Penggalian Simbol Puisi Transformasi dalam Sketsa

Masa-masa kuliah, gallery adalah taman bermain rutin untuk dikunjungi tiap Minggu. Berdiskusi tentang karya di komunitas seni rupa Perahu art dan komunitas sastra Jejak imaji. Salah satu kawan pernah berkata “Sketsa adalah sebuah biji yang akan bertumbuh menjadi sebuah lukisan,” katanya di pinggiran sungai Opak ketika membuat sketsa bersama.

Foto: Dokumentasi Widya Prana Rini

Saat menghadapi sebuah lukisan, terkadang saya terperangah akan simbol-simbol yang diwujudkan dalam visual oleh perupa, teknik melukis yang berkelas, serta pewarnaanya. Sama halnya dengan menulis puisi, untuk menggurat atau menulis di atas media kertas butuh asupan nutrisi otak, berkenalan dengan karya-karya maestro, melihat karya baru, membaca, bersilaturahmi, sehingga menghasilkan puisi atau sketsa yang baik serta kaya makna. Membikin puisi dan sketsa tak jauh beda, membutuhkan pemikiran, olah batin yang baik, serta jam terbang yang tinggi.

Membaca adalah gerbang utama menuju ke lini-lini dan ceruk kecil kehidupan yang kemudian diubah menjadi simbol visual. Berkenalan dengan aliran gaya lukis sekaligus genre sastra, sejarah seni rupa dan sastra. Hingga sampai perihal hubungan antara manusia, alam, tuhan serta muatan-muatan yang menunjang hal-hal tersebut. Selepas itu, yang terpenting adalah eksekusi, baik menulis maupun menggambar. Berdiskusi dan menerima kritik atas karya. Mengembangkan karya dan memperbaiki lagi. Berpedoman pada ndelok, niteni, nambahi, (3N).

Segala sesuatu butuh proses, waktu, dan istiqomah. Pada masa proses, ketika membaca karya sastra, seperti cerita pendek, puisi, terkadang terasa terperangkap dan terhenti pada ruang kosong. Pada saat itu, meluangkan waktu sejenak untuk merenung, menyegarkan kembali pikiran, sembari jalan-jalan melihat karya lain, membaca buku, melihat katalog, mencari referensi di internet.  Hal semacam itu sering terbawa dalam kegaiatn sehari-hari. Saat inspirasi hadir, selanjutnya ialah mulai menyusun langkah dengan memadukan simbol-simbol dan membayangkan warna. Misalnya, salah satu yang pernah saya garap, puisi karya Mahwi Air Tawar berjudul, “Penyebrangan”,

Di anjungan tempat kegelisahan bersandar

Sebaiknya penumpang tak abaikan awan

Arah angin dan kompas perjalanan

Menuju kampung bersulur fajar


Dari sajak tersebut saya mengambil beberapa simbol kompas, kendali kapal, jangkar, dedaunan seperti tertiup angin, sulur dengan warna hijau kekuningan.

Karya Widya Prana Rini

Dari beberapa simbol itu saya meramunya menjadi sebuah sketsa sederhana, dan penyairnya suka, lalu dijadikan cover buku. Ketika membaca karya Abdul Wachid B.S, Faruk HT, Sule Subaweh, Jabrohim, Tiga penyair perempuan Aceh (D. Kemalawati, Rosni Idam, Wina SWI), termasuk karya Sapardi, Emha Ainun Najib memberikan banyak gelontoran ide-ide visual yang bermekaran di pikiran saya. Seperti sebuah sketsa di bawah ini.

Nak, tangga yang kau daki

Tak akan membawamu semakin tinggi

Dari bayang ibu,

Ia akan mengembalikanmu ke bumi

Menyatu bayang di tanah sepi

Di sanalah Ibu menanti

Menggenggam tanganmu kembali

Karya Widya Prana Rini

Saat membaca puisi, kita sebenarnya sedang menyediakan waktu sejenak berjalan ke dunia batin sendiri, berkontemplasi, menggali ingatan, membuka lembar-lembar kenangan, mengumpulkan mozaik visual. Terkadang hal-hal yang remeh temeh seperti gagang pintu, lubang kunci, jarum jam, lampu jalanan, payung yang tergeletak, pintu, gembok, toples, sehelai daun, kelopak mata, serta jemari. Masih banyak hal lainnya bisa dipakai menjadi simbol yang dapat menjadi jembatan antara visual dengan hal-hal yang bersifat sentimentil, transenden, cerdas, juga berkembang ke arah futuristik, ekspresionis, simbolik, surrealis, romantisme, dll.

Karya Widya Prana Rini

Karya Widya Prana Rini

Karya Widya Prana Rini

Karya Widya Prana Rini

Karya Widya Prana Rini

Proses Kreatif Widya Prana Rini

Seni Rupa

Sebelum memasuki dunia sastra, saya terlebih dahulu jatuh cinta pada seni rupa. Saya coba merenung sejak kapan sebenarnya, tetapi jawaban tersebut terus digali sampai hari ini. Dalam proses penggalian itu, kawan-kawan dari komunitas Jejak Imaji memberi stimulus untuk menulis proses kreatif perjalanan yang sedang saya lalui. Perjalanan yang belum selesai, bahkan masih jauh dari kata “sampai” seperti gambaran yang saya inginkan.

Jika mengingat masa kecil, saya teringat sebuah iklan sepeda. Seekor kelinci yang menaiki sepeda dengan lintasan pelangi di langit. Iklan sepeda itu selalu memancing pikiran saya dalam sebuah guratan. Bagaimana caranya menggambar pelangi yang berdimensi. Berulangkali saya mencoba menggores tapi hasilnya  garis-garis yang tidak membentuk ruang. Gambar itu tidak sesuai dengan imajinasi.

Dokumentasi Widya Prana Rini

Kadang ketika ada pekerjaan rumah yang diberi oleh guru semasa sekolah dasar (SD), saya jadi melibatkan ayah di tengah kesibukannya. Tak disangka saya jatuh cinta dengan gambar ayah, bahkan masih mengingat susunannya yang terdiri dari gambar gunung, pohon, gubuk, jalan, sungai, dan luasnya sawah. Saya ingin memiliki kemampuan menggambar yang memikat hati saat itu. Hari demi hari saya putuskan untuk mempelajari olah warna, meyakini kata-kata Pablo Picasso  bahwa semua anak adalah seniman. Masalahnya adalah bagaimana tetap menjadi seniman setelah besar nanti. Perlahan-lahan saya mencoba untuk tidak patah arang, mengikuti ajang kreasi, baik sifatnya mandiri maupun perwakilan dari sekolah.

Waktu sekolah menengah pertama (SMP), saya menjelma seorang siswa yang rajin belajar dan terus menggambar. Mencari seniman lokal yang ikhlas mengajari saya menggambar. Satu waktu, saya disodori sebuah katalog karya Agus Budianto, pelukis cat air dari Bali dengan tema poetry of rain. Di halaman pertama katalog itu tertulis Agus Budianto tidak pernah belajar di lembaga kesenian. Saya berpikir, inilah sebuah harapan karena memahami keluarga yang tak satu pun berlatar belakang seniman. Kalimat sebelumnya memunculkan kemungkinan saya tidak akan direstui memilih program studi seni rupa. Mengamati katalog tersebut, warna-warna pada tiap sapuan kuasnya mengalir secara alamiah seperti lelehan hujan. Di beberapa lembarnya tersaji puisi, setiap judul karyanya sangat puitis. Saya merasa terpengaruh oleh karya-karyanya dan dengan sadar ingin bertalian dengan dunia sastra dan seni rupa.


Beberapa ajang lomba saya ikuti, lomba tingkat kabupaten misalnya, pekan olahraga dan seni daerah, hingga lomba menggambar pramuka tingkat ranting (padahal saya bukan anggota dewan penggalang). Berawal dari melukis itu, saya mulai beririsan dengan jurnalistik. Bermula dari majalah sekolah menengah pertama (SMP) saya berkenalan dengan dunia jurnalistik. Menjadi bagian tim kreatif dan kemudian ditunjuk menjadi ketua redaksi. Majalah dinding bikinan kami meraih juara tingkat Kabupaten dan tonggak awal terbitnya majalah. Dari jurnalistiklah saya mengenal dunia dan teman baru, dari sanalah mulai akrab dengan dunia literasi. Setamat SMA saya kuliah di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Universitas Ahmad Dahlan (UAD), serta mengambil pascasarjana di jurusan Ilmu Sastra, Universitas Gadjah Mada (UGM). Saya bersinggungan dengan tiga dunia yaitu jurnalistik, sastra, dan seni rupa. Di tiga dunia tersebut saya masihlah pemula dan terus belajar.


Ilustrasi Poster: Kurniaji Satoto | Ig: @kurniajisatoto

Editor: Jemi Batin Tikal | Ig: @jemisekali

Widya Prana Rini

11 Replies to “Penggalian Simbol Puisi Transformasi dalam Sketsa”

    1. Terima kasih mas. Salam sastra. Semoga di acara pertemuan penyair berikutnya atau ketika main-main ke Kudus lagi atau main ke Dieng bisa bersua. (Widya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *