Indonesia Menari

Menari, dalam berbagai variannya, bagi masyarakat dan bangsa Indonesia, juga di belahan negara lain, bukan sesuatu yang istimewa. Akan tetapi, belakangan ini terjadi gerakan cukup massal diberbagai tempat (di Indonesia) untuk menari, diviralisasikan, dan terjadilah kehebohan itu. Apa yang penting dalam peristiwa tersebut.

Kita hidup dalam suatu lokasi kebudayaan tertentu. Setiap kebudayaan mengalami perjalanan sejarahnya yang berbeda-beda. Komposisi dan artikulasi suatu kebudayaan juga sering berbeda meliputi berbagai pengalaman empirik, kondisi alam, yang direfleksikan melalui pikiran, perasaan, dan tindakan kehidupan. Itulah sebabnya, walaupun terdapat kesamaan-kesamaan umum dalam kehidupan, tetapi terdapat juga banyak perbedaan.

Di dalam praktik kebudayaan, banyak hal menjadi masalah dan sering tidak pernah selesai untuk dijawab. Apa itu kehidupan, siapa itu manusia, apa sebab manusia dihadirkan di muka bumi, apa yang bisa dilakukan dalam kehidupan, ke mana hidup akan berakhir, dsb. Perbedaan kebudayaan menyebabkan masyarakat pelaku kebudayaan menjawab pertanyaan tersebut secara berbeda-beda.

Sebagai misal, karena alamnya tidak subur dan suhunya tidak ramah, maka masyarakat tersebut terpaksa bekerja keras untuk mengantisipasi kondisi alam tersebut. Mungkin di sela waktu bekerja, mereka mengisi kegiatan untuk menghibur diri, mungkin dengan menari atau menyanyi, atau berkesenian lainnya. Tarian pada sejumlah budaya di Afrika, misalnya, tetap saja sangat eksotis, tetapi berbeda dengan tarian yang berkembang di Jawa. Kompleksitas, kerumitan, dan simbolisasinya juga berbeda.

Perkembangan dan akumulasi ilmu pengetahuan, teknologi, pemahaman terhadap agama dan berbagai kepercayaan lokal, terus bernegosiasi terhadap proses-proses dan praktik menjalani kehidupan. Berbagai negosiasi tersebut terkristalkan dalam tujuan-tujuan kolektif kebudayaan. Di Indonesia, hal yang populer tentang tujuan bernegara, dapat dilihat dalam Pembukaan UUD, antara lain Indonesia yang berkeadilan dan berkemakmuran. Indonesia yang sejahtera. Indonesia yang merdeka dan  sentosa.

Kerangka tentang masa depan Indonesia tersebut, dalam berbagai pengertian yang dapat dikembangkan, dapat dikatakan dalam paradigma ekonomi. Ilmu-ilmu politik, sosial, teknologi, psikologi, kedokteran, pertanian, dsb, tergeret untuk menjelaskan dan berada dalam kepentingan ekonomi. Hal-hal yang tidak relevan  dengan proses pensejahteraan dan kemakmuran ekonomi dianaktirikan. 

Tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara bukan terletak pada tujuan kemakmuran atau kesejateraan, tetapi menuju dan menjadi masyarakat, bangsa, dan negara yang indah.

Itulah sebabnya, kemudian, kita juga berlomba-lomba untuk berproses menuju dan menjadi sejahtera, menjadi makmur. Penduduk terus bertambah, lapangan pekerjaan semakin tidak memadai, maka persaingan kehidupan menjadi keras. Dalam kondisi itu, berkesenian menjadi barang yang dianggap tidak mendukung proses pensejahteraan dan pemakmuran. Kesenian tidak lebih menjadi pelarian mereka yang kalah. Atau di sisi lain, kesenian menjadi eksklusif, bukan bagian yang terintegrasi dengan kehidupan.


Hilangnya Batas

Dalam jebakan filsafat dan paradigma ekonomi tersebut, sejumlah pemikir seni-budaya mencoba memformulasikan bahwa seni yang canggih, seni yang indah, adalah seni yang memposisikan dirinya sebagai penghilang batas antara kesenian dan kehidupan nyata. Berkesenian secara indah adalah berkehidupan, dan berkehidupan adalah berkesenian. Tidak ada batasnya, dan tidak ada bedanya.

Artinya, tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara bukan terletak pada tujuan kemakmuran atau kesejateraan, tetapi menuju dan menjadi masyarakat, bangsa, dan negara yang indah. Hal itu hanya dapat dilakukan jika batas antara kesenian sebagai substansi mendapatkan keindahan terintegrasi langsung dengan praktik kehidupan sehari-hari. Praktik-praktik Indonesia menari yang sekarang sedang berlangsung, dapat dijadikan kekuatan dan dorongan untuk menggeser tujuan kebudayaan menjadi bangsa yang indah.  

Dalam budaya Jawa, sebenarnya konsep itu bukan sesuatu yang baru. Bahkan sudah ada jauh sebelumnya, dengan konsep yang disebut sebagai hamemayu hayuning bawana. Suatu konsep bagaimana kita terus menerus mengindahkan dunia. Bukan berarti di dunia ini tidak ada keindahan, tetapi berusaha terus tanpa menyerah untuk terlibat mengindahkan dunia. Menari, menyanyi, bersastra, bermusik ria, dan melukis merupakan tujuan utama dan tidak terpisahkan dalam kehidupan.

Persoalannya apakah jika negara dan bangsa yang indah itu akan kalah bersaing dengan negara yang terus menerus memperkuat strategi kemakmuran dan kesejahteraan. Secara teori saya jawab tidak. Kita tahu bahwa hal tentang makmur dan sejahtera itu secara nilai bukan saingan keindahan. Negara yang indah, yang sehari-hari mementingkan rasa indah bersama, akan bebas dari rasa kompetisi dan kecemasan.

Pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat, 16 JULI 2019


Poster oleh: Jemi Batin Tikal | IG: @jemisekali

Dr. Aprinus Salam
Latest posts by Dr. Aprinus Salam (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *