Kilas Balik Insidental Moment #10

Puisi-puisi Jemi Batin Tikal

Pasar Kembang Suatu Malam

Menyingkir pinggir rel kereta

gigil kerikil debu tengah malam

angin dingin menjelang kemarau

remang mata bulan lampu padam cahaya

Sunyi tegak puncak dini hari

Kenangan lalu lalang, berlintasan satu-satu

Malam kusam menyelinap balik dinding

Pekat keringat bau apak melekat

pada bantal dan apa-apa yang kita kenal

Di Pasar Kembang, apa saja yang mekar dan bertumbangan?

Kau dapati mata-mata mencari cinta sepi

terlindas panas siang hari

Jalur rel terulur jadi urat nadi, denyut hidup dinyalakan malam

Kita jabat sepakat, mata sama ngerti betapa ngeri sendiri

Sungguh, perempuan kau sunyi tak teratasi

Yogyakarta, 2020


Sajak Ra

Ra, hanya angin daun kering mengembus di sini

Tanah retak pecah sejarah merah darah

Mengapa kita bersikeras percaya

pada cinta tumbuh sembarang cuaca

Hanya angin belaka menggugurkan kata percakapan kita

Cintaku: laut terbentang runcing karang

Selat-selat sepi tak lagi dilintasi

Semenanjung tak kunjung datang pengunjung

Camar gemetar mendapati pelabuhan murung

Kandas lambung kapal perairan dangkal

Mata pancing buta jala putus genggaman tangan nelayan

Pesisir terakhir ketemukan kau terdampar sendiri memandang lengang laut

Ra, di Lombok dan Bangka kita menyusur simpang siur riwayat leluhur

Mencari muara berita dan patah pohon silsilah

Mengeja nama-nama dalam lain bahasa yang tak akrab di lidah

Yogyakarta, 2020


Esai Syafiq Addarisiy

Ketidakmengertian Tono di hadapan Tiga Puisi Temannya: Sebuah Cerita

I

Tono mendapat tiga pesan WhatsApp dari temannya. Pertama, pertanyaan basa-basi yang tak usah dibahas di sini. Yang kedua berisi permintaan untuk membicarakan puisi-puisinya di komunitas tempat ia sedang berproses kreatif. Sedang yang ketiga berisikan fail puisinya sendiri, yang jumlahnya juga tiga. Kamis malam, 28 Agustus 2020, ia hendak belajar untuk membicarakan puisi temannya yang lelaki muda dengan jiwa yang tak bisa dihancurkan kenyataan itu.

II

Sabtu, setengah tiga dini hari. Tono membuka fail dan membaca puisi pertama temannya yang berjudul “Pasar Kembang Suatu Malam”. Dugaan Tono benar. Ia langsung kebingungan. Judul puisi itu membuat Tono beranggapan bahwa ia akan diajak ke sebuah dunia dalam puisi yang memotret sesuatu yang khas dari suatu malam di Pasar Kembang, yang Tono duga adalah lokalisasi dekat Malioboro, dan sering disebut Sarkem, itu—amboi!

Tapi tidak. Bukannya mendapat penggambaran yang khas mengenai Sarkem di suatu malam semacam itu, Tono justru berhadapan dengan deksripsi latar yang berbunyi begini: Menyingkir pinggir rel kereta//gigil kerikil debu tengah malam//angin dingin menjelang kemarau//remang mata bulan lampu padam cahaya//.

Tono tak mengerti. Bait pertama itu seperti tak menyiratkan apa-apa kecuali deskripsi latar. Tono kurang bisa merasakan suasana yang diusahakan dibangun melalui empat baris itu. Di sisi lain, dalam bait pertama itu, Tono sendiri juga kurang dapat menangkap sesuatu yang khas atau spesifik mengenai Sarkem, selain bahwa ada penyematan frasa rel kereta, sehingga citraannya kurang terbangun.

Tono bingung menjawab ketika dirinya sendiri bertanya: Memang kenapa kalau di pinggir rel kereta di tengah malam yang dingin menggigil sebab angin menjelang kemarau bertiup kencang dan lampu mati dan hanya bulan yang purna menyinarkan cahaya? Bukankah setiap malam Sarkem seperti itu juga? Apa istimewanya?

Walakin, Tono jelas harus berhati-hati. Sebab, demi langit dan bumi, puisi yang sedang dibacanya adalah karya lelaki pemuda calon nobelis masa depan. Tono harus menyuntukinya dengan khusyuk nan saksama, sebab siapa tahu di baris berikutnya ada hal yang memang akan menggoncangkan jagat raya.

Dan ternyata tidak.

Tono berpemahaman, bait kedua puisi Sarkem itu juga berkasus sama laiknya bait pertama. Enam baris di sana hanya berisi deskripsi, tak ada yang khas. Tono memang merasakan bahwa bait kedua ini punya citraan yang lebih kuat tinimbang bait pertama. Frasa “Pekat keringat” dan “bau apak” yang “melekat pada bantal” menyuguhkan gambaran visual yang cukup mengarah ke gambaran tentang Sarkem, dengan penguatan baris terakhir yang secara tersurat menyebutkannya. Tapi, batin Tono, tidakkah tiap malam Sarkem seperti itu juga? Lalu, apa istimewanya. Tono bingung.

Meski begitu, Tono cukup senang sebab bait kedua itu ditutup dengan pertanyaan yang cukup ciamik: Di Pasar Kembang, apa saja yang mekar dan bertumbangan? Baris terakhir bait kedua itu mengajak Tono untuk membayangkan sesuatu yang sulit dibayangkannya jika hanya membaca teks-teks prosa, apalagi berita yang mengangkat topik yang sama. Tono merasa tiba-tiba diajak merenungkan ulang Sarkem dengan sudut pandang, atau cara, yang lain. Bahwasanya, di Sarkem sekali pun, tetap ada yang bertumbangan, tetap ada yang dikorbankan, tetap ada luka yang tak kelihatan, tapi toh tetap juga ada yang bermekaran, yang entah apa. Itulah yang membuat Tono cukup bahagia dengan baris terakhir di bait kedua ini.

Namun Tono tetap menyimpan ketidakmengertian yang sama: Tidak/kurang adanya sesuatu yang khas yang diangkat. Tak ada hal khas dan genting yang hanya bisa disampaikan dalam bentuk puisi. Dan masalah itu masih tersambung ke bait ketiga, bahwa yang muncul daripadanya bukanlah citraan yang kuat dan khas nan genting. Tono merasa tak berhasil menangkap citraan yang menyiratkan hal itu. Yang Tono tangkap justru citraan yang datar dan tawar, yang tak ada bedanya dengan berita atau tulisan-tulisan feature tentang orang-orang grass root.

Pada akhirnya, mau tak mau Tono berhadapan kembali dengan pertanyaan yang sebenarnya ia hapus saja dari dalam pikirannya: Kenapa harus puisi? Kenapa tak ditulis saja dalam bentuk cerita atau malah berita? Kan lebih jelas. Kenapa jika memang harus ditulis dalam puisi, Tono seakan gagal menangkap ruhnya yang khas, ruh yang menjadikan suatu hal sulit bahkan tak bisa disampaikan dalam bentuk selain puisi? Kenapa seakan-akan, apa yang ada adalah akrobat bunyi dari kata-kata yang disusun-susun dengan (diusahakan menjadi) indah?

Kecuali baris terakhir!

Tono memang sulit menemukan ruh puitik dalam puisi pertama temannya yang telah bersumpah palapa hendak goncangkan jagat raya itu. Bahkan Tono mungkin memang telah gagal merengkuh jantungnya, sebab citraan-citraan yang muncul di benak Tono dari puisi tersebut hanyalah latar, yang tidak khas dan tidak mendesak, karena apa yang tersaji dapat dan mungkin malah sudah sering ditemui dalam bentuk cerita dan berita.

Sekali lagi, kecuali baris terakhir.

Baris terakhir dalam puisi pertama ini cukup membuat Tono agak lama berhenti. Tono yang awam soalan puisi dibuat terkejut oleh citraan yang muncul di baris terakhir itu. Sungguh, perempuan kau sunyi tak teratasi//.

Amboi. Tono sulit menyangkal bahwa baris terakhir itu menjadi semacam pemancar tenaga ke keseluruhan puisi ini. Itu sulit Tono punggungi. Masalahnya, Tono merasa bahwa kau lirik di bait ketiga itu dimunculkan terlalu tiba-tiba. Dua bait awal yang sepemahaman Tono menggunakan sudut pandang pengamat, tiba-tiba berubah memakai sudut pandang penutur yang membicarakan seorang mitra tutur sebagai objek atau kau lirik. Walhasil, Tono pun pasrah dan tak mengerti jika harus membicarakan puisi pertama temannya yang jelas sangat jagoan dalam mengolah kata ini.

Minggu malam, 20.49. Sendirian di kamar, Tono membaca ulang puisi itu, dan hasilnya masihlah sama. Tono belum menemukan yang khas dalam puisi itu, dan masih pula berpemahaman bahwa apa yang dimunculkan daripadanya adalah apa yang bisa dan mungkin sudah diceritakan dalam bentuk tulisan lain. Itulah yang ada di pikiran Tono. Dan hakulyakin, Tono hanya mampu berpikir sejauh itu, meski sudah mengorbankan malam minggunya bersama Tini. Sialan, batin Tono, harusnya aku malmingan saja sama Tini, bukannya sama puisi ini.

Sungguh, Perempuan, kau sunyi tak teratasi!

III

Minggu agak sore, Tono bangun tidur dalam keadaan belum berubah menjadi seekor ikan cupang atau selembar keset bertuliskan Welcome. Harinya seperti biasa. Mobil dan motor berseliweran di jalan. Pedagang-pedagang keliling bergantian meneriakkan dagangan. Sinar matahari menelusup masuk melalui ventilasi kamar dan meninggalkan pengap yang tak menyenangkan. Dan Tono masih belum mengerti puisi temannya yang berjudul “Sajak Ra”, meski sudah dibacanya 37 kali pagi harinya setelah subuh.

Tono memang sempat berencana hendak membacanya ulang sampai 370 kali. Tapi, alih-alih langsung melakukannya, Tono malah berpikir: Apakah pembacaan ulang memang akan membantunya memahami puisi adiluhung ini? Tono terjebak dalam masalah yang sudah purba dalam kehidupan umat manusia: terlalu banyak menimbang sehingga ragu dan justru jadi pengecut dan tidak melakukan apa-apa.

Jika pikiran Tono diamati dengan mikroskop, akan tampak kuman-kuman dan bakteri-bakteri yang mendesis seperti ini: Kenapa puisi ini seperti mendua? Kenapa di satu sisi terkesan akan mengangkat narasi besar, semisal sejarah atau identitas, tapi di sisi lain terasa eksistensial-personal? Kenapa citraan yang muncul juga problematik sebagaimana di puisi pertama?

Di dua baris pertama, Tono merasa bahwa hal yang akan diangkat dalam puisi tersebut adalah soalan yang berbau-bau narasi besar: Ra, hanya angin daun kering mengembus di sini//Tanah retak pecah sejarah merah darah. Ah ah ah ah ah yang lima kali itu kental sekali dengan nuansa yang demikian. Akan tetapi, Tono terperanjat tatkala melanjutkan membaca Mengapa kita bersikeras percaya//pada cinta tumbuh sembarang cuaca//Hanya angin belaka menggugurkan percakapan kita.

Tono tak habis pikir kenapa yang muncul dalam pemahamannya adalah bahwa tiga baris lanjutan itu justru terkesan bersifat eksistensial-personal dansentimentil, tidak lagi menyaran kepada hal-hal yang berbau narasi besar. Yang lebih bikin Tono pusing lagi, bait kedua itu justru malah menyuguhkan citraan yang lain: laut, pantai, selat, karang, camar, dan pelabuhan. Padahal, di bait pertama, citraan yang dibangun cenderung mengarah ke daratan, yang kering-kerontang: tanah retak pecah, daun kering. Apakah di sebuah pantai, dimungkinkan adanya tanah yang retak-retak dan pecah? Memangkah seperti itu? Tono tak mengerti. Sungguh tak mengerti.

Walakin, meski bagi Tono terasa kurang padu, Tono tetap senang karena hal yang tertangkap di akhir bait pertama dan keseluruhan bait kedua dan ketiga saling mendukung: patah hati dan kesepian—unch sekali!

Tono tetap senang membaca bait dua dan tiga tersebut sebab suasana dan citraannya yang jelas untuk dibayangkan dan dirasakan. Gambaran visual tentang pantai, laut, selat, dan pelabuhan yang sepi pengunjung cukup kuat membangun dan memperkuat suasana kesepian yang mungkin menjadi tema yang coba diangkat di bait ini. Dan bagi Tono, itu syahdu—minimal untuk dibaca Tono yang berhati mudah pecah, melankolis, ritmis, dan liris.

Tapi, untuk yang kesekian kali Tono harus pasrah pada ketidakmengertiannya tentang kenapa bait terakhir di puisi tersebut seperti menawarkan keambiguan. Bahwasanya, di satu sisi, yang muncul dalam puisi ini adalah masalah personal-eksistensial, semisal kesepian, sementara di lain sisi yang terangkat justru adalah soalan relasi antara aku, dan kau, lirik dengan sesuatu di luar dirinya yang mengarah ke hal yang berbau narasi besar.

Kenapa sesuatu semacam itu terjadi? Benarkah puisi kedua temannya itu memang mendua? Apakah itu disengaja? Apa pula maksud dari “Ra” yang menjadi penanda identitas kau lirik dalam puisi ini? Apa penanda itu merujuk ke referen yang person, atau malah yang lainnya?

Tono tak begitu mengerti. Baginya, “Sajak Ra” ini terasa kurang padu, bukan hanya karena perbedaan citraan yang muncul di bagian awal, tengah, dan akhir, melainkan karena seakan ada dua hal yang hendak disampaikan. Dan, semengerti Tono, kedua hal tersebut kurang terjembatani dengan diksi-diksi yang digunakan untuk membangun citraan-citraan dan suasana. Dengan kata lain, puisi ini bermasalah dalam hal keutuhan, sehingga menjadi kurang kuat dalam menyangga sesuatu yang hendak diangkat.

Sekali lagi, itulah yang berkelebat di pikiran Tono. Benar atau tidaknya, Tono sendiri tentu kurang tahu pasti. Yang Tono tahu pasti, matahari sudah hampir tenggelam, dan TOA-TOA masjid sedang saling berlomba mengumandangkan azan. Tono bangkit, melakukan peregangan badan sebentar, lalu mengambil handuk dan menyampirkannya di pundak kiri, kemudian berjalan ke kamar mandi.

IV

Senin malam, teman Tono berkunjung ke kamar indekosnya, dan kini sedang bermain gitar, menyanyikan “Ain’t No Sunshine” dengan suara yang lumayan sumbang. Nadanya diambil di A minor, dan tempo ketukannya lebih lambat. Barangkali, jika Bill Whithers sendiri yang menyanyikan lagunya itu dengan nada dan tempo aransemen temannya ini, ia akan kehabisan napas. Tapi sudahlah. Lupakan saja. Toh Tono tetap masih bertungkus-lumus dengan ketidakmengertian di hadapan “Membaca Kota Menerjemahkan Musim”:

Membaca Kota Menerjemahkan Musim

Masa lalu ditafsir sembarang

membatu di ceruk karang

ada desir tak terusir gemuruh pantai.

Angin terhenti seumpama kata-kata patah di lidah.

Tono terhenti agak lama di empat baris ini. Meski detak jantungnya tidak lantas jadi terpacu lebih cepat, tapi empat baris itu cukup memberi Tono perasaan syahdu. Dalam pikiran Tono, muncul semacam sesuatu yang lama tak dijamah, teronggok hingga membatu, tapi selalu ada, tak pernah terusir. Dan sesuatu itu mungkin menimbulkan perasaan yang menyakitkan dan membikin yang harusnya terus berjalan-mengalir menjadi terhambat-terhenti.

Tono menghisap Gudang Garam Signature yang tinggal sepertiga dengan tangan kiri, menahan asapnya agak lama di dalam dada, lalu mengembuskannya ke udara, sembari membayangkan sesuatu yang jauh dan jarang muncul lagi tapi tak pernah hilang, membayangkan citraan yang ditangkapnya dari empat baris tersebut. Lautan, karang, ombak, dan angin. Tono senang dengan empat baris itu. Citraannya jelas, kuat menopang apa yang hendak diangkat.

Tapi kesenangan Tono tak bertahan lama. Di dua baris selanjutnya, Tono kembali terperangah:

Cinta serupa ranting kering

mudah patah dan jatuh ke tanah.

Suasana yang termunculkan dua baris itu memang nyambung dengan empat baris di atasnya: kesepian yang memunculkan semacam kesyahduan. Tapi, Tono kurang bisa mafhum mengapa citraan yang termunculkan melompat dari hal-hal yang berhubungan dengan lautan ke daratan yang agaknya sedang dilanda kemarau. Apakah temannya yang berjiwa Sisifus mendorong batu ke puncak Olympus setelah dikutuk Zeus itu memang sengaja mengaget-ngagetinya dengan surprise samacam itu? Jika memang iya, maka ia berhasil, setidaknya terhadap Tono pribadi. Tapi benarkah seperti itu?

Agaknya memang benar. Teman Tono itu memang berniat mengaget-ngageti dengan bait lanjutan yang juga meneruskan dua bait di atas yang berubah mendadak itu:

Musim begitu sulit dan kemarau tak lagi mampu dihalau

Biji-bijian gagal membelah dan berkecambah

Segenap yang berupa kayu jadi abu

Semua yang bermula dari tanah jadi debu

dan semua yang mengakar padanya menguning layu.

Sepenangkapan Tono, jelas citraan yang muncul di bait keempat itu sudah bukan lagi tentang laut. Kemarau, biji, membelah-berkecambah, kayu jadi abu, tanah jadi debu, mengakar-menguning-layu, semua itu terasa mengarah pada citraan tentang daratan.

Tapi, renung Tono, kenapa lagi-lagi terjadi lompatan citraan semacam ini? Kenapa bagian awal puisi yang membangun citraan tentang laut ditinggalkan begitu saja di bagian-bagian berikutnya? Jika itu dilakukan demi memperkuat suasana, kenapa tidak melanjutkan citraan yang sudah dibangun sejak awal? Bukankah hal semacam itu justru menjadikan keutuhan puisi ini menjadi kurang kuat?

Tono tak mengerti, dan hanya bisa menghela napas berkali-kali.

Walakin, meski sudah menghela napas berkali-kali-kali, Tono masih, dan malah semakin, tak mengerti dengan baris terakhir yang berbunyi: Segala yang berarti aku, mencintaimu.

Di empat beris pertama, Tono serasa akan diajak bertamasya ke sebuah pantai yang sepi, mirip yang dirasakannya ketika menyuntuki bagian tengah puisi kedua. Tapi masalah yang kemudian dialami Tono juga mirip: tamasya itu sangat singkat, dan dengan kelewat tiba-tiba sudah diseret ke daratan yang sedang dilanda kemarau, di mana tanah retak, biji tak tumbuh, tanaman kering, layu, dan ranting kering patah jatuh ke tanah.

Membaca “Membaca Kota dan Menerjemahkan Musim”, selain merasa citraannya kurang padu sebab berpindah kelewat cepat, Tono juga tak mengerti bagaimana hendak memahami apa yang dimaksud dengan frasa “Membaca Kota” pada judulnya. Sebab, dua belas baris itu, sepemahaman Tono, seakan tak sedikit pun menyuguhkan sebuah hasil “bacaan” tentang kota yang kemudian disajikan dalam bentuk puisi. Tono tak mendapati itu, atau pun suasana, adat-kebiasaan, perilaku orang-orang, atau apa pun soal kota. Tono hanya mendapati “terjemahan” soal musim.

Namun begitu, “terjemahan” tentang musim dalam puisi ketiga teman Tono itu pun juga problematis seperti di puisi pertama: klise karena tak ada hal yang khas dan/atau mendesak, yang sulit bahkan tak bisa disampaikan kecuali dalam bentuk puisi.

Maka, puisi ketiga temannya yang berjiwa membara tak pernah mati ini untuk kesekian kalinya memaksa Tono pasrah terhadap ketidakmengertiannya. Selain karena hal-hal yang telah disinggung di atas, Tono merasa kurang bisa mengerti kenapa penyematan tanda-tanda baca dalam puisi ini terkesan lebih ketat dibanding dua puisi sebelumnya. Bait satu dua dan tiga menunjukkan kecenderungan demikian yang kuat. Namun, bait empat lagi-lagi membuat Tono mengernyit dahi karena tanda titik hanya disematkan di baris kelima yang merupakan baris terakhir di bait tersebut.

Jika bait keempat tersebut memang diandaikan sebagai satu kalimat panjang yang dienjambemen, kenapa baris kedua, ketiga, dan keempat di bait keempat tersebut tetap didahului huruf kapital, dan bukan huruf kecil? Padahal, di bait satu dan tiga, yang tampaknya juga diandaikan sebagai satu kalimat panjang yang dienjambemen, baris dua dan tiganya hanya diawali dengan huruf kecil. Karenanya, Tono sulit tak bertanya, kenapa di baris terakhir puisi ini ada tanda koma setelah kata “aku”?

Apakah tanda koma itu dimaksudkan untuk jeda pembacaan atau penekanan? Jika iya, baiklah. Tono berhusnuzan bahwa itu adalah usaha temannya menginovasi konvensi bahasa—meski Tono sulit yakin bahwa itu berhasil. Tapi masih ada masalah lain yang sulit dipecahkan Tono, yakni: Kenapa baris terakhir tersebut tampak seperti diandaikan sebagai kalimat yang berdiri sendiri, terpisah oleh tanda titik dari kalimat panjang di bait sebelumnya?

Tono kesulitan memecahkan persoalan tersebut. Sebab, sepenalaran Tono, baris terakhir itu masihlah anak kalimat yang belum bisa berdiri sendiri tanpa induk kalimat. Jika itu diandaikan pula sebagai licentia poetica penulis dalam memainkan konvensi aturan tanda baca dalam bahasa, kenapa bait-bait sebelumnya menunjukkan kecenderungan untuk taat pada aturan tanda baca? Lagi-lagi,  kenapa bagian awal dan akhir tampak seperti kurang padu seperti ini? Apa penyebab ketidakkonsistenan ini? Apakah ada maksud tersembunyi darinya?

Tono tak mengerti. Sungguh tak mengerti. Yang sungguh Tono mengerti hanyalah tubuhnya menggigil hebat setelah merasai sendiri betapa dahsyat puisi seorang pemuda yang kelak akan abadi namanya di jagat kesusastraan dunia ini. Sayup-sayup, TOA-TOA masjid sudah kembali berlomba melantangkan azan subuh, dan matanya jadi berat sekali.

Mlangi, 25 Agustus 2020


Insidental Moment #10

#KisahBalik

Foto Diskusi

Diskusi ini merupakan kegiatan pertemuan fisik pertama kami setelah memutuskan istirahat hampir lima bulan selama pandemi. Meskipun di luar itu tentu saja masih terjadi pertemuan liar dengan beberapa pihak yang lebih bersifat personal di sekretariat.  Website menjadi media yang kami gunakan untuk menjaga keterhubungan dengan dunia luar.

Setelah menilik kondisi luar dan dalam, sehingga segala sesuatunya memungkinkan, kami memulai kembali kegiatan dengan ruang kerja #InsidentalMoment; sebuah diskusi yang menitikberatkan pada keintiman berdiskusi. Biasanya kami tidak membatasi peserta, karena meskipun terbuka, hanya satu dua saja  hadir. Tetapi sebagai bentuk antisipasi kami membatasinya dengan maksimal 12 peserta.

Dalam Insidental Moment kali ini, kami mendiskusikan puisi Jemi Batin Tikal dengan pemantik sekaligus pengulas Syafiq Addarisiy dan dipandu oleh Fathurahman Ramadhan. Dengan gaya naratif menggunakan tokoh Tono, Syafiq menuliskan esai yang menguraikan puisi Jemi. Ada tiga judul puisi yang dibahas dalam diskusi ini, yaitu Pasar Kembang Suatu Malam, Sajak Ra, dan Membaca Kota Menerjemahkan musim.

Menurut Syafiq, ada beberapa hal yang perlu Jemi pertimbangkan dalam puisinya. Semisal dalam puisi pertama, merujuk kepada judul, isi belum merepesantasikan Pasar Kembang, atau masih belum spesifik. Perlu adanya penguatan suasana batin. Sementara dalam puisi kedua, Ia menggaris bawahi  masalah lompatan citraan dan posisi aku lirik yang tidak konsisten. Dalam puisi ke tiga Syafik membahas masalah keseruangan puisi dan memberikan saran penggunaan tanda baca ( ; ) di bait terakhir supaya masih dalam satu kesatuan.

Selanjutnya Fathur, selaku pemandu acara, melemparkan diskusi ke peserta lain. Tanggapan yang muncul beragam. Ada yang mengatakan puisi tersebut sudah bagus, beberapa mengamini argumentasi syafik, dan ada juga yang memiliki pandangan lain. Pandangan lain tersebut datang dari  Zulfikar Pohan. Menurutnya puisi Jemi justru mengacu kepada sebuah ideologi penolakan kepada hal-hal yang bersifat antroposentris. Hal tersebut dia tafsiri dengan membaca sepenggal-pengal puisi jemi. Pertanyaan muncul dari salah satu peserta, apakah dapat sebuah puisi di tafsir secara sepenggal-penggal?

Zulfikar menimpali pertanyaan tersebut dengan bercerita bagaimana kebiasaanya di Aceh ketika menafsir syair-syair Hamsah Fansuri secara sepengal-pengal.  Kemudian mengahirinya dengan sebuah pertanyaan, “apakah mungkin jika cara tersebut digunakan untuk menafsir puisi jemi?” mempertimbangkan waktu, diskusi ini diselesaikan. (teman-teman dapat memberikan pendapat pada kolom komentar).

Seperti biasanya, sebelum ditutup pemandu memberikan kesempatan kepada penulis untuk menceritakan proses kreatifnya. Menurutnya terkait dengan posisi aku lirik ia memang secara sengaja menggunakan dua sudut pandang, berada di luar dan di dalam.  Terkait dengan masukan, Kritik,  dan kemungkinan lain potensi puisi tersebut, Ia akan mempertimbangkanya kembali.

Peserta Diskusi: Dzaki, Jemi Ilham, Syamsul Bahri, Fathurahman Ramadhan, Nurul Dwi, Enggar Jiwanto, Mirja Sentani, Zulfikar Pohan, Syafiq Addarisiy, Ni’mah Nur Laili, Iwan, Kurniaji Satoto

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *