Perihal Identitas: Zus Kesi yang Hibrid

Kedatangan orang-orang Eropa seperti Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda ke Nusantara semenjak abad XVI, tak pelak menimbulkan pertemuan dua kebudayaan besar: Timur dan Barat. Negara yang kini dikenal sebagai Indonesia pun, tanpa terkecuali, telah bersentuhan dengan keempatnya. Rempah-rempah menjadi magnet yang menarik mereka untuk mendekat. Pendudukan Malaka tahun 1511 M oleh Portugis, di bawah komando Albuquerque, bisa dibilang menandai bermulanya usaha pendirian kerajaan kolonial besar di Asia Tenggara oleh bangsa-bangsa Eropa tersebut.[1]

Hampir seluruh wilayah kepulauan Nusantara dikuasai, dan Pulau Jawa, termasuk di dalamnya. Sebelumnya, Jawa pun terbagi-bagi berdasarkan daerah kekuasaan beberapa kerajaan besar, dan dengan demikian, peradaban atau kebudayaan di pulau tersebut, dapatlah kita katakan telah ‘mapan’.

Kedatangan bangsa Eropa–yang diwakili empat negara di atas–sebagai ‘pembawa’ kebudayaan Barat, meniscayakan pertemuan budaya dengan Timur yang diwakili oleh kerajaan-kerajaan di Jawa secara khusus. Dengan demikian, dimulailah ‘kelahiran’ manusia-manusia hibrid di dalamnya.

Hal-hal demikian lantas tercatat, dan menjadi dokumen sejarah. Peran sejarawan dalam hal ini tak dapat diabaikan. Akan tetapi, yang patut diingat dan ditegaskan, selain para sejarawan, para pengarang juga tidak kurang berandil. Mereka menyajikan peristiwa-peristiwa sejarah secara lebih ‘fleksibel’ dibandingkan catatan para sejarawan yang terkesan kaku dan sarat data tersebut. Sudah jelas, bahwa tiap fenomena yang terjadi, takkan lepas dari pengamatan pengarang-pengarang yang dikaruniai kepekaan. Ya, fenomena dalam masyarakat menjadi bahan penggarapan karya yang strategis.

Objek karya sastra adalah realitas–apa pun juga yang dimaksud dengan realitas oleh pengarang.[2] Secara mengerucut, sejarah juga merupakan realitas. Kuntowijoyo, dalam Budaya dan Masyarakat (2003)-nya menekankan, apabila realitas itu berupa peristiwa sejarah, maka karya sastra dapat: pertama, mencoba menerjemahkan peristiwa itu dalam bahasa imajiner dengan maksud untuk memahami peristiwa sejarah menurut kadar kemampuan pengarang; kedua, karya sastra dapat menjadi sarana bagi pengarangnya untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan tanggapan mengenai suatu peristiwa sejarah; dan ketiga, seperti juga karya sejarah, karya sastra dapat merupakan penciptaan kembali sebuah peristiwa sejarah sesuai dengan pengetahuan dan daya imajinasi pengarang.[3]

Pengarang yang menyerap, mencatat, dan berupaya ‘mengekalkan’ peristiwa tersebut, dapat saja yang bersentuhan secara langsung, maupun yang bersentuhan melalui catatan-catatan setelah peristiwa berlalu sekian lama. Dalam hal ini, sebagai misal, yang menjadi rujukan adalah peristiwa sejarah pada periode pemerintahan Hindia Belanda. Dapatlah dijadikan sebagai contoh, beberapa karya sastra yang merupakan hasil persentuhan pengarangnya secara langsung dengan kebudayaan saat itu, seperti Sitti Nurbaya (1922) karangan Marah Roesli, Salah Asuhan (1928) karangan Abdoel Moeis, atau Layar Terkembang (1937) karangan Sutan Takdir Alisjahbana.

Ada pula pengarang-pengarang yang lahir jauh setelah masa penjajahan tuntas, atau bisa juga yang hanya mengalami paruh akhir periode-periode ‘menyebalkan’ tersebut, yang kemudian menulis karya dengan bertolak dari catatan-catatan atau data-data sejarah. Beberapa dari mereka yang mengangkat topik-topik terkait, misalnya Pramoedya Ananta Toer, Iksaka Banu, Djokolelono, dan lain-lain.

Secara khusus, nama Djokolelono bukan lagi nama asing dalam kancah kesusastraan Indonesia mutakhir. Selain sebagai produsen karya, ia seorang yang kondang dalam urusan pengalihbahasaan pula. Baru-baru ini, ia menerbitkan karya berupa novel yang mengangkat peristiwa sejarah di Hindia Belanda pada periode 1930-an, yang lantas diberi judul Setan van Oyot (2019), dengan keterangan “Sebuah Roman Picisan”.

Setan van Oyot mengambil latar waktu pada paruh kedua tahun 1930, tatkala terjadi masa-masa genting pemerintahan kolonial Hindia Belanda, yang sekaligus diliputi oleh berbagai gejolak dunia internasional: angin peperangan mulai berembus di Eropa, Jepang memenangkan pertempuran atas Rusia, dan di dalam negeri merebak pemogokan yang dilakukan para buruh di kota-kota di Jawa, ditambah terus berlangsungnya korupsi dan kebejatan moral birokrasi kolonial. Hal itu, tentu berpengaruh pula terhadap kehidupan rakyat di Wlingi, sebuah kota kecil di Jawa Timur, yang menjadi latar tempat dalam novel, sekaligus mikrokosmos masyarakat kolonial: dengan strata sosial, rasial, dan kebahasaan yang bertingkat-tingkat. Di Wlingi, pesta ulang tahun Ratu Belanda hendak diperingati secara besar-besaran, namun terhalang oleh keberadaan sebatang pohon: beringin besar bernama ‘Kiyai Oyot’. Upaya penebangannya selalu menemui jalan buntu, nihil hasil.


Selintas Perihal Identitas

Salah satu aspek yang senantiasa menarik untuk ditilik dalam novel-novel bertema –atau setidak-tidaknya berlatar–kolonial ialah identitas tokoh-tokohnya yang terjebak dalam  ‘kerangkeng’ hibriditas. Hibriditas tersebut, andai tak dapat diistilahkan ‘menggiring’, maka pastilah tetap berkelindan dengan tindakan peniruan (mimikri) dan ambivalensi dalam diri.[4] Terma-terma tersebut, berdasarkan penjelasan Setiawan, merupakan cara Homi K. Bhabha menggambarkan/menganalogikan kondisi bangsa terjajah yang memanipulasi ketakberdayaan mereka menjadi kekuatan resistansi terhadap para penjajahnya.[5] Bersama Edward W. Said dan Gayatri C. Spivak, Bhabha dapat disebut sebagai “holy trinity” dalam lingkaran pemikir pascakolonial.

Hibriditas akan memicu timbulnya mimikri, dan imikri sendiri dilantarankan hubungan yang ambivalen antara pihak penjajah dan pihak yang terjajah. Ambivalensi dipicu oleh adanya kecintaan terhadap suatu hal, tetapi sekaligus membencinya: ia tak hanya dapat dibaca sebagai petanda trauma subjek kolonial, melainkan juga sebagai ciri cara kerja otoritas kolonial serta dinamika perlawanan.[6]

Dalam Setan van Oyot, sebagai misal, kita dapat menyorot tokoh Zus Kesi, yang notabene pula merupakan salah satu tokoh sentral dalam cerita. Posisinya strategis: berada dalam semacam ketegangan antara latar belakang dan lingkungan, dengan didikan dan pasangan. Ia hibrid: berdarah Hindia, tetapi dibesarkan dalam budaya Eropa (Belanda) sejak kecil. Kita dapat pula menyebutnya sebagai tokoh yang mengalami situasi ambivalen. Dibandingkan tokoh-tokoh lainnya, bagi saya, Zus Kesi merupakan tokoh yang paling kuat merepresentasikan manusia yang hibrid dan ambivalen. Ia juga mealakukan mimicry as mockery dalam Setan van Oyot. Pembacaan sederhana berikut, barangkali dapat jadi sedikit ‘bukti’.


Zus Kesi yang Hibrid

Identitas Zus Kesi yang hibrid, setidaknya dapat kita identifikasi berdasarkan dua hal: pertama, penggambaran penampilannya; dan kedua, didikan semasa kecil yang berdampak pada pola berpikir tatkala dewasa, sekaligus berdampak pula pada pergaulan dan cara berpenampilannya. Pada narasi-narasi pembuka Setan van Oyot, tepatnya pada bab “2. Thijs van Dijk”, Zus kesi digambarkan sebagai wanita pribumi yang berpenampilan ala Eropa, dan tinggal serumah dengan Menir Daan van Dijk, ayah dari Thijs van Dijk, yang ditugaskan di Wlingi. Kutipan berikut menjelaskannya:

“Saat itulah tiba-tiba pintu yang mengarah ke dalam rumah terdengar dibuka gerendelnya dari dalam. Dan pintu itu dibuka.

Serorang wanita muda berdiri di pintu. Memakai hoskut tipis. Berkilau. Mungin sutera. Muda. Cantik. Semampai. Rambutnya hitam tergerai. Kulitnya gelap.

‘Ada apa ribut-ribut, Yu? Ndoro Tuan minta dibuatkan susu!’ kata wanita itu nyaring. Seperti biasa memerintah.

Thijs ternganga.” (hlm. 33)

Wanita itu tersenyum. Mungkin ia terbiasa melihat orang kagum akan kecantikannya. Ia mengulangi, berkata, “Sorry… wie bent u, mijnheer?”

Thijs tergagap. Baru sekarang ia sadar wanita muda itu berbicara dalam bahasa Belanda. Siapa dirinya? Bagaimana mengatakannya? Dan… siapa dia?” (hlm. 35)

Selanjutnya, hibriditas Zus Kesi tersebut, diperoleh dari perjalanan hidupnya semasa kecil. Ketegangan dalam dirinya, antara mesti menjadi seutuhnya pribumi atau Eropa, terjadi pada masa-masa itu, kendati belum sepenuhnya disadari. Hal demikian tak terlepas dari peranan seorang tokoh bernama Nyonya de Fries, yang kemudian mengadopsi dan memberikan didikan ala Belanda kepadanya. Kecenderungan-kecenderungan untuk menyukai segala yang berbau Eropa, lamat tapi pasti, tumbuh dalam dirinya: keengganan untuk kembali pada gubuk ibu kandungnya, dan lebih memilih tinggal dalam rumah yang penuh kemewahan. Perbandingan-perbandingan antara ke-pribumi-an dan ke-Eropa-an kemudian meresap dan membentuk ketegangan dalam identitas Zus Kesi, kendati setelah dewasa, ia kemudian mampu mengidentifikasi kembali identitas ke-pribumi-annya.

“Kemudian ia ditemukan oleh Nyonya de Fries, istri pensiunan dokter gula di pabrik Kedawung. Ia diambil Nyonya itu, dijadikan pembantu di rumahnya. Waktu itu ia masih kecil. Sering nangis dan ngompol. Tetapi Nyonya de Fries baik hati dan sabar. Emaknya masih sering mengunjunginya. Tetapi ia tak suka berkunjung ke rumah emaknya, sebuah gubuk kecil di pinggir sungai. Gubuk, bukan rumah. Hanya ada satu  ruangan. Untuk semuanya: tidur, ruang tamu, dapur, dan di sudut bahkan untuk mandi. Berak? Tinggal jongkok di sungai.

Sangat lain dengan rumah nyonya. Besar. Banyak kamarnya–bahkan kemudian, setelah ia besar, ia diberi kamar sendiri. Semua bersih. Semua mengkilap. Ia nyaris hanya bermain-main. Sudah ada beberapa pembantu lain di situ.” (hlm. 46)

Hal tersebut diperkuat dengan setiap didikan yang diberikan oleh Nyonya de Fries. Pokoke kudu jadi Londho: Zus Kesi disekolahkan, diajarkan menulis, berbahasa Belanda, mengetik, dan bergaul dengan orang-orang Belanda. Dinarasikan dalam novel:

“Dan nyonya menyekolahkannya. Ia sekolah! Belajar menulis. Diajari bahasa Belanda. Belajar mengetik.

Makin besar, makin banyak yang diajarkan kepadanya. Ia diajari menyukai barang-barang mewah. Ia diajari mengambil keuntungan dari kecantikannya. Ia diajari bagaimana membuat tuan-tuan dan sinyo-sinyo Belanda menyukainya… dan memberinya banyak hadiah! Ia diajari menyukai kemewahan.” (hlm. 46)

Seperti disentil sebelumnya, bahwa hibriditas memicu timbulnya mimikri. Zus Kesi juga melakukan mimicry as mockery dengan cara tetap memberikan perhatian dan kasih sayang kepada sesama orang pribumi, lewat penghasilan yang didapatkannya dengan bekerja sebagai pegawai kolonial sekaligus pasangan dari seorang pembesar bernama Daan van Dijk. Artinya, peniruannya terhadap orang-orang Belanda tak pernah mencapai titik ‘purna’, sebab dalam dirinya cenderung masih menyisakan rasa sepenanggungan, seidentitas, dan sebangsa dengan orang-orang terjajah. Ia berada pada ambang yang membingunkan: mesti mengidentifikasi diri sebagai orang Eropa, atau justru orang pribumi?

Mimicry as mockery yang dilakukan Zus Kesi memanglah tak terlalu kentara, samar, namun andai dicermati lebih jauh dan dalam, maka hal tersebut jelas-jelas merupakan bentuk resistansi yang dilakukan sang tokoh, baik secara sadar maupun tidak sadar. Nah, cobalah cermati nukilan ini:

“‘Mbak Lastri… mboten sisah repot-repot… kula namung mampir kok,’ kata Kesi dalam bahasa Jawa halus.

‘Halah, ngga repot gimana, kedatangan Non Sus ya harus repot, masak nggak menghormati…’ kata Lastri, mengulurkan tangan pada Astro, ‘Kuncinya!’” (hlm. 52)

“… Kesi mengambil uang dua benggol dari sakunya. Diberikan kepada Lastri, ‘Ini, Yu, cukup kan?’

‘Lebih, Non Sus. Sebentar, kembalinya…’

‘Sudah, nggak usah, Yu… sudah ya, Yu, Mbok…’

Kedua orang warung itu tak hentihentinya mengucapkan terima kasih. Kesi hanya tersenyum dan berjalan ke depan, ke arah jalan. …” (hlm. 70)

Jika mimikri pertama cenderung disajikan secara samar oleh Djokolelono, maka pada kasus yang kedua, yang paling menonjol berupa keinginannya untuk seutuhnya menjadi seorang Belanda. Akan tetapi, hal tersebut terhambat oleh kesadarannya sendiri dan situasi yang benar-benar tidak memungkinkan: dalam tubuhnya, tak mengalir setetes pun darah Eropa, dan ia seutuhnya adalah pribumi. Oleh karena itu, ia lantas ‘membelokkan’ arah maksudnya: meraup cinta, juga harta dari Daan van Dijk guna mendongkrak kelas sosialnya. Dalam konteks ini, mimikrinya kemudian menjadi mockery. Zus Kesi berusaha melakukan resistansi terhadap orang-orang yang telah mengeruk kekayaan bangsanya, kendati hanya dengan ‘memorot’ harta seorang pembesar saja. Ya, Zus Kesi yang cantik, tapi ‘menggigit’! Resistansinya itu dinarasikan dengan kentara pada halaman ke-45, 48, dan 80.

Pada mimikri ketiga, Zus Kesi juga bersikap menentang tindakan-tindakan dari Ndoro Sinder–orang yang notabene juga hibrid–yang niscaya telah ‘terkontaminasi’ oleh cara berpikir dan bertindak orang-orang Belanda, terutama pembesar-pembesarnya yang pula ‘bermulut dan berperut besar’, alias tamak. Bahkan, sebelum terbunuhnya Zus Kesi, resistansi terhadap Ndoro Sinder tak hanya dilakukannya melalui pikiran, melainkan perlawanan fisik pula. Hal itu terasa dalam dialog antarkeduanya (hlm. 260–261).

Demikianlah. Resistansi Zus Kesi, rupanya tak hanya menyasar orang-orang Belanda totok, melainkan juga manusia-manusia pribumi yang–sekali lagi–notabene telah terkonaminasi cara berpikir dan bertindak negatif orang-orang Eropa tertentu, semacam Ndoro Sinder yang korup tak ketulungan.


Antara yang Rasional dan Mistis

Membicarakan hibriditas Zus Kesi, pula mimikri yang dilakukannya, tak lengkap rasanya andai tak menyentil persoalan ambivalensi. Soal ini, yang paling menonjol: Zus Kesi berdiri pada batas garis antara mempercayai atau menolak setiap hal berbau mistis. Sang tokoh dihadapkan pada titik antara memercayai dan menyangsikan kekuatan mistik yang dikandung pohon beringin bernama ‘Kiyai Oyot’ yang dijaga oleh Mbah Benjol.

Latar belakangnya sebagai manusia berdarah pribumi, ditambah lingkungan yang dihuni mayoritas penduduk setempat yang bukan Eropa, membuat kedekatan antara Zus Kesi dengan kehidupan mistik menjadi tidak terhindarkan. Akan tetapi, di sisi lain ia hidup dan dibesarkan dalam didikan Belanda, sehingga membentuk ketegangan antara yang mistik dan rasional dalam tubuhnya. Dibandingkan tokoh-tokoh lain, Zus Kesi-lah yang paling kuat merepresentasikan manusia ambivalen dalam novel Setan van Oyot–setidak-tidaknya berdasar pembacaan saya. Dari didikan yang diterimanya pula, ia menyerap kebudayaan modern yang kian mengandalkan ego, kesadaran, dan rasio.

Sebagaimana dipahami, bahwa kebudayaan modern masuk ke Nusantara melalui perantara orang-orang Eropa, termasuk Belanda. Kebudayaan modern tersebut, yang berakar dari filsafat modern yang dipelopori oleh René Descartes, memusatkan perhatian utama kepada ego (subjek), kesadaran, dan rasio. Ketiga hal tersebut menjadi pusat perkembangan manusia dan seluruh dunia di sekitarnya. Dengan demikian, setiap yang berada di luar jangkauan akal atau kesadaran, pastilah dianggap sekadar ‘menempel di luar tengkorak’: tak rasional, tabu, takhayul, mistis-magis, dan lain se-kanca-nya[7] (Kebung, 2017: 57).

Zus Kesi dihadapkan pada hal-hal demikian ketika mendapati pohon Kiyai Oyot, dan perlahan-lahan, dalam novel, dinarasikan pergerakan kepercayaannya dari yang rasional, lamat-lamat memercayai pula tuah atau magis yang dikandung pohon tersebut. Terakhir, bacalah baris demi baris kutipan dari Setan van Oyot (hlm. 58, 70, dan 171–172) karya Djokolelono ini, setidaknya sekali lagi, sebagai semacam bukti dari pembacaan saya yang ‘serampang’ dan ‘ala kadarnya’.


[1] Stroomberg, J. 2018. Hindia Belanda 1930. Terjemahan Heri Apriyono. Yogyakarta: IRCiSoD, hlm. 45.

[2] lihat Kuntowijoyo. 2003. Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta: Tiara Wacana, hlm. 171.

[3] ibid.

[4] lebih jauh mengenai terma-terma tersebut, dapat dibaca dalam Bhabha, Homi K. 2004. The Location of Culture. New York: Routledge Classics.

[5] lihat dalam Setiawan, Rahmat. 2018. Pascakolonial: Wacana, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: Gambang Buku Budaya, hlm. 19.

[6] lihat dalam Loomba, Ania. 2003. Kolonialisme/Pascakolonialisme. Terjemahan Hartono Hadikusumo. Yogyakarta: Bentang, hlm. 229–230.

[7] lihat Kebung, Konrad. 2017. “Michel Foucault: Kuasa Versus Rasionalitas Modernis (Revaluasi Diri Secara Kontinu)”, dalam Jurnal Ledalero: Vol. 16, No. 1, Juni 2017.


Ilustrasi Poster: Pratomo Bangun | Ig: @jagalaut

Ilham Rabbani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *