Membaca Maut dan Sepilihan Puisi Lainnya Agung Wicaksana

Epifani Taman Bungkul

I/

Kau sampai di sini. Ketika bangku-bangku kosong

Cabang berbuah merupa silsilah dan hujan memeluk tanah

Aku menerimamu kembali sebagai ranting-ranting terkulai

nyaris patah. Berkibas angin merurutkan bunga-bunga

sebagai usia

Masih membebat leherku, ini syalmu

Salinan lengan yang menghalau tua batuk

seperti nyamuk-nyamuk coba masuk ke tenggorokanku

Di jalanan, oto giat melaju. Liar kuda besi

kabur dari eraman penadah. Kita buat segala jadi mungkin

meski tak pernah ada simpulnya, misal:

Makin banyak es krim vanilla meleleh dan menitis ke dagu,

bocah-bocah di sekitar kita tambah rajin menjajakan tisu

Kau katakan padaku

Apa-apa yang kau pelajari di negeri jauh

Seperti ruas tengkuk berhenti pada bahu__

Ada nyeri menjalar sampai luar kuku:

Impian, sekantung telur puyuh menetas di perutku

II/

Kau sampai di sini

Ketika minggu melipat lutut sabtu

Taman kata-kata, tempat buku-buku yang pernah kita baca

menyemburkan suara sebagai benda-benda

Aku menyambutmu sebagai kuah rawon menggelinjangkan lidah

Para pedagang memberi senyum tanpa kewajiban

membeli sebungkus tar dan beribu bahan kimia berbahaya

Alunan dangdut terdengar dari berbagai sudut

Kening biduan seolah tak sampai sejengkal dari mulut

Di bungkul, rindu berumah sebagai kunjungan

Seperti de javu berulang, seperti penjual jamu langganan

tak perlu bertanya ‘pakai madu, bang?’

III/

Bandar udara sepenuhnya udara

Stasiun tak lagi menjadi nadi

Terminal bis semacam gramofon tua

Menyuarkan gigil, masa silam

Di sana aku perlahan mati

Di sini aku bangkit kembali

Kini, tak perlu ada yang menenggak air matanya sendiri (?)

2020

Membaca Maut

      __ Subagyo Sastrowardoyo

1/

Tak kau temui lagi hitam rambutmu menjuntai, sementara

Dinding rumahmu makin giat meranggaskan retak

Beribu kembara melipat kulit tubuhmu

Seperti menyisipkan tanda: sudah sampai mana Ia membaca

sedang kau tertatih-tatih mencatatnya

2/

Kau gemetar, menunggu yang tak seharusnya ditunggu

Seratus tahun kepergian ialah air mata menjalar

tanpa harus berkabar. Seumpama kantung,

butir-butir air matamu menyimpan wajah-wajah

saling hadap menanyakan nama juga alamat

3/

Di atas kepalamu, lampu gantung berpendar lebih anggun

ketimbang angkasa. Dalam kerentaan, kau bercakap-cakap

dengan pohon di pekaranganmu. “Katanya, ia kecewa

tiap telinga dan jarinya patah.”

4/

Bertaruhlah kau, merekahkan jala ke laut keruh

Berbahagialah sebab di geladak berbaring ikan-ikan

Kau bersandar, tersadai tulang

: Hidup!

2020

(Tak) Ada Perang Hari Ini  1

Berserulinglah mantra dari patera bodhi

yang luruh, ketika tiga pendekar berdeku

hadap matamu yang nyala medan laga

Mereka bawa karung-karung berisi kepala

yang tak menemui badannya

Sedang erang berkeriap pada zirah basah darah

Lututmu gemetar, gerahammu mengertak

Padamu kubenamkan doa. Doa yang beradu

dengan repihan tungkai menumbuk rungumu

Wajahmu lebam biru, selangkamu patahan kayu

Padamu lengan kujulurkan demi meredam

gigil gerung perihmu

Tapi kau puguh tak beranjak

Di antara berkubit daging merah padam

Kapan ini semua sanggup kita lupakan

Tanyaku serupa asap meliuk rabung

dari jangkau telapak. Bagai luka selalu abai

beribu nyeri rajahkanku serentak

2020

(Tak) Ada Perang Hari Ini  2

Sudah pula kau selipkan pisau yang khatam

ke dada siapa ia menambah dalam

Pada sampur mencekik mereka punya pinggang

Seperti urat pendekar dililitkan ke pagar-pagar

Meski aku jauh dari semua itu

Aku percaya akan kutemui dirimu

Serupa penggalan saga yang hilang

Tertawan dalam sangkar besi dihantam berkali

Dalam dentang perisai yang tak sanggup berdamai 

Tempat air cepat bertukar api

2020

Bermain Roulette

Ia menurun ke bungker, ke cahaya suar berkelebat.

Bungker yang pernah menimbun remuk rahang

dan darah mengerak.

Ia dengar kembali desar tebasan

bagi lidah menimbun siasat 

maupun kelepak tangan memeram khianat.

Alangkah lembab dan anyir

“Seperti malam-malam sebelumnya

kami berpetak umpet malam itu.

Permainan berakhir

namun salah seorang dari kami

tak juga terlihat. Kami menangis kencang

setelah mendapat kabar bahwa ia dibekuk musuh.”

Ia berpindah dari satu ruang ke lain ruang.

Beberapa kali langkahnya terhenti

kepalanya berantuk

“Barangkali usiaku lepas dari satuan waktu.

Perih sepanjang pertempuran tak henti

menggusuk perutku. Celakanya,

dari sekian kawan seregu,

hanya dadaku yang masih kempis-kembang.”

Sampailah ia di ruang paling ujung

di kedalaman terdalam

“Aku ingin bermain lagi!

Letupan puluhan tahun lalu mestinya terulang

saat ini! Mereka pernah berjanji

memanggul peti di upacara penguburanku!”

Itu tak akan menjadi di bilik penyiksaan ini, tuan.

2020

Catatan Perihal Pulang

Meski kabut subuh kerap menggigilkan kita,

demi laut melerai samudra, demi

dermaga yang menghantarkan kau

ke tempat leluhur menegakkan pusara.

Mengaji tahun-tahun silam, puak-puak

menenteng koper juga pahit biji kopi.

Seperti kebun di belakang rumah-rumah tua

yang riang tak pendendam. Seperti maria dan putranya

mengapit altar katedral sebagai rangkaian degup dalam dada.

Sebab pagi sepi belum bertimpa klakson oto

pula gerung kuda besi. Tak ada dentum jantung para kuli  

mendebam loket koperasi. Belum tumpah pengepul

di jalan mendaki. Kuah gudeg masih manis aren

dan kita tuahkan celengan ayam berisi koin-koin.

Maka plaza dibangunlah tanpa gundah.

Jembatan dusun diruntuhkan, kaca-kaca

menjelma pusat cahaya. Kokoh sudah beton-beton

oleh ringkih nian tangan kaki. Lalu aspal,

daki, debu, liur, ditaburkan ke ladang-ladang,

empang-empang. Itu cara mujarab

menambang puing-puing ingatan, katanya.

Namun terpujilah akar yang pernah tumbuh

oleh air mata. Jemari berkeringat

mengeja cinta pada hikayat.

Biar hidup bagai uap

sejenak tampak kemudian menghilang. Kau temui

derainya tak kenal lenyap. 

Kau pun membawa tanganku, menggenggam

kedua mataku yang terpejam. Sebab tak ada beda

Pergi dengan Pulang. Kita sepasang dingin

yang mendidih dan meluap sebagai runjaman uap.

2020

Kepandiran Dong Zhuo

Telah mereka katakan

seorang jenderal menumpas seribu musuh

tak mampu mengalahkan dirinya sendiri

Pandai besi menempa pedang

terpanjang sekaligus tertajam

Belum tentu lihai mengayunkannya

apalagi pergi berperang

Maka ia berjaga-jaga seperti singa betina

yang gahar dan garang. Bintang meleleh

menjadi arak ke tembikar

para menteri dan penasihat kaisar

Pedang ia pendam dalam-dalam

Jasad-jasad ia jadikan penghalau banjir

di kediamannya seorang.

2020

Remahan Jembatan Chang Ban Jiao

Di bentangan tepi sungai ini

Arca orang sakti berjajar

semacam naga api

dari ketinggian

Tunggang gunung

hangus di lima abad

Namun kejayaan terus berpaling

Pada kisi jembatan

terselip sekuntum lontara

Menggulung aksara-aksara

ke adonan jioazi

Embun menyematkan karat

Tanaman mengamsalkan musim

sebagai isyarat cuaca

Seseorang mungkin saja kukenali

Terang bertumpahan

Selir hijau menetas dari suara keracak

air. Mata ini kelewat timpas

saksikan runtuh dinasti

Di sisi yang cermin

purnama desingkan sunyi

2020


Ilustrasi Poster : Pratomo Bangun @jagalaut

Editor : Risen Dhawuh Abdullah @risen_ridho

Agung Wicaksana
Latest posts by Agung Wicaksana (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *