Orang-orang di Kepala Balam

Setelah menujah bapak, Balam tertegun. Pisau dodos ia buang ke semak-semak belakang rumah. Dua puluh menit lagi ibunya akan pulang dan berteriak jika melihat suaminya sudah menjadi mayat dengan bekas luka tertujah di leher, dada, dan perut bersimbuh darah. Tentu ibu akan melapor Balam pada polisi atas pembunuhan. Balam akan digiring ke kantor polisi, ia akan dihujani pertanyaan, terus ditekan hingga akhirnya dihukum penjara belasan tahun atau bahkan seumur hidup.

“Ah, Taek!” Balam tersentak dari lamunan. Ia lihat bapak sudah mati, pisau dodos ia buang ke semak-semak belakang rumah, cepat ia menyeret mayat itu ke belakang. Dengan tali tambang Balam teliti mengikat sebuah batu besar di tubuh bapak.

Sungai yang berjarak beberapa meter dari rumah dipandang Balam cukup lama, airnya deras tak akan mampu membuat mayat tenggelam, tak butuh waktu lama pasti akan terbawa arus dan tidak lama mayat itu akan mengapung dan dilihat orang. Orang jadi geger setelah penemuan mayat, tak lama pula Balam akan diringkus dan dijatuhi hukuman seumur hidup.

“Ah, Taek!”

Balam tersentak dari lamunan. Balam lihat bapak sudah mati, pisau dodos ia buang ke semak-semak belakang rumah, cepat ia berlari ke warung membeli minyak tanah, ia lumuri mayat bapak. Balam membakarnya sampai tak tersisa, dengan begitu bukti bisa hilang, ia tidak akan bisa ditangkap polisi, dengan begitu orang-orang akan mengira bapaknya sudah hilang dan bukan mati di tangan Balam.

            Saat api membesar, beberapa orang mendekati Balam.

            “Kenapa kau buat api siang-siang?”

            “Sudah kau jangan banyak tanya, taek!”

            “Kenapa kau tampak gelisah?”

            “Taek kau, taek!

            “Apa yang kau bakar, Balam?”

            “Taek! Kimak jangan banyak tanya!”

            Orang-orang akan curiga dari bau api yang janggal, orang-orang bisa tahu apa yang dibakar dari bau yang menyengat. Orang akan lapor polisi. Saat api dipadamkan, saat itu pula Balam hendak melarikan diri justru malah menimbulkan kecurigaan yang serius. Orang-orang akan menahan Balam sampai polisi datang, lalu Balam dihujani pertanyaan. Saat Balam gugup dalam menjawab, polisi dapat membuktikan ada potongan tubuh yang belum lebur terbakar, maka Balam akan diringkus ke kantor polisi dan dihantam berkali-kali sampai akhirnya nanti dihukum seumur hidup.

            Balam tersentak dari lamunan. Balam lihat bapak sudah mati, pisau dodos ia buang ke semak-semak belakang rumah, Balam pergi melarikan diri, ia tak peduli mayat akan membusuk dan bisa ditemukan orang.

Orang jelas akan mencurigai Balam dan tidak butuh waktu lama poster mukanya akan terpampang di setiap sudut dusun dengan tulisan; buronan. Balam dihantui kegelisahan, sirine polisi serasa kiamat baginya, keramaian orang serasa neraka baginya.

“Ah, Taek!”

Balam tersentak dari lamunan. Balam lihat bapak sudah mati, pisau dodos ia buang ke semak-semak belakang rumah, ia gali lubang sedalam mungkin di samping, ketika suasana sepi ia akan masukkan mayat bapak ke dalam lubang dan mulai menimbunnya. Dengan begitu Balam akan aman dan tak ada lagi jejak ia sudah membunuh. Tetapi bagaimana kalau pisau dodos yang dibuangnya di semak-semak ditemukan orang, darah yang membekas di sana akan berbeda dengan darah binatang. Orang-orang tentu akan curiga, apa lagi ditambah sudah berhari-hari tidak melihat bapak Balam keluar dari rumah, pisau dodos yang berdarah tentu akan dikait-kaitkan dengan kehilangan bapak Balam, dengan hujan pertanyaan orang-orang yang penasaran tentu Balam akan bingung dan tampak gelisah sendiri, saat itu pula kebusukannya akan tercium oleh orang.

            “Di mana bapak kau?”

            “Taek kau!”

            “Kenapa kau belakangan sering gelisah?”

            “Taek! Jangan banyak tanya.”

            Setelah mayat dikubur, Balam mencari pisau dodos yang ia buang. Tidak lama pula ibunya sudah pulang mengucapkan salam, Balam kaget.

            “Apa yang kau cari?” tanya ibunya.

            “Tidak ada.”

            “Tidak ada, kenapa di situ?”

            “Tidak ada.”

            “Tidak ada kenapa terlihat ada.”

            “Tidak ada. Jangan banyak tanya.”

            “Di mana bapak?”

            Pertanyaan di mana bapak, membuat wajah Balam pucat seperti kapas, darahnya pasti dingin dan ia mulai gemetaran, sekali lagi pertanyaan itu diulang Balam mati di tempat. Ia akan ingat bagaimana muka bapak terbujur kaku setelah ditujahnya dengan pisau dodos, sobekan di leher, dada dan perut yang bersimbuh darah. Sebelum ibunya meyakinkan ada kejanggalan, tak sengaja ditengoknya pisau dodos tak jauh dari Balam berdiri.

            “Apa itu? kok ada darahnya?”

            Muncul pertanyaan itu, tanpa berpikir ulang, Balam pun melarikan diri terpontang-panting, ia tidak akan menghiraukan ibunya yang disambar gelisah. Ia akan menembus segala medan. Tetapi untuk melarikan diri di dusun ini tentu akan membuat orang curiga, karena tidak biasanya Balam anak yang pendiam berlari ketakutan melewati pohon-pohon dan rumah gubuk. Orang yang melihat tentu tergoda untuk mencari tahu ada apa dengan anak itu. Semakin orang mengejar Balam, semakin pula Balam ketakutan dan terus berlari.

            Orang-orang menangkap Balam tentu akan bertanya.

            “Kenapa kau berlari?”

            “Taek kau!”

            Setelah orang berkerumun membantainya dengan pertanyaan, di situlah muncul ibu Balam membawa pisau dodos yang masih berdarah, di situlah nanti Balam dimintai penjelasan, dan tidak lama Balam akan mengakui semuanya, sebelum melapor polisi tentu orang-orang geram, hujan pukulan pun akan bersarang ke tubuh Balam sampai babak belur. Belum lagi di kantor polisi, tentu ia juga akan mendapat jatah hantaman di sana, sebelum akhirnya dijatuhi hukuman seumur hidup. Ibu tentu tidak rela menjamin Balam karena membunuh.

Balam tersentak dari lamunan. Ia tutup lagi lubang yang digali. Datang seorang tetangga mendekatinya.

            “Kenapa sudah kau gali kau tutup lagi lubang itu?”

            “Taek!”

            Balam akan berlari. Orang yang ditinggalnya bersama jawaban taek akan terheran-heran menatap keanehan Balam. Karena bingung tak tahu akan melarikan diri ke mana, Balam menyerahkan diri ke kantor polisi, ia akan mengakui semua perbuatannya yang sudah menujah bapak. Ia akan mendapat keringanan karena mengakui kesalahan.

            Polisi tentu akan bertanya, apa alasan Balam menujah bapaknya? Balam tidak bisa menjawab. Balam diam, selagi diam pukulan pun melayang di wajahnya. Balam akan babak belur sebelum ibunya datang menyusul untuk mengutuknya di hadapan polisi.

            “Beri saja dia hukuman mati!” kutukan itu bersarang di telinga Balam.

Balam tersentak dari lamunan. Balam lihat bapak sudah mati, pisau dodos ia buang ke semak-semak belakang rumah, Balam tak tahan menangis, ia panjatkan doa dan segudang rasa penyesalan. Saat tubuhnya bersimbah air mata, ibunya pulang, karena sudah lebih dari dua puluh menit. Ibunya berteriak histeris melihat suaminya sudah terbujur kaku berlumur darah.

            “Kenapa Bapak?” tanya ibu.

            “Aku tidak tahu.”

            “Kenapa bisa terjadi?”

            “Aku tidak tahu, Bu! Aku pulang dia sudah tergeletak!”

            “Kalau begitu kita bawa ke rumah sakit!”

            “Dia sudah mati!”

            “Kalau begitu, panggil Pak RT.”

            Balam berlari dan datang lagi bersama Pak RT.

            “Kenapa dia mati?” tanya Pak RT.

            “Aku tidak tahu, aku dan Balam pulang dia sudah mati!” jawab ibu.

            “Perlu polisi?”

            “Tidak perlu, polisi datang hanya merumitkan masalah.”

            “Tapi ada luka tujah di situ.”

            Pak RT mendekat dan melihat jelas luka tujahan di leher, dada, dan perut.

            “Tidak ada saksi, polisi akan menuduh yang bukan pelaku untuk menjadi pelaku,” jawab ibu, pasrah.          

            “Betul juga. Kamu ikhlas?”

“Aku dan Balam ikhlas.”

“Kenapa ikhlas?” Pak RT sedikit curiga.

“Mungkin ini karma untuknya, setiap malam pulang mabuk dan memukul anak istri, Pak RT tahu sendiri, lebam ditubuhku dan Balam selalu bertambah setiap hari.”

“Saya tahu. Hampir setiap malam saya dengar!”

“Dan itu bukan mengada-ngada.”

“Saya tahu, beberapa kali warga juga lihat dia orang kasar.”

“Inilah karma untuk dia, kami akan ikhlas dan tidak akan mengungkit-ungkit ini.”

“Kalau begitu, bersihkan. Panggil orang-orang, mandikan dia. Besok kita kubur.”

Esok harinya bapak diyasinkan, orang-orang ramai berdatangan. Setelah disolatkan mayat dikubur. Balam selamat dari kasus pembunuhan, namun tak pernah selamat dari hantu bapaknya sendiri yang setiap malam datang memberikannya kado pisau dodos di dalam kotak emas berpita merah. Setiap bangun tidur Balam selalu berkeringat dan pucat. Ia tidak bisa melawan trauma yang membekas itu. Terlebih suara tujahan yang berulang-ulang ia dengar begitu dekat; jleb, jleb, jleb.

            Suatu hari ketika Balam sedang santai di depan rumah, ibu pun pulang membawakan hadiah untuknya. Dengan bahagia pula Balam membuka hadiah itu di depan ibu. Sepucuk pisau dodos ada di dalamnya. Ibu tersenyum dan Balam tertegun menatap pisau dodos itu.

            “Ini musim sawit, kamu harus mendodos,” ucap ibunya dengan senyum.

            Mata Balam bulat besar memandang muka ibu yang lama-lama berubah seperti muka bapaknya yang pucat kaku, tubuh itu lama-lama bergetar pula mengeluarkan darah, baju itu sobek perlahan-lahan dan membentuk luka di bagian leher, dada, dan perut. Persis seperi mayat bapak saat itu.

            “Ah, taek!” Balam tersentak dari lamunan. Balam lihat bapak sudah mati. Balam ingin buang pisau dodos ke semak-semak belakang rumah. Tapi terlambat, karena ibu sudah datang mengucap salam, sigap pisau dodos Balam tujahkan ke tubuh ibu, jleb.

“Ah, taek!”***


Poster: Jemi Batin Tikal

sumber gambar poster: mydepressiontets.com

Beri Hanna
Latest posts by Beri Hanna (see all)

2 Replies to “Orang-orang di Kepala Balam”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *