Kepongkeran

Aku titip malam-malam yang sempat hadir

Menjamu dirimu sebelum lenyap

Aku hadir bersama protein

Bersama karbohidrat

Bersama vitamin untuk tubuhmu yang lemah

Aku lenyap

dan kau pun termegap-megap

          Trisno terbangun dari lelapnya. Mimpi-mimpi yang selalu menghantui membayangi setiap waktunya. “Sialan. Siapa sebenarnya pelaku kekejaman ini?” Trisno membatin setelah bangun. Suara bisik-bisik tetangga dari atas 2berugaq. Mereka menikmati kopi bersama sebuah gunjingan. Desas-desus pengusaha tambang pasir di tengah sawah berkeliaran di tengah warga. Ada yang bertanya. Ada yang mengira.

          “Trisno? Trisno?”

Suara si ibu memanggil dari belakang rumah. Sementara si bapak masih di dalam kamar. Ia tengah sibuk dengan telefon genggam yang baru dibelinya. Si bapak meraba-raba seluruh bagian barang yang baru saja dibelinya dari toko elektronik di depan pasar.

          “Trisno? Cepat bangun dan bantu ibu!” Si ibu kembali memanggil.

          “Ya bu…… Sebentar!” Trisno terperanjat kemudian segera menuju ke belakang. Matahari mulai terbit. Beberapa ekor ayam di dalam sangkar, berkokok. Burung yang dipelihara Trisno juga tak mau kalah. Mereka meneriaki tuannya.

          “Ada apa bu?”

          “Sudah hampir siang baru bangun. Tak sembahyang subuh?”

          “Sudah bu. Sembahyang dulu tadi, lalu tidur lagi”.

          “Nah…… Makanya sudah ibu bilang. Jangan terlalu larut malam tidur. Kalau sudah malam, tak ada hal penting yang mesti dikerjakan, istirahat saja”.

          Trisno menarik napas. Tak ada jawaban. Ia segera mengambil dedak yang bercampur nasi. Setelah itu, satu-persatu ayam peliharaannya mendapat giliran sarapan pagi. Matahari mulai meninggi. Setelah ayam dan burung peliharaannya diberikan pakan, Trisno segera menuju tengah sawah. Pada sebuah sawah yang ia sewa dari seorang tetangga, Trisno memelihara ikan nila. Setiap hari, kesibukannya menjadi-jadi.

          Tiba di tengah sawah, Trisno mendapat telepon dari kawannya.

          “Hallo Trisno?”

          “Ya bagaimana, Bri?” Trisno menimpali.

          “Besok pagi, ada undangan rapat di balai desa”.

          “Rapat untuk membahas apa, Bri?”

          “Informasinya membahas masalah tambang pasir di tengah sawah. Kita mesti hadir, Trisno”.

          “Baik. Besok kita hadiri. Oh ya, nanti malam, aku tunggu di rumah. Ada hal yang perlu aku sampaikan terkait musyawarah besok pagi.”

          “Wah menarik. Siap. Nanti kita bertemu.” Trisno segera menutup pembicaraannya. Ia menaburi pakan  ke tengah kolam. Ikan-ikan berebutan.

          Malam tiba. Trisno dan Sabri tengah duduk di atas berugaq miliknya. Sepiring ubi rebus dan dua cangkir kopi tengah menemani perbincangan mereka. Para warga telah lelap, sementara malam belum juga larut. Setelah seharian penuh di tengah sawah, mereka segera menutup malam dengan salam perpisahan. Para petani berjanji bahwa besok pagi mereka akan kembali.

          “Kita belum tahu, siapa sebenarnya dalang aktivitas tambang pasir yang terjadi di tengah sawah itu, Tris”.

          “Sama. Aku juga belum tahu persis. Tapi dengar-dengar, ada keterlibatan orang-orang yang sadar hukum di situ”.

          “Maksudnya? Sadar hukum, tapi malah merusak ekosistem sawah. Desa juga sudah punya PERDes tentang pelarangan tambang pada lahan sawah, Tris. Masa orang macam ini dikatakan sadar hukum?”

          “Maksud aku begini, Bri. Mereka yang membuat aturan, malah mereka yang melanggarnya. Itu maksudnya sadar hukum.”

          “Jika begitu, siapa kira-kira, Tris?”

          “Kita mesti introgasi semua pengusaha yang diundang besok pagi. Yang jelas, kita persiapkan segalanya yang tentu saja sebagai bentuk perlawanan untuk mereka. Kita punya beberapa poin untuk mendobrak kekeliruan ini, Bri. Jadi selain aturan dari pemerintah pusat, lebih-lebih peraturan dari desa dan 3awig-awig, jelas membuktikan bahwa kita berada pada jalur yang benar. Dan aku pikir, para pengusaha ini tak mungkin dengan begitu saja melakukan kegiatan tambang. Pasti ada saja orang di belakang layar. Aku yakin, Bri.”

          “Tempo hari, aku melihat orang-orang ramai di sekitar pematang sawah. Mereka memaksa agar aktivitas tambang tersebut dihentikan.”

          “Terus bagaimana kelanjutannya? Warga berhasil menghentikan?”

          “Berhasil, Tris. Warga berhasil memaksa operator buldoser menghentikan kegiatannya.”

          “Mudah-mudahan saja, wartga tetap pada pendiriannya.”

          “Maksudmu, Tris?”

“Yang aku khawatirkan, jika warga dibungkam dengan sesuatu”

          “Dengan sesuatu apa, Tris?”

          “Nanti, kamu akan tahu. Pengusaha setiap saat punya akal untuk meluluhkan hati warga.”

“Mudah-mudahan saja warga tetap menolak, Tris”.

          Percakapan malam itu ditutup dengan suara lolongan anjing. Beberapa warga lalu-lalang. Mereka mendapat tugas berkeliling melihat situasi perkampungan. Lampu-lampu di pinggri jalan dipenuhi laron. Suara burung malam yang hinggap di atas pohon, berbunyi beberapa kali. Menunggu hujan yang lama tak pernah turun.

          “Trisno? Buldoser kembali mencakar tanah sawah.” Seorang warga mendatangi Trisno. Ia menyampaikan laporan tentang merebaknya kembali aktivitas tambang yang terjadi di tengah sawah setelah sebelumnya warga melakukan penolakan.

          “Sudah aku duga sebelumnya. Pengusaha memang punya beragam cara untuk meluluhkan hati warga. Ayo kita periksa bersama!” Trisno segera mengambil lampu senter. Setelah itu, mereka bergegas menuju arah selatan pada sebuah sawah. Dari kejauhan, Trisno melihat lampu berjejeran di atas pematang sawah. Sementara itu, gigi-gigi besi buldoser mencakar dengan ganasnya.

          “Lihat itu! Siapa yang ada di atas buldoser”. Trisno mengarahkan telunjuknya ke atas buldoser.

          “Itu Pak Bhabinkamtibmas, bukan?”

          “Tepat sekali. Tak ada yang keliru.” Berjarak beberapa meter, Trisno mendokumentasikan aktivitas malam itu. Ia melihat Pak Bhabinkamtibmas begitu lihai mengarahkan gigi-gigi besi pada tanah yang masih lapang. Sementara itu, beberapa truk pengangkut pasir berdatangan. Malam hampir larut. Aktivitas malam itu, tak ada yang tahu karena jarakanya cukup jauh dari perkampungan warga.

          Pagi menjelang. Trisno mulai sibuk dengan rutinitasnya. Setelah sarapan pagi, Trisno menuju balai desa untuk menghadiri musyawarah. Ia telah siap membuka. Menjelaskan semua pada warga yang masih bersikukuh menolak aktivitas tambang pada lahan sawah. Mereka tengah mencari dalang di balik kekeliruan yang telah lama terjadi di desanya.

          “Bapak dan ibu sekalian. Musyawarah pagi ini kita mulai dengan pembahasan galian C yang terjadi di tengah sawah”. Bapak Sekretaris Desa membuka musyawarah dengan memaparkan awal mula hingga munculnya gejolak yang disebabkan adanya tambang pada lahan sawah warga.

          “Pecat Pak Bhabinkamtibmas. Ganti. Usir. Pecat Pak Bhabin. Ganti. Usir.” Dari luar balai desa, puluhan warga juga berkerumunan. Mereka bersikukuh agar dalang aktivitas tambang segera dicopot dari jabatannya.

          “Dengarkan suara warga Pak Sekdes! Dengarkan! Sebenarnya sudah lama, mereka tahu tentang siapa sebenarnya orang yang berada di balik layar. Di waktu ini juga bapak dan ibu sekalian, izinkan aku membuka diskusi dan memberikan argumen yang akan membuka pikiran kita semua tentang siapa sebenarnya yang berdiri di balik layar”.

          Trisno segera mengeluarkan telepon genggambnya. Ia memutarkan video berdurasi sepuluh menit. Dalam video yang tengah diputar, para peserta musyawarah melihat dua orang yang begitu mereka kenal. Pak Bhabinkamtibmas dan Sekretaris Desa tengah ikut mengendarai buldoser yang masih mencakar lahan warga dengan ganasnya. Mereka tertawa terbahak-tabahak.

          “Jadi jelas? Musyawarah malam ini, tak perlu lama-lama. Kita sudah tahu orang-orang yang terlibat. Dan tentu saja, sesuai keputusan rapat yang tertuang dalam Peraturan Desa, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas tambang pada lahan produktif, harus segera angkat kaki dan melepas jabatannya. Nah, silahkan Pak Bhabin dan Pak Sekdes! Tak Perlu diperintah warga. Tak perlu menunggu amarah warga. Memang selama ini, Anda berdua yang selalu membuat gaduh para warga. Mulai dari kasus corona sampai hari ini, Anda berdua ini memang dalangnya. Cepat keluar!”

          Para warga mendobrak gerbang balai desa. Mereka segera menyerobot masuk ke dalam musyawarah. Setelah itu, dua orang diseret keluar dari balai desa. “Ini dia….. Ini dia….. Orang yang bersembunyi dengan topengnya. Copot mereka dari jabatannya. Ganti…… Ganti….. Copot….. Copot…. Gantiiiiiiiiiiiiiii”.


1Kepongkeran                 : Ketahuan

2Berugaq                        : Balai bengong (sekepat), sebuah rumah panggung bertiang bambu dan beratap daun jerami.

3Awig-awig                     : Hukum adat


Poster oleh Pratomo Bangun (Ig: @jagalaut)



Latest posts by Randa Anggarista (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *