Episode Karna dan Puisi-puisi Lainnya

Gali

Indit bari cicing, milampah teu ngaléngkah·

.

Di kening kamera aksi menyala

nyalang kedap-kedip menatap badan bumi,

cangkul mengeruk tanah,

buka lubang keliling Beringin

bertarung musim kering.

“apa yang kau cari, nak?

Cacing?

Atau

memakamkan bangkai kucing

dikalahkan peradaban gonggongan anjing?

Mencari tahu—

cara akar menyuapi batang

yang menafkahi ranting

memanjakan daun.

Kamera aksi untuk mengenang pengalaman,

ganti kening gagal kenang ingatan paling prasasti

pengalaman yang kerap menjelma kabar gagap

kisah tak tuntas batal merupa legenda.

Lalu akan kutuliskan riwayat di kitab pengetahuan alam

kitab rumus kehidupan, rancangan organ menyatu badan,

setelah kutemui jurus akar menghidupi kehidupan daun,

atau

sembunyi cacing di tanah hening

atau

bangkai kucing dengan luka gigitan anjing.

.

Memori paling kenang

tidak tersimpan dalam bayang ingatan

yang harus kau rapalkan.

“buatkan juga lubang di kamarmu,

tempat asli diri membayang,

di lubang paling gua,

perkenalkan namamu

pada bayangan paling maya

yang menamai dirinya dengan namamu.”

Purwokerto, 2020


· Falsafah Sunda : Pergi sambil diam, menjelajah tanpa melangkah (terj)


Akhir Petualangan Adalah Pulang

Maka kutemui lagi kau di taman

kembang mekar di sisian garis tangan,

kita berbincang lagi di kursi jari kelingking

membayar janji sebelum petualangan bermula.

Penutupan abad ini;

aku membawakan seikat karangan bunga

dari gunung yang kujelajah.

Kau mesti mengetahui

dalam perjalanan

kulahap bahasa yang melintas

umpama seliweran komet mumbul disela planet-planet,

menggoreskan cahaya dikehitaman tata surya

menggoreskan kelap-kelip wahyu

di tempurung semesta kepala,

sedangkan di gunung

para pemuja cahaya membangun kota

dari tumpukan tanah

dicangkul dari sawah,

dicangkul dari ladang,

sawah dan ladang lahan makam nan mitos.

Akhir dari petualangan adalah pulang,

disisian garis tanganmu kembang mekar

semekar bahasa ibu

mulai kuucapkan lagi.

Bahasa ibu menuntun jalan

kata sukar diterka

pintal kalimat meriwayatkan semesta

dan

menuntunkan seorang kekasih

singgah di jari manis

manis kehidupan

kami lahap selapar pohon

mengunyah remah hujan.

aku meninggalkan kekasihku di kota

ia namakan bumi

bersama anak yang membangun kota

dengan pondasi paling beton

dibangun tangan-tangan besi

dirancang kepala-kepala martil.

Kekasih welas asih

mengguyur duka di lahar suka cita

membasahi suka dengan sebotol duka cita

maka ia mengajarkan cinta

yang kau nasihatkan padaku.

“sekarang, tuntun aku pulang

meraba arah, menggiring mata renta

memandang wajah yang kita sebut ibu.”

Purwokerto, 2020


Poliembrioni

Jika manusia lahir dari harapan,

maka aku telah melahirkan diri seribu kali

di kamar persalinan angan

sebab menyemai angan tak perlu matahari,

Hanya perlu tumbal cikal diri

untuk dewa yang bersemayam di cermin ajaib

kita dijebak bayangan ajaib

disebut maya.

Aku hanya perlu mengorbankan sebatang fakta

meneguk secangkir dusta,

sesekali menjadi seekor kucing

menyalak segarang gongong anjing,

 “aku menantangmu berperang

dari kamar masing-masing,

senapan jempol dan peluru kata-kata

prajurit anak-anakku yang angan!”

Purwokerto, 2020


Episode Karna

:Untuk Irfan Ma’sum Nugroho

Kulihat wajah ibu membayang

di genang darah yang lukis langit,

awan merah merentang pangku

menyambut kelahiran bayi,

menimang petaka gelombang nasib

Aswa, mengalirkan pelajaran hidup

dari gelombang paling mala

perjalanan menuju lautan muslihat.

Ibu tetap saja ibu,

konon petarung paling satria

tak melukai batin ibu;

jagad mula-mula

akhir babak kematian

batin pusara segala rahim.

aku juga ingin mengecup kening

angan yang telah memberikan semesta

kusebut Kurawa, kala mega mendung

angkasa mata ibu menitiskan kesedihan

menangisi kepergian.

 “ketika usia purna,

aku tak asing kesucian

musabab antara kedua kakimu

kalang surga, kalang neraka

kau bawa berarakan”

hilang sakti, hilang nyawa

sakti batin dan sakti raga

katak dalam tempurung

batal kukenalkan pada peperangan.

jati bangkai ini

sesaji puja untuk bumi

sebisu doa,

puji untukmu ibu.

Purwokerto, 2020


Lukisan poster berjudul “Catatan Ulang Tahun” karya Widya Prana Rini

Cek tautan di bawah “Proses Kreatif Widya Prana Rini”

Galuh Kresno
Latest posts by Galuh Kresno (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *