Fragmen-Fragmen Rindu Buat Abah dan Puisi-Puisi Lainnya

FRAGMEN-FRAGMEN RINDU BUAT ABAH

—untuk Abah, Mohammad Mislan Ahmadi

/di surau

Di surau itu, gertak lantang suaramu,

serta dentum tabuh bedugmu,

pernah menciutkan nyalang nyaliku.

Tatkala lidahku masih terlalu kencur,

untuk kau minta mengeja lentur

rangkaian huruf-huruf hijaiyah,

pada lembar-lembar qurandi mana

titik-titik air mataku jatuh berjelempah.

Barangkali kau memang lentera,

tak pandang pilih pada sesiapa

dalam memberi secercah cahaya.

Sebab bagimu, menerangi adalah jalan hidup

yang musti kau tempuh, seperti lenguh udara

yang jika tak kau hirup, kau bisa binasa.

/di rumah/

Gahar di gambar wajahmu seolah sekadar pupur

yang begitu kau basuh, seketika itu luntur.

Kau kelembutan yang tak kuasa diejawantahkan

makna gandul di syatar-syatar kitab kuning gundul.

Waktu aku kebingungan menjawab

soal-soal PR Agama, kau alamat utama,

tempat paling selamat di mana “tanya”

akan kutujukan kali pertama.

Ketika kudaras quran sambil disimak Ibu,

kau sering tiba-tiba melintas, berdeham sambil berlalu,

manakala telingamu dengar sepintas bacaanku

tak tepat makhraj hurufnya, atau

tak benar hukum-hukum bacaannya.

/di kalangan/

Ketika kau hendak mengajakku ke sebuah acara,

entah sekadar pengajian, majelis zikir,

atau undangan yang lain, sering kuamati

kau pandai mematut diri: memadukan

setelan jas dan pantalon, sepotong kemeja,

sorban atau sarung bercorak apa akan kau pakai.

Kau bilang, manusia memandang manusia lain

sebagaimana cara kerja kompas,

penampilan yang baik adalah utara

bagi jarum arah yang tertanam di kepala mereka.

Kau piawai mengatur waktu, upaya jitu

agar kau tak datang terlambat.

Sebagaimana kau terampil mengatur napas

ketika musti kau tanjaki nada tinggi

kemudian turun curam ke nada rendah,

manakala kau tembangkan syair-syair kasidah.

Ketika kau bicara, mendedah petuah,

wasiat dan nasihat yang sesekali kau nukil

dari potongan hadits dan ayat,

seperti kucium wangi kayu gaharu

menyeruak dari dalam mulutmu.

Mereka menciumi tanganmu,

seolah di sana tersemat wangi cendana,

atau sesuatu yang lebih harum daripada doa.

/di perbincangan kita/

Ke mana kau tanggalkan jubah wibawa,

lantang gertak, juga gahar di raut wajahmu,

ke mana kau sembunyikan segala itu?

Kau menjelma kawan yang karib,

tahu di mana harus menyimak atau bicara,

paham kapan pantas diam atau menyela.

Di gelap goa buntu masalah hidupku,

sering kau menjelma teman sambat yang bijak,

begitu mengerti arah jalan keluar terletak.

Kau julang menara api di pulau kecil tengah laut,

atau wilayah berkarang di areola maut,

agar aku tak terdampar di perairan maha dangkal,

atau karam di hantam karang sial menjemput ajal.

/di rantau/

Kau adalah jarak yang ingin kupangkas,

ketika di dalam koporku,

berlipat-lipat rindu tak muat lagi kukemas.

/di kesunyianku/

Kau adalah puisi, yang kurangkum

di bait terakhir fragmen ini:

“Bila ada yang lebih pantas dituntut balas

selain dendam yang merah, barangkali

itulah rinduku padamu, Abah!

Itulah rinduku, padamu!”

Malang, 2020


PADA SUATU PAGI KETIKA KOTAMU

TELAH JADI KOTA TERLARANG

Di kamar tidurmu yang lembab dan sunyi,

Kau lihat kurva kematian itu melonjak tinggi.

Matamu seketika mendelik

—mewartakan hidup yang semakin pelik.

Tetapi, masih saja kau tak percaya pada angka yang tertera.

Lalu dengan jari-jari segesit menjangan,

kau mencari-cari berita yang tak mengasapi mata,

yang tak mengisap riang di ruang kepala,

pada berbagai media yang kabur kebenaran kabarnya.

Kesia-siaan yang kau temukan, pada akhirnya menjelma sepasang lengan

yang mengusap kepalamu dengan lembut.

Agar kau dapat terpejam sejenak meluapkan kalut,

melupakan maut dan rasa takut.

Ke esokan harinya, kau terbangun pada suatu pagi

dengan secercah kicau burung di hati.

Barangkali, ketakutan telah menyublim seperti kapur barus,

bersama mimpi pulang ke kampung halaman

dalam tidurmu yang sangsai.

Tetapi hari itu, kotamu telah menahbiskan diri jadi kota terlarang.

Dari empat penjuru mata angin, telah disegel segala pintu gerbang.

Kau berhambur ke arah jendela, dan melihat

burung-burung pemakan bangkai terbang berputar dengan formasi berantai

bagai mencium harum aroma mayat.

Kau segera meringkuk dalam balut selimut,

menahan gigil yang mencokol di kelompang lututmu.

Ketakutan telah dicanai hingga demikian runcing,

persis paruh burung bangkai yang siap menukai lehermu.

Di saat yang sama, orang-orang serentak melubangi isi kepala,

sebab percaya bahwa keberanian dibentuk

ketika akal telah mereka buang sejauh-jauhnya.

Lihatlah!

Di leher mereka terkalung berton-ton rasa putus asa.

Barangkali kotamu telah menahbiskan diri menjadi kota terlarang.

Dari empat penjuru mata angin, telah disegel segala pintu gerbang.

Tetapi, ada yang diam-diam memicingkan mata,

mengawasi gerak-gerikmu senantiasa

bagai sekawanan burung bangkai di atas langit-langit kota;

ada yang menyeringai serupa serigala,

memantulkan gambar kematian di ujung runcing taringnya.

Malang, 23 Mei 2020

*) Puisi ini pernah menjuarai Lomba Menulis Puisi Nasional Jagat Kreasi Mahasiswa 2020 yang diselenggarakan oleh Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang


KARENA KAU PUISI

: Sapardi Djoko Damono

Hari ini, lini masa sosial media

semasih berjubel dengan postingan duka—yang abadi?

Beberapa orang yang beruntung sempat bertemu kau

semasa hidup, mengunggah sejumlah foto

lengkap dengan sajak kehilangan yang kalut.

Meski aku tak punya foto kita, tetapi

dalam doaku pagi ini, kau menjelma burung gereja

yang mengibas-ibaskan bulunya di gerimis dada.

Yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,

yang tiba-tiba gelisah, terbang, dan lalu hinggap di bait-bait sajakku.

Pada sebuah sajakmu aku ingat,

kau pernah berkata bahwa,

“untuk mencintai angin harus menjadi siut,

untuk mencintai air harus menjadi ricik,”

Aku mencintaimu! Karena kau puisi,

maka biarkan aku mengharuskan diri

menjadi duka paling sunyi!

Malang, 2020


DI PALUNG PALING SUNYI

Sering aku membayangkan

matamu sebagai samudera,

Dan aku sekawanan lumba-lumba

yang menyanyikan lagu-lagu senja.

Sering pula kubayangkan

rambutmu sebagai kelam langit di malam hari,

Dan aku jadi rembulan, tersipu di balik

gemelung awan menari-menari.

Sering aku membayangkan

hidungmu yang runcing adalah pepucuk daun

di lengan ranting, dan aku hangat sinar mentari pagi

yang mengecupnya tak ingin henti.

Sering pula kubayangkan

bibirmu sebagai daging merah buah ara

Dan aku jadi mulut yang seketika terkesima

pada manis pagutan pertama.

Sering aku membayangkan

pipimu yang senantiasa merona sebagai langit sore

berwarna kesumba, dan aku, sepasang mata takjub

yang ingin megecupmu tak cukup-cukup.

Sering pula aku membayangkan

diriku jadi pecinta

yang cukup mempunyai nyali,

tak hanya berani memujamu di palung paling sunyi

: puisi.

Malang, 2020


SAJAK KECIL UNTUK “A”

Bawalah kebahagiaan ini

hanyut bersama anak sungai

yang mengular

di lereng kesedihanmu.

Di suatu hari baik nanti,

kita akan menemukan belanga

yang lebih lapang daripada samudera

— tempat riak-riak luka

segera menjumpai muaranya.

Malang, 2020


MEMOAR PEREMPUAN TUA RUMAH BORDIL

Di balik kutangnya yang kawak,

susu yang lesu, yang susut dan kisut itu

tergantung malas, seperti ingin menanggalkan diri

dari dadanya yang tua, dan telah lama

tak dijamah api gelora.

Waktu tak lagi kuat merawat

kulitnya yang padat, dan jadilah

keriput itu sebagai penanda, bahwa ia

(mungkin) tak lagi patut disebut jelita.

Di hadapan kaca, ia memoles kembali

gincu semerah margarita,memlitur umur

dengan bedak-pupur, mencoba menimbun usia

yang gigih mengusaikan kecantikannya.

Dan lalu ingatannya terbang, menziarahi kembali

masa muda yang centil di rumah-rumah bordil.

Ia tersenyum kecut, memandang wajahnya

terpantul di cermin, seperti melihat wajah yang lain.

Ia terkenang mata nyalang para lelaki:

penjudi kacangan hingga yang bergelimang jabatan,

takluk di bawah kolong selangkangannya,

roboh di rebah peluknya.

“Barangkali, memang aku wanita rendah, tetapi, lihatlah!

Lelaki, betapa pun pangkatnya tinggi, di kakiku ini pula

mereka pernah menggadai harga dirinya.”

2020


DI TEGALSARI, KITA PEZIARAH YANG HILANG ARAH

: bersama Miftahul Munir

1.

Kita berangkat dari arah yang berlawanan,

kau dari utara, aku dari selatan. Malam itu,

Tegalsari adalah ladam magnet, yang menghendaki

kita berjumpa sebagai dua medan kutubnya.

2.

Tegalsari di malam Jum’at, adalah lautan jemaat.

Lahan parkir menjadi susah dikendalikan jukir.

Sebab pelataran mesjid, jelas terlampau sempit,

bagi kendaraan yang terus bertambah serupa luapan bah.

3.

Ketika orang-orang buru-buru berwudhu,

lalu merapal doa di depan pintu pesarean,

kita malah melipir ke warung lesehan:

memesan dua cangkir kopi dan sepiring nyamikan.

4.

Di atas tikar lusuh, kita duduk bersila,

dan terus memandang lalu lalang serta segala

yang berseliweran di sana. Aku tak tahu apa

yang menggumpal di pikiranmu, dan kau pun

tak paham apa yang menjelaga di dadaku.

5.

Udara dingin, kesiur angin, seperti sengaja

ingin merepih urin di kantung kemih.

Kukencangkan kerah baju, sebab ini hawa

tak baik bagi tubuh para perindu.

6.

Sampai dua cangkir kopi kita tandas,

tak juga lekas kita temukan apa-apa:

tidak imaji atau pun metafora. Sampai

puisi ini pun pungkas, tak juga kutangkap

jawab atas lengkung tanda tanya.

“Di Tegalsari, kita peziarah yang hilang arah.”

2020


Ilustrasi : Widya Prana Rini

Poster : Pratomo Bangun

Yohan Fikri M.
Latest posts by Yohan Fikri M. (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *