oleh lidahnya.  Ia lebih terbiasa menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-sehari, meski kedua orangtuanya berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Istri saya sedikit banyak masih bisa memahami apabila ada mitra tutur yang berbicara dengan bahasa Jawa, tetapi tidak bisa menanggapi sepenuhnya dengan bahasa yang sama. Pengalamannya berbahasa Indonesia makin intens ketika memasuki bangku SMP dan SMA. Di bangku kuliah, ia konsen belajar dan berbahasa Inggris. Bakatnya sudah muncul sejak SMP. Di tempat kerjanya sekarang, bakatnya makin mendapat wadah karena dituntut aktif berbahasa Inggris baik dengan sesama rekan kerja maupun siswa-siswa.

Di tempat saya tinggal sekarang, Seyegan, bukan dalam ruang masyarakat perkotaan dan kelas menengah, anak-anak dan bapak-bapak dan orang yang lebih tua lagi berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Sebagian orang yang tinggal di perumahan berbahasa Indonesia, mungkin di blok perumahan lain juga sama demikian. Karena telah terbiasa sejak kuliah, dalam situasi tertentu krama alus saya sering berbaur-campur dengan bahasa Indonesia. Perasaan saya tak sampai jika harus berbahasa Indonesia secara penuh dengan orang yang lebih tua. Hal tersebut hanya berlangsung jika berhadapan dengan anak-anak. Saya merasa terlalu halus bila menggunakan krama, tetapi tak mau ngoko karena khawatir terasa ‘kasar’.

Dengan demikian, meski dengan istri saya berbahasa Indonesia (walau kadang tetap berbahasa Jawa juga), identitas ‘keluarga kecil’ saya belum siap disebut warga Indonesia modern. Ada sisi dan perasaan saya yang tertahan dalam bahasa lokal. Ikatan emosional dengan bahasa ibu tak sepenuhnya hilang. Namun, saya menyadari perasaan itu tidak kuat. Ada semacam perasaan-perasaan kompromi.

Saya sepakat dengan pernyataan Aprinus Salam bahwa bahasa Jawa memiliki kelengkapan kultural dibanding bahasa Indonesia. Bahasa Jawa memiliki kelengkapan dan detail yang memadai terhadap banyak hal, yang ditunjukkan dengan jumlah kosa kata lebih banyak dibanding bahasa Indonesia. Oleh karena itu, seminim-minimnya melalui bahasa krama, kelak anak saya perlu ambil bagian dalam kekayaan tersebut.

Selain itu, lanjut Aprinus Salam, bahasa lokal atau kelokalan akan menjaga marwah identitas kita. Bahasa lokal/Ibu yang menampung dan memelihara semua ikatan emosional dan kebudayaan kita. Namun, bakat istri saya tak mau dipendamnya sendiri. Ia ingin menurunkan kepada anaknya. Saya merasa akan ada intervensi perspektif global kepada anak. Ia akan dibesarkan di antara bahasa Ibu yang tak begitu kuat dan bahasa Inggris yang memungkinkan membuka akses kepada segala ikhwal yang non-lokal non-nasional.

Dalam konteks tersebut, bahasa lokal/Ibu menemukan sedikit masalah. Bahasa Ibu terbatas pada kelokalan sehingga mempersempit pergaulannya. Atau apakah bisa bahasa lokal/Ibu (Jawa) kemudian mengglobal. Apakah benar bahasa Inggris adalah bahasa global? Ataukah ia sebenarnya bahasa lokal yang berhasil mengglobal?

Jejak Imaji, Desember 2020


Poster dan foto: Jemi Batin Tikal

R. Ari Nugroho
Latest posts by R. Ari Nugroho (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *