Sastra Remaja: Antara Kanonik dan Populer

Permasalahan dalam dunia sastra akan banyak ditemui jika terus digali. Salah satu masalah dalam pendidikan sastra di Indonesia adalah persoalan bahan bacaan. Selama ini bahan bacaan yang beredar atau yang berada di perpustakaan sekolah setidaknya terbagi menjadi dua tipe. Pertama, bahan bacaan yang kanonik, berupa karya sastra besar dan serius. Kedua, bahan bacaan populer. 

Karya sastra tipe pertama, memicu anggapan bahwa sastra itu sulit dan menjenuhkan. Sedangkan bahan bacaan tipe kedua tersebut, bersifat bacaan populer yang beragam jenis dan kualitasnya, namun juga sangat banyak di antaranya merupakan bahan bacaan yang kurang sesuai bagi perkembangan psikologi anak seusia remaja. 

Untuk itulah, perpustakaan sekolah memiliki peran dalam menyeleksi kualitas bahan bacaan yang dimiliki. Salah satu cara yang dapat dilakukan dengan mengenalkan kembali sastra remaja, mencermati kembali kriteria penyediaan bahan bacaan yang tepat, khususnya fiksi serta kemudian memilih bahan yang sesuai dengan kebutuhan siswa.  

Sastra Remaja Sebagai Bahan Bacaan

Dalam menentukan bahan pengajaran tidak semua karya sastra dapat disajikan. Penyediaan fiksi remaja yang layak bagi siswa harus disesuaikan dengan beberapa aspek, yakni aspek estetis, aspek psikologi, aspek ideologis, dan aspek pendagogis (Moody, 1971; Sarwadi, 1974; Wardani, 1981).

Segi Estetik, artinya karya yang dimaksud adalah karya sastra yang memilki nilai keindahan. Segi Psikologis, artinya fiksi yang diberikan disesuaikan dengan tingkat perekembangan kejiwaan siswa. Dalam kasus anak SMA, tahapan kejiwaan telah sampai pada fase generalisasi, yakni memiliki kemampuan untuk menganalisis segala hal dalam kehidupannya, bahkan kecenderungan untuk berfikir filosofis itu besar kemungkinannya. 

Segi Ideologi, artinya bahan pengajaran tersebut tidak bertentangan dengan dasar pendidikan nasional. Segi Pedagogis, artinya karya sastra sebagai bahan bacaan diharapkan secara potensial dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan cipta, rasa, dan karsa para siswa secara positif. 

Di samping itu terdapat aspek lain seperti rasa keagamaan/religius, sense, kesadaran, sosial, dan lain sebagainya. Apabila ada aspek lain di luar itu, misalnya sebuah karya sastra mengandung unsur pornografis, maka karya tersebut dari segi pedagogis tidak layak dijadikan bahan ajar.

Terkait hal di atas, Aprinus Salam pernah menekankan pentingnya memilih bahan bacaan yang mencerdaskan bagi siswa. Menurutnya, karya sastra yang mencerdaskan adalah karya sastra yang memberi informasi, mengayakan pengalaman, memberikan pemahaman-pemahaman baru, memperbaiki kesadaran yang tidak benar (kesadaran palsu), dan secara keseluruhan adalah karya sastra yang mampu mengeksplorasi persoalan kemanusiaan. 

Dengan demikian, karya sastra itu juga harus jeli mengangkat persoalan masyarakat Indonesia. Seperti halnya karya yang berbicara tentang masalah-masalah kriminalitas dan kekerasan, membongkar kebusukan politik, lemahnya kesadaran hukum, sebab-sebab kemiskinan dan kebodohan, kiat-kiat mengembangkan karakter dan karier, dan sebagainya sebagai bagian dari sastra yang mencerdaskan (Salam, 2008).

Harapan besar Salam tersebut dilandasi oleh bertebarannya karya sastra populer yang menurutnya kurang memberikan nilai pendidikan dan hanya mengurai kehidupan perkotaan. Keresahan terhadap jenis fiksi pop demikian pantas dirasakan, namun—dengan maksud sebagai solusi—menghadapkan siswa pada karya sastra yang berisi persoalan-persoalan serius seperti itu bukanlah jawaban tepat. Masalahnya jelas terletak pada kemauan dan daya serap siswa Indonesia. 

Ada wilayah lain yang kurang menjadi pertimbangan, yaitu dunia sastra remaja yang seharusnya dekat dengan anak itu sendiri. Tahap usia itu, siswa semestinya diberikan kesempatan selauas-luasnya untuk ‘mengenal’ karya sastra yang sesuai dengan kehidupannya. Dengan cara tersebut, di samping menumbuhkan minat siswa terhadap membaca, karya sastra dapat memberikan kisah atau cerita yang dapat menjadi solusi bagi segala problematika peristiwa hidup remaja. 

Sebagai bahan pertimbangan, selama ini pembelajaran sastra di sekolah-sekolah menengah adalah sastra Indonesia versi fakultas sastra, versi majalah kebudayaan dan majalah sastra, versi jurnal serius, versi penerbit idealis, dan versi seniman anti sastra populer. Hal tersebut dapat dipahami bahwa perhatian terhadap sastra remaja sangatlah sedikit. Sebuah realitas yang mengucilkan dan merendahkan sastra remaja (Atikah, 2010). 

Sastra remaja secara fundamental memuat dua hal; pertama, untuk menggiring para remaja memasuki wilayah sastra Indonesia. Proses ini memerlukan waktu yang cukup panjang. Pada tahap awal, tidak dibutuhkan sikap bersikeras memaksa generasi sekolah menengah untuk mengenal secepat mungkin sastra Indonesia. Justru tahap awal ini diperlukan sastra remaja, yang dibahasakan oleh mereka sendiri; kedua, memposisikan sastra remaja sebagai dunia yang diakui keberadaanya. Dengan cara ini diharapkan siswa mampu memaknai pembelajaran sastra dan mereka sadar bahwa sastra dapat memberikan manfaat dalam kehidupannya.

Oleh karena itu, dari dua pandangan tersebut, ada indikasi bahwa bacaan sastra bagi siswa sekolah menengah berada pada persimpangan antara bacaan serius, yang kanon, dengan bacaan populer (namun yang khas remaja). 

Dalam situasi demikian, sudah seharusnya kita mengembalikan pada hakikat sastra remaja sesungguhnya. Sastra remaja adalah sastra remaja, yang memiliki kekhasan remaja, baik dari isi maupun dari segi bahasa. Memilih bahan bacaan yang tepat dapat memantu siswa untuk mula-mula menyukai membaca terlebih dahulu, mengingat daya baca siswa kita belum seutuhnya terbina dengan baik. 

Jejak Imaji, 2019

Esai ini pernah tersiar di Harian Rakyat Sultra 13 Mei 2019


Poster : Pratomo Bangun

Angga T Sanjaya
Latest posts by Angga T Sanjaya (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *