Sapuan Della dan Guru Ideal

Ibarat garis, tulisan-tulisan Della tentang gambar anak dalam buku Masa Depan pada Gambar Anak (MDGA) dan Gambar Anak dan Kisah-kisahnya (GADK) menyapu ke beberapa objek sekaligus. Objek itu, baginya, tak beres, maka harus ditindas dengan garis lain, mungkin diarsis, bahkan dihapus sama sekali dan diganti dengan garis yang baru.

Objek pertama yang jadi sasaran sapuan Della adalah orangtua. Selama ini banyak orangtua siswa yang kurang suka bila anaknya menggambar. Mereka lebih suka anaknya belajar IPA, matematika, dan pelajaran lainnya (MDGA, hal.62). Menggambar belum dianggap sebagai aktivitas belajar. Belajar adalah membaca buku-buku pelajaran. Pemahaman tersebut tak sepenuhnya salah, tapi mengabaikan aktivitas menggambar juga tak bisa dibenarkan. Dari sini kemudian Della menderetkan betapa pentingnya gambar anak. Orangtua dan orang dewasa tak bisa mengabaikan begitu saja ketika anak menggambar.

Melalui gambar, anak-anak bebas menggambarkan cita-citanya. Namun, kadang orangtua membatasi cita-cita anak dalam lingkup profesi tertentu yang bertahan sekian lama, seperti dokter, pilot, dan guru. Tak ada yang salah dengan cita-cita itu, masalahnya pada pembatasan dan keinginan orangtua yang dipaksakan kepada anak. Ketika seorang anak sedang asyik menggambar, orangtua mengatakan untuk apa menggambar, mau jadi apa dengan menggambar.

Imajinasi orangtua atas pekerjaan seakan terbatas. Hal ini bisa ditengarai sebagai intervensi orangtua berdasarkan pandangan yang pragmatis dan orientatif kebutuhan pasar, alias industri. Pandangan semacam ini oleh Martin Suryajaya dalam video Pendidikan yang Membebaskan dikatakan berasal dari pendidikan linearitas yang mengarah pada spesialisasi. Pendidikan harus lebih tersambung dengan kepentingan yang dibutuhkan dalam dunia kerja, khususnya industri. Spesialisasi itu agaknya mengarah pada yang sifatnya sains dan semata teknis. Sementara itu, seni, entah itu seni rupa, suara, tari dan sebagainya tak mendapat perhatian dan tempat yang cukup.

Bahwa seni barangkali dianggap tak ilmiah, tak metodis, dan tak sistematis. Padahal seperti yang Della katakan dalam “Yang Kerap Terabaikan dalam Berkarya Seni”, berkarya seni juga seperti seseorang yang akan menulis sastra maupun penelitian, perlu mengamati, membaca, riset dan mengumpulkan segala sesuatu yang berhubungan dengan objek yang menjadi perhatian.

Pandangan tersebut bermasalah. Bahkan tak adil. Oleh karena itu, pandangan Martin soal manusia Renaisans menjadi menarik. Ciri manusia seperti ini adalah mereka intelektual serba bisa. Manusia semacam ini akan memahami dunia tidak hanya dari satu aspek. Ia mempunyai kesadaran bersikap terhadap dunia, memiliki sikap dan pikiran sendiri, dan bisa mengarahkan tindakan demi kepentingan lebih luas. Belum ada pembelahan cabang-cabang ilmu sehingga mereka bebas berkelana ke mana saja.

Maka, Della mengatakan bahwa gambar memiliki keterkaitan dengan kecerdasan intelektual dan emosional anak dalam “Mengetahui Kecerdasan Anak Melalui Gambar”, bahwa gambar dapat menunjukkan keadaan psikologis anak hingga pola asuh orangtua yang berkaitan dengan ilmu parenting, dan peran gambar anak dalam matematika. Gambar anak tak sebatas permainan dan coretan yang tak berarti. Gambar anak adalah bahasa yang sebenarnya (MDGA, hal. 102).

Pandangan tentang spesialisasi juga akan terbentur jika dihadapkan dengan pemikiran Ranciere. Manusia yang sudah terspesialisasi, atau dalam istilah Ranciere sebagai partisi atau divisi, hanya akan fokus dan mengerjakan satu hal. Ia terbatas dan dibatasi. Tatanan manusia semacam ini hanya akan menimbulkan ketaksetaraan. Manusia partisi tak disarankan mengurusi hal-hal di luar kemampuan dan kebiasaannya.

Namun, dunia yang disoroti Della menganjurkan guru seni diampu oleh guru ahli, bukan sekadar wali kelas yang merangkap. Ini sekaligus menjadi sapuan Della yang berikutnya (GADK, hal. 37). Spesialisasi (bukan dalam kerangka semata industri) dalam satu sisi menjadi penting, tetapi yang lebih penting dari itu adalah keinginan dan kesungguhan seorang untuk belajar. Apakah ia ingin menjadi manusia Renaisans yang menjelajah ke mana-mana atau manusia partisi seperti yang dikatakan Ranciere? Bila ahli dibuktikan dengan sertifikat atau ijazah, bukankah kita kerap menemukan seseorang yang sekolah di bidang A tetapi bekerja di bidang B yang dianggap tidak berkaitan sama sekali? Atau ini justru pertanda baik bahwa segala aspek kehidupan sudah cair. Aspek-aspek itu saling berkaitan dan kita bisa masuk dari arah mana saja. 

Kekhawatiran tersebut muncul ketika Della menemukan teman-teman mahasiswa Pendidikan Seni justru enggan jadi guru. Mereka lebih memilih menjadi fotografer, desainer, seniman, pengrajin, dan sebagainya (GADK, hal. 38). Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa, sebagai objek sapuan Della berikutnya, seharusnya memiliki tanggung jawab moral untuk turun tangan menjadi pendidik demi memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia. Dari lingkup paling kecil, orangtua, sampai yang lebih besar, sistem pendidikan, tak lepas dari sapuan Della.

Pendidikan usia anak-anak tak digarap dengan serius (tak dikerjakan oleh ahli dan lulusan yang masih rendah), padahal itu fase awal yang penting dan menentukan. Jadi, peringatan Hari Guru beberapa waktu lalu dan Hari Pendidikan yang sudah-sudah hanya berisi slogan-slogan tak signifikan. Peringatan itu sebagai penanda bagi pemangku kepentingan untuk mengadakan ceremony yang barangkali sudah tersusun sampai tahun 2045 dengan slogan yang berbeda seolah ada progress.

Della juga menyajikan sapuan kepada pembaca dalam urusan teknis menggambar. Asumsi dasar yang terus mendengung sepanjang tulisannya bahwa gambar anak, yang meliputi isi dan proses, penting untuk diperhatikan oleh orangtua dan orang dewasa. Dalam “Menggambar Digital Kurang Dianjurkan untuk Anak”, Della menganjurkan anak tidak menggambar dengan alat bantu digital. Hal ini membuat anak malas dan ingin serba instan. Sensitivitas anak justru akan lebih terlatih ketika menggambar manual. Anak-anak juga kurang dianjurkan menggunakan teknik dusel karena akan menghilangkan nilai artistik karya. Selain itu, menggunakan alat bantu membuat anak jadi ketergantungan (MDGA, hal. 52). Kebiasaan anak menggunakan penggaris ketika menggambar juga tak disarankan. Selama ini kegiatan menggambar lebih sering berada di kelas, Della lewat pengalamannya menyarankan agar anak diajak keluar kelas ketika ingin menggambar. Biarkan mereka bebas menggali inspirasi dan imajinasi di luar.

Ketika anak menggambar, orangtua atau guru tak disarankan mengawasi anak secara ketat, apalagi banyak bertanya tentang apa yang mau digambar. Pengawasan dan pertanyaan hanya akan membuat anak tidak percaya diri. Dalam “Ke mana Larinya Kreativitas Anak?” mewarnai berpotensi memberi dampak buruk terhadap daya imajinasi anak (GADK, hal. 36). Semua kiat di atas, sebut saja begitu, bermuara pada segala yang membatasi kebebasan anak harus disingkirkan. Anak mempunyai imajinasi yang bebas tanpa beban, liar dan spontan. Mereka perlu diberikan ruang dan kesempatan mengeksplorasi secara langsung melalui menggambar manual. Dengan begitu, anak akan memiliki kepercayaan diri terhadap tangan dan imajinasinya.

Sapuan Della dalam esai-esainya bukanlah keajaiban yang tiba-tiba turun dari langit. Sebagai pembaca, kita bisa merasakan “harapan besar” dalam sekujur tulisannya yang ditimba dari berbagai “gudang pengetahuan”. Saya membayangkan Della adalah guru ideal, bukan dalam pengertian baku, yang bisa menularkan wabah kepada guru lain untuk membicarakan dan menulis sesuatu yang digelisahkan. Keidealan Della bisa dilihat ketika ia memanggil gudang pengetahuan sepanjang tulisannya.

Della alumnus Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Yogyakarta. Persentuhannya dengan mahasiswa, mata kuliah, dan guru sangat kental. Guru yang sering Della panggil sepanjang esainya adalah Hajar Pamadhi (MDGA hal. 4, 16, 20, 34, 58, GADK hal. 37). Tampak ia sosok yang penting dalam perkembangan intelektual Della. Di SMA Della punya Pak Bakti yang berjasa pada awal mula minat menggambar (GADK hal. 6, 12, 17). Tak hanya cukup sampai di situ.

Della tanpa ada beban untuk memanggil sumber bacaannya secara melimpah ruah, tak ada nama-nama besar susul-menyusul yang membuat tulisannya, menurut Hajar Pamadhi dalam kalimat endorsement buku GADK, terasa datar. Nama-nama yang Della panggil di antaranya Viktor Lowenfeld dan Lambert Britain, Roselne Davido, Rodha Kellog, Tubagus Amin Fa, dan Dwi Maryanto. Tesis atau pernyataan-pernyataan teoretis hanya digunakan sebagai penegas. Selebihnya adalah pengalaman langsung Della ketika menemukan ketidakberesan di lapangan.

Pengalaman tersebut berkaitan erat dengan peran Della sebagai kurator dan penanggung jawab seni rupa anak di komunitas Sahabat Gorga. Sahabat Gorga merupakan komunitas nirlaba yang berpusat pada kegiatan pendampingan dalam rangka peningkatan dan pengembangan kompetensi literasi anak abad 21. Sahabat Gorga berangkat dari keyakinan bahwa setiap anak unik dan istimewa. Salah satu metode agar anak-anak mampu menulis adalah melalui menggambar (MDGA, hal. 55). Della bersama Sahabat Gorga aktif berkunjung dari satu sekolah ke sekolah lain. Saat itulah Della mendampingi, mengamati, menemukan pola masalah seputar semesta gambar anak. Ia memilih dan memilah itu, merajutnya dengan pengalaman, dan menegaskan melalui akumulasi sumber bacaannya.


Poster: Kurniaji Satoto

R. Ari Nugroho
Latest posts by R. Ari Nugroho (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *