Sejangkap Kepala yang Meledak

Pria berangkat kerja dengan perasaan kacau luar biasa. Sepasang cincin yang ia rencanakan jadi hiasan di jari manisnya dan Hanpuan – jadi perkara.

Pria, nama seorang lelaki biasa yang bekerja sebagai buruh pabrik pembuatan suku cadang mesin. Ia dikenal sebagai orang baik yang senang membantu teman buruh lain. Mulai dari meminjamkan sejumlah dana bahkan sampai mencarikan jodoh bagi teman-temannya.

Setengah dari jumlah teman dekat menikah dengan perempuan dambaan berkat bantuan Pria. Anggara misalnya, ia berhasil menikahi Elsa berkat bantuan Pria yang mengatur segala rencana kencan pertama hingga resepsi pernikahan untuk keduanya.

Sejak istrinya hamil, Anggara memutuskan dengan pasti untuk tidak bekerja sebagai buruh lagi. Ia memilih membuka usaha angkringan di depan rumahnya bersama Elsa dan Hanpuan, adik iparnya. Hanpuan datang atas permintaan Elsa untuk menolongnya sampai waktu melahirkan tiba.

Perjumpaan dengan Hanpuan di angkringan Anggara membuat Pria buru-buru membuka kunci hatinya yang sejak setahun lalu ia tutup rapat. Pria dicengkram hatinya oleh sakit yang teramat sangat, sebab gagal menikah dengan gadis Sumatera Barat.

Hanpuan gadis yang baik, ia ramah, selain itu masakan buatannya tak kalah dengan racikan koki restoran. Bahkan kopi seduhannya saja tak putus-putus Pria memuji.

“Bang Pria sungguh berlebihan. Yang di cangkir itu hanya kopi, gula, dan air panas saja. Bagaimana bisa nikmatnya bisa sampai membawa abang ke surga?” balasnya ketika Pria menggoda.

Pahamlah Anggara bahwa ia mesti membalas budi baik kawannya meski tak diminta. Lagipula bukankah lebih baik jika persahabatan kemudian dapat dilanjutkan menjadi hubungan persaudaraan, begitu benaknya.

Pria sering datang ke angkringan. Ia bawakan buah tangan untuk Hanpuan. Sering pula Hanpuan berkata, “Tak perlu membawa apa-apa kemari, Bang Pria. Puan tak enak merepotkan.”

Tapi Pria tersenyum saja dan besok membawa sesuatu yang lain untuknya.

Seluruh indra Pria berubah jadi mulut. Matanya memakan merah pipi Hanpuan, hidungnya mengeringkan peluh di kening itu perempuan. Dipindahkannya dan berserakan kini di dalam kepala. Telinganya mengunyah suara merdu Hanpuan atau bahkan tawanya yang renyah.

Sedang kepalanya berubah jadi perut. Dimasuki apa saja, ditimbuni apa saja. Tapi sayang tak ada lambung di sana.

“Biar saja begitu. Jangan ada yang dihancurkan. Letakkan saja. Biarkan ia jadi setumpuk buku, kupu-kupu, atau bahkan hantu,” Pria bicara pada Anggara sambil mata membingkai wajah pujaannya.

“Penuh kepalamu. Belum lagi soalan-soalan lain yang masuk ke situ. Nanti meledak. Lalu otakmu berserak.”

Ia melirik sejenak. Lalu menarik mata pada yang menurutnya lebih enak.

“Bagaimana kerjamu di pabrik?” tanya Anggara kemudian.

Kali ini Pria tak bisa menolak ajakan berbincang. Ia perbaiki duduknya dan menyandarkan punggung ke dinding yang ada di belakang.

Hal yang selama ini tak begitu jadi perkara baginya, mendadak jadi sesuatu yang mesti dipersoalkan. Anggara tentu tak ingin adik iparnya hidup sengsara.

“Aku dengar tak akan ada lagi pengangkatan karyawan tetap, betul begitu? Pemerintah sudah bikin peraturan baru,” ia berhenti sebentar, menghisap rokoknya kemudian melanjutkan bicara, “Lalu bagaimana denganmu? Ceritamu akhir tahun lalu, Pak Wongso akan memberikan status itu padamu. Tidak jadikah, kawanku?”

Pria menghela napas berat, “Juni depan kontrakku habis.”

“Bagaimana dengan tabungan? Mungkin bisa kau jadikan modal jualan.”

Pria mengangkat alisnya. Tidak tahu harus jelaskan bagaimana agar singkat. Selain itu membahas soal tabungannya adalah hal yang berat.

Tahun lalu, sebelum cintanya kandas dengan perempuan Sumatera Barat itu, ia sudah siapkan dana untuk menikah. Dari akad hingga resepsi. Dari biaya baju mempelai hingga dekorasi, juga untuk membeli beberapa ekor sapi untuk acara di kampung nanti.

Tapi jika kata Tuhan tak berjodoh, maka berpisahlah mereka sehari sebelum orgen tunggal terdengar heboh. Perempuan Sumatera Barat itu harus menerima pinangan orang lain yang dipilihkan orang tuanya. “Cari suami kok buruh? Kena PHK, pulang kerja kamu cuma dapat peluh!”

Pria sakit, kata-kata itu sungguh membuat saluran darah dan pernapasannya menyempit. Hampir ia mati. Sempat ia tak ingin memilih perempuan Sumatera Barat untuk ia ‘ikat’. Tapi pelan-pelan Elsa membantu ia membuka mata. Pernikahan temannya – Anggara – dengan Elsa menyadarkannya bahwa tidak semua orang Sumatera Barat sana begitu adanya.

“Sudah dipikir dengan baik? Hanpuan orang Payakumbuh,” ujar Anggara kala itu.

Sudah dua hari Pria berpuasa, termasuk Kamis ini. Ia perbanyak ibadahnya dan ia dekatkan diri pada Tuhannya, Allah subhana wata’ata. Ia berharap dipermudah segala urusan jika jodohnya memanglah Hanpuan. Juga perkara pekerjaan yang harus Pria dapatkan. Sebab tak mungkin ia berani melamar seorang gadis sementara ia pengangguran.

Berita tentang Pria yang sedang jatuh cinta tersebar cepat di antara teman-temannya. Mereka yang baik datang menyalami lalu menyampirkan doa-doa yang juga baik. Kecuali Randi. Seorang buruh lain yang tak suka Pria dekat dengan Pak Wongso, atasan mereka.

Pada hari lain, Randi punya tatapan tak suka pada Pria. Hari ini sungguh lain. Ia datang menghampiri Pria dengan senyum turut berbahagia.

Pria sungguh tak pandai menanam rasa dendam dan curiga. Ia sambut Randi dengan jabat tangan dan wajah yang tentu saja bahagia.

“Aku selalu tak seberuntung dirimu,” kata Randi pada lelaki itu.

“Maksudmu?” Pria tentu tak mengerti.

“Di pabrik, bagi Pak Wongso kau adalah karyawan kesayangan. Bagi teman-teman, kau pahlawan bagi mereka kalau akhir bulan tak bisa makan. Tuhan pun demikian, segera diberikannya padamu seorang perempuan sebagai ‘teman’,” katanya sembari menaikan alis.

Pria tergelak sedikit, “Kau tentu akan menemukannya juga nanti, kawan. Allah tentu sudah persiapkan.”

“Tidak, kawan.”

Pria melihat serius ke wajahnya.

Sebuah kotak kecil berwarna merah dari saku dikeluarkan. Randi membukanya dan tampaklah sepasang cincin belah rotan.

“Aku gagal menikah. Dan… demi melupakan masa menyakitkan itu, kujual saja cincin ini padamu. Kuharap kau bersedia membantuku. Kau belilah seharga empat juta. Bulan lalu kubeli lima juta. Untuk orang baik sepertimu, anggap saja diskonnya sebagai hadiah pernikahan dariku.”

Bayangan itu melesat di kepala Pria ketika ia melaju dengan kecepatan tinggi ke pabrik pada itu pagi. Ia sama sekali tak takut mati.

Di kepalanya Hanpuan sedang mengumpulkan apa saja yang darinya pernah Pria makan. Parasnya, suaranya, peluhnya, apa saja. Itu menyakiti Pria – sudah barang tentu.

Sedang ia berkemas di sana, Hanpuan terus saja berkata-kata, “Betapa tega bang Pria, begitu sengaja membuat jari manisku gatal tak terkira. Aku tak masalah jika nanti hidup sederhana seperti kak Elsa, tak perlu berdusta segala. Memang aku gadis desa, tapi masih dapat kubedakan emas dan besi biasa. Apa sampai jadi imamku nanti, bang Pria akan terus berbohong seperti ini? Aku tak suka bang Pria kalau begini caranya.”

Suzuki melaju lebih cepat. Mesinnya panas. Sama seperti kepala Pria. Lalu kejadian secepat kilat melintas, menghantam motor dari kanan dengan Pria yang sedang mengendarainya.

Persimpangan jalan berantakan mendadak. Belum lagi orang-orang memindahkan tubuh Pria ke pinggir jalan, kepala yang panas itu berasap dan meledak. Hanpuan hancur bersama isi kepala yang lebur.

Sementara itu seseorang ditarik paksa keluar dari mobil sedan.

“Aku khawatir jadi pengangguran dan tak punya uang. Sementara kita di rimba dengan undang-undang sapu jagadnya. Terimakasih empat jutanya, kawan.” batin seorang teman Pria – yang kemarin meledak kepalanya.

Ia menabur kembang tujuh rupa di makam Pria. Tepat di hadapan, Hanpuan menimang cincin belah rotan.*

Batam, 10 Maret 2020


Poster : Bayu Aji Setiawan

Editor : Risen Dhawuh Abdullah

Maya Sandita
Latest posts by Maya Sandita (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *