Komunitas dalam Tubuh Ghilman

Dari Kendal Sketcher menuju Sanggar Lontong Opor

Komunitas menjadi infrastruktur penting dalam transformasi pengetahuan di luar pendidikan formal. Setiap individu yang terlibat akan mempengaruhi bagaimana corak komunitas tersebut hadir ke permukaan. Melalui Kendal Sketcer, sebuah komunitas seni rupa di Kendal, Ghilman mengakui bagaimana pentingnya sebuah komunitas di daerah. Menurutnya ekosistem kesenian di Kendal belum terbangun dengan baik. Segala akses dan referensi masih terbatas. Hal ini menjadi masalah baginya yang belajar seni rupa secara otodidak.

Kendal Sketcher semacam jembatan yang menghubungkan dirinya dengan berbagai hal. Mulai dari teknik, referensi, alat, bahan, dan yang terpenting baginya adalah support dari rekan-rekan. Hal yang tidak kalah penting lagi ialah dapat berjejaring dengan berbagai seniman di luar komunitasnya. Tentu hal itu juga turut memberi andil penting dalam proses berkeseniannya.

Bersama komunitas ini Ghilman telah beberapa kali mengadakan pameran secara kolektif. “Dari tahun 2013—2015 terhitung sudah  melakukan lima kali pameran kolektif di BKR. Antusias penonton baik, meskipun masih sekedar melihat-lihat,” jelas Ghilman saat diwawancarai. Akan tetapi, lambat laun eksistensi komunitas ini mulai memudar dan hanya melakukan pameran di luar komunitas.

Geliat seni rupa di Kota Kendal memang belum begitu masif seperti yang terjadi kota-kota besar. Jelas semenjak Kendal Sketcer berdiri hingga vakum, tidak ada komunitas seni rupa lain yang lahir. Sementara kesadaran akan ruang kolektif dirasa masih dibutuhkkan.

“Dengan sisa  enam anggota Kendal Sketcer yang masih sering berkumpul, ditambah dengan dua orang yang pernah bergeliat di Yogyakarta, tahun 2017 kami memutuskan untuk mengontrak rumah untuk dijadikan studio bersama. Kami menamai kelompok ini dengan nama Sanggar Lontong Opor. Nama Lontong Opor kami ambil dari waktu terbentuknya setelah lebaran.” Tukas laki-laki yang mengaku tinggal di pedesaan tersebut.

Setiap minggunya kelompok ini melakukan diskusi dengan cara bergantian melakukan presentasi karya. Satu sama lain saling memberikan masukan sehingga masing-masing seniman memberikan kontribusi pada kekaryaan seniman yang lain. Kegiatan lainnya ialah mengikuti pameran yang terselenggara di tempat lain. Sayangnya serupa dengan komunitas sebelumnya, kelompok ini juga tidak berjalan lama. Pameran bertajuk “Identity” di tahun 2018 dapat dikatakan sebagai jejak kolektif pertama sekaligus terakhirnya.   


Menyikapi  Ideologi Hobi dan Kebutuhan

“Tahun 2011 saya merantau ke Kaltim di perkebunan sawit. Satu tahun di sana bertemu dengan multi etnis. Sempat pulang sebentar, tahun 2012 merantau lagi ke Kalbar bekerja menggambar kaca untuk masjid, rumah, dan gereja.  Disitu banyak waktu untuk menggambar menuangkan ide-ide. Setelah itu pulang karena tahu Kendal Sketcher akan mengadakan pameran pertamanya. Saya berantusias untuk ikut dan semenjak itu saya bergabung dengan mereka.” Jelas Ghilman yang juga sering disapa Paton tersebut.

Mengenai ide, Ghilman mengaku banyak berangkat dari realitas keseharian dan mencoba meresponsnya dengan perspektif tertentu. Untuk membantunya mengingat ketika melihat fenomena menarik, ia menuliskannya ke dalam buku semacam diary yang dapat ia buka suatu waktu. Ia mengaku karya-karyanya banyak terpengaruh dengan seniman dari Polandia yaitu Zidzlaw Beksinski.

Seni baginya menjadi ideologi kebutuhan yang dapat disikapi dengan fleksibel. Ketika berbenturan dengan kebutuhan ekonomi Ia menyiasatinya dengan melukis pesanan seperti mural, dekorasi pengantin, dan lain sebagainya.

“Dulu apapun saya kerjakan, ketika tidak ada job melukis, saya ke sawah. Dan saat ini menekuni desain ilustrasi untuk mencukupi ekonomi. Disamping itu saya tetap menuangkan ide-ide saya sendiri dengan media lukis atau tulisan,” jelasnya.

Selain hal tersebut, saat ini Ghilman juga membuat ruang bermain belajar non-formal di lingkungannya dan membantu adiknya menjalankan perpustakaan jalanan yang dinamai Lapak Baca Rak Niat.


Melihat Dua Karya Ghilman yang Terinspirasi Kebakaran Hutan di Kalimantan 2019

HARAPAN-2019

HARAPAN

Bumi laksana sebidang cermin besar bagi segala yang berada di dalamnya. Apakah manusia melihat rupanya sendiri yang penuh luka ketika membuat kerusakan di bumi? Hewan dan tumbuhan tidak dibekali kemampuan berpikir selayaknya manusia karena itulah (seharusnya) manusia bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada bumi.

Peradaban manusia semakin melaju maju hari ke hari, tercipta teknologi canggih untuk memudahkan kehidupan manusia di segala bidang, laju natalitas manusia tak terkendali, sumber daya alam makin menipis, serta kehancuran bumi begitu dekat dan nyata bagai denyut urat nadi di tangan.

Kerusakan bumi bak bom waktu yang berakumulasi sedari dulu hingga hari ini. Dibutuhkan kesadaran bahwa setiap individu adalah kontributor perubahan. Kesadaran akan hal-hal yang bisa berdampak buruk bagi alam semesta dan seisinya perlu diantisipasi. Sikap menuju perubahan semestinya dilandasi cinta dan kesadaran, kesediaan berjuang tanpa mengharap imbalan, pengorbanan penuh keikhlasan, menumbuhkan dan membangun rasa dari kedalaman jiwa. Cinta harus menjelma tindakan agar perubahan terjadi.


FUSION-2019

FUSION

Kecanggihan teknologi memudahkan manusia mengakses informasi dan berinteraksi dengan seluruh dunia yang semuanya tidak dapat divalidasi kebenarannya. Keprihatinan terhadap kerusakan alam, kepunahan fauna dan flora, dan sisi kemanusiaan seolah terabaikan. Manusia seperti makhluk asing di bumi yang tidak bisa menyatu dengan alam. Tak sedikit manusia mengabaikan dan tidak peduli atas kerusakan yang disebabkanya. Ketaksadaran manusia akan tindakan buruknya menjadikan bencana semakin besar dari waktu ke waktu. Namun, tetap ada segelintir manusia dengan kesadaran menyatu dengan alam dan berusaha memperbaiki kerusakan alam yang terlanjur terjadi.

Barangkali, manusia perlu memikirkan ulang dan merasakan apa yang ada di sekelilingnya. Elemen-elemen alam, semua yang hidup, berdetak, dan bergerak. Segala hal mencoba berbicara dengan manusia, namun karena kemiskinan kepekaan jiwa dan hilangnya sensitifitas membuat manusia jauh dari alam. Manusia (merasa) sebagai makhluk paling unggul dengan kecerdasan yang dipunyainya sehingga merasa memiliki otoritas kuasa lebih, keinginan campur tangan, serta dominasi tinggi terhadap alam. Hal tersebut menjadikan manusia makhluk tak tertandingi dan memiliki kendali ekploitasi bebas yang pada muaranya berdampak buruk bagi bumi dan dirinya sendiri.


Reporter: Kurniaji Satoto | @kurniajisatoto

Poster: Kurniaji Satoto

Editor: Kurniaji Satoto & Jemi Batin Tikal | @jemisekali

M. Ghilmanul Faton
Latest posts by M. Ghilmanul Faton (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *