Hiperkriminalitas: Teater Teror, Simulakra Kekerasan, dan Kita

Bahkan sebelum manusia diciptakan, malaikat ‘protes’ “ataj’alu fihaa man yufsidu fihaa wa yas fikuddima” manusia dicurigai sebagai perusak dan penumpah darah. Zaman bergerak dan semakin menunjukkan kecurigaan itu benar adanya, pada tahun 1651 Thomas Hobbes (1588-1679) menuliskan buku epik berjudul Leviathan, sebuah judul yang ia adopsi dari nama makhluk biblikal Ibrani yakni ular raksasa jahat berkepala tujuh. Hobbes membeberkan, seolah mencerca, bahwa manusia adalah hewan yang akan selalu memangsa satu sama lain.

Seabad seperempat kemudian, Adam Smith (1723-1790) menulis The Weatlh of Nations (sebuah buku yang sangat penting untuk revolusi industri, sama pentingnya dengan penemuan kompas), menuliskan dengan jujur bahwa manusia ibarat tikus yang hidup semata-mata memenuhi hasrat ekonomi, alias gasak sana gasak sini demi untung pribadi. Belum selesai! Charles Darwin (1808-1882) dalam The Origin of Species mengemukakan istilah survival of the fittest, bahwa manusia adalah spesies yang harus berkompetisi agar dapat bertahan hidup, jika tidak maka siap-siap punah.

Terakhir, dalam Civilization and Its Discontents, Sigmund Freud (1856-1939) secara frontal menuduh manusia jika saja tidak ada hukum maka libido manusia laksana binatang, setiap manusia bahkan akan memperkosa tetangganya sendiri. Dari berbagai cercaan terhadap kemanusiaan, adakah pihak yang menjelaskan mengapa kemanusiaan begitu mengerikan? Jawabnya ada, Jean Baudrillard (1929-2007) menuliskan buku epik berjudul The Perfect Crime, dan berbagai alasan mengapa kemanusiaan begitu memilukan hingga saat ini.

Manusia menciptakan mesin-mesin kriminalitasnya sendiri, bahkan semenjak manusia pertama diciptakan. Sehingga berbagai aksi kriminal seringkali berada jauh dari akal sehat. Itulah hal yang dituliskan oleh Baudrillard sebagai hypercriminality. Kecanggihan bentuk-bentuk kriminal ini melampaui batas realitas (beyond reality). Bahwa ketika kekuasaan dan kejahatan dijalankan bersamaan maka ia akan menjadi sesuatu yang hyper, melebihi dari moralitas, hukum, akal sehat, tradisi, budaya dan lain sebagainya.

Maka Yasraf Amir Pilliang dalam buku ‘Sebuah Dunia yang Menakutkan’ memperjelas “bahwa kejahatan telah menjadi sesuatu wacana yang direncanakan, diorganisasi dan dikontrol secara “Sempurna” melalui teknologi tinggi, manajemen tinggi, dan politik tinggi, sehingga ia melangkahi otoritas hukum, melewati kemampuan akal sehat, dan melompati jangkauan nilai-nilai budaya dan moralitas”. Teknologi yang berkembang pesat kini menjadikan kekuasaan lebih canggih dan kekerasan bisa dengan serta merta merasuki berbagai aspek-aspek kehidupan kita secara sadar maupun tidak sadar, secara kasar dan halus.

Kejahatan banyak memakan korban, kita menyaksikan banyak kekerasan di media masa, bahkan media maya dan berita-berita berseliweran tentang pembunuhan, kematian masal, terorisme, dan berbagai hal yang merendahkan kemanusiaan. Teknologi yang kini ada seolah mempertegas keberingasan kita. Dan membuat kita tampak bagai monyet goblok yang menggunakan cermin untuk berkelahi dengan diri sendiri, alih-alih menggunakan cermin untuk berkaca. Dari teknologi, kita mengenal istilah terorisme visual, sebuah rekayasa sistematik untuk melangsungkan kekerasan di depan massa. Teknologi melengkapi hasrat kita akan bentuk-bentuk konsumerisme, merangsang kita pada objek atau pengalaman yang memuaskan dan menjanjikan. Meskipun harus dengan mengorbankan hal yang paling berharga dari kita, yaitu: kenyataan.


Simulakra : Onani Terhadap Ilusi dan Kebiadaban

Simulakra adalah sebuah tiruan yang nilai asalinya (bisa jadi) tak pernah ada, ia seperti aplikasi perias wajah yang mengaburkan antara tiruan dan asli, ia adalah sesuatu yang dibuat dan dianggap lebih nyata ketimbang kekaburan tiruan dan ketiadaan tiruan itu sendiri. Setelah era industrialisasi, manusia semakin menegaskan berbagai simulakra, dan kini simulakra menjadi hal yang paling sering digunakan sebagai ‘aplikasi bersolek’ untuk melegitimasi kekerasan dan teror. Media dan teknologi menjadi alat penguhubung agar manusia lebih senang melakukan onani dengan ilusi ketimbang bercengkrama dengan kenyataan.

Kita akan disuguhkan dengan berita-berita yang berseliweran di gawai kita bahwa ada semacam kelompok yang ingin meruntuhkan pilar-pilar negara, kelompok anti-Islam, orang gila yang menculik anak, om-om pedofil, hantu-hantu komunis, ancaman bersenjata golongan separatis, dan sebagainya. Hal tersebut menjadi simulakra-simulakra yang ada di hadapan kita. Seringkali membungkus dirinya dengan berbagai sentimen-sentimen. Bukan hal yang dapat dianggap remeh-temeh, ia adalah sesuatu yang serius sifatnya, simulakra-simulakra tersebut tumbuh menjadi kekerasan dan paranoia yang dapat digunakan untuk berbagai kepentingan, menebarkan ketakutan, mempertegas kekuasaan, memproduksi kekacauan (chaos) dan rasa ketidaknyamanan.

Maka, dalam hal ini Baudrillard menanggapi bahwa dengan adanya simulakra kekerasan yang dilakukan atas rekayasa makna dari kejahatan, sehingga semua seolah-olah terjadi secara alami. Kita menonton televisi, film, dan berbagai video-video dari gawai kita, di samping itu melihat berita-berita yang datang sendiri tanpa kita inginkan, membangun paradigma berpikir, simulakra-simulakra bertendensi kekerasan dan kebencian. Ada pula simulasi yang tampak nyata, meskipun tak ada referensi realitas dari simulasi tersebut, sehingga segala hal yang ilutif dan khayali tanpak sangat nyata. Dengan demikian, manusia mulai membenci tetangga mereka, mencurigai kekasihnya, memaki agamawan, mengutuk Tuhan, bunuh diri, dan sesuai ‘kecurigaan’ malaikat “membuat kerusakan di bumi dan saling menumpahkan darah”. Wallahu a’lam.


Esai Insidental Moment #3, 15 Juli 2019.

sumber gambar poster: Tempo.co


Desain Poster: Jemi Batin Tikal

Penyelia Aksara: Jemi Batin Tikal | Ig: @jemisekali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *