Dari Kacamata yang Lain: Menilik ‘Gerak-gerik’ dan Upaya Resistansi Waria di Indonesia

Judul               : Rumah Ilalang

Penulis             : Stebby Julionatan

Penerbit           : Basabasi

Edisi                : I, September 2019

Tebal               : 136 hlm.

ISBN               : 978-623-7290-23-0

Paruh kedua 2019 silam, Basabasi menerbitkan novela berjudul Rumah Ilalang karya Stebby Julionatan, salah seorang sastrawan muda asal Jawa Timur. Naskah novela tersebut menjadi salah satu naskah pemenang dalam Sayembara Novela Penerbit Basabasi 2019. Rumah Ilalang berkisah perihal kehidupan seorang waria bernama Tabita (nama sebenarnya adalah Alang), yang lantaran ke-waria-annya, ia ditolak oleh keluarga dan cenderung tidak disukai oleh lingkungan sekitarnya. Ia dianggap menyimpang dari kodrat kelelakiannya.

Hal tersebut tidak membuat sang tokoh menyerah, melainkan justru berusaha menumbuhkan harapan dengan jalan mengasingkan diri ke kota lain. Di tempat baru tersebutlah Tabita diterima oleh Mami Nancy. Ia juga bertemu dengan Tania, tokoh lain yang menjadi sahabat karibnya. Mereka bersama-sama mengurus Lembaga Swadaya Masyarakat Srikandi Utama (LSM-SU), komunitas waria yang memiliki kepedulian sosial terhadap masyarakat. Para punggawa komunitas tersebut terus berjuang menepis stigma dari masyarakat lewat tindakan-tindakan riil. Perlahan, mereka pun dapat diterima dan membaur lebih cair dengan lingkungan sekitar, meskipun pandangan negatif dan sinis tetap tak bisa dihilangkan sepenuhnya. Akan tetapi, nahas menimpa Tabita tatkala ia berusaha mengantarkan kue ulang tahun untuk seorang lelaki yang dicintainya: Gosvino. Tabita terlibat dalam kecelakaan, dan tubuhnya terkoyak, tercacah, lantaran terlindas truk besar.

Masalah baru pun muncul, sebab dalam beberapa waktu belakangan, Tabita kerap disaksikan ikut misa oleh warga sekitar. Ia dianggap telah berpindah agama, dari Islam ke Kristen, namun belum memiliki identitas jemaat yang jelas. Pengurus pemakaman muslim menolak memakamkannya secara Islam, pun ia tak bisa diurus secara Kristen lantaran identitasnya. Jasad Tabita berada dalam ketakjelasan: ditolak oleh jemaah kedua agama.

Jika menilik sejarah sastra Indonesia, permasalahan waria dalam karya tak teralu banyak diangkat oleh para penulis. Cerita-cerita tentang waria, barulah mendapatkan tempat dan perhatian setelah tahun 2000-an. Di antara beberapa karya tersebut, misalnya Lost Butterfly (2011) karya Yandasadra, Yonathan Rahardjo lewat novel Taman Api (2011), Okky Madasari lewat Pasung Jiwa (2013), Dea Anugrah lewat “Perbedaan antara Baik dan Buruk” dalam kumpulan cerpen Bakat Menggonggong (2016), dan lain-lain.

Hal tersebut, sepemandangan pribadi saya, tak lepas dari konteks negara Indonesia yang cenderung menganggap bahwa pembicaraan tentang waria adalah hal yang tabu, bahkan hina. Pandangan tersebut diperparah seiring situasi beberapa tahun belakangan, yakni tatkala timbul berbagai gerakan yang menuntut persamaan hak bagi kaum Lesbian, Gay, Biseksual, dan Trans-gender (LGBT). Tuntutan tersebut secara terang-terangan ditolak oleh sebagian besar Warga Negara Indonesia (WNI), yang notabene memang melekatkan pandangan semacam demikian diharamkan oleh agama. Masyarakat muslim menjadi penyuara paling keras dari aksi penolakan tersebut. Artinya, kehadiran waria cenderung dilihat sebagai persoalan antara ‘benar’ dan ‘salah’ dalam bingkai agama. Pertanyaannya, adakah ‘kacamata’, atau perspektif lain, yang dapat kita pergunakan dalam melihat eksistensi mereka? Sebelum menjawabnya, baiknya, sejenak kita kembali menyelam ke dalam teks!

Sebagaimana telah disinggung, mayat tokoh sentral bernama Tabita mengalami penolakan oleh orang-orang muslim dan kristiani lantaran identitas keagamaannya yang tidak jelas: ia muslim, namun rutin mengikuti misa tanpa tanda resmi sebagai jemaat. Dengan demikian, novela ini pun sebenarnya melontarkan kritik terhadap agama secara tak langsung, samar, subtil: dengan menghadirkan konflik utama berupa penolakan mayat waria oleh kelompok yang melabeli diri dengan identitas agama tertentu. Kelompok agama, yang semestinya memberi bimbingan dan menunjukkan wajah penuh cinta-kasih dalam menangani persoalan eksistensi waria, rupanya justru kerap kali tampil sebagai kekuatan ‘berotot’ yang memberi represi dan sikap kurang bersahabat.

Dibandingkan pengangkatan wacana tentang posisi waria, wacana-wacana tentang agama, termasuk dalam sastra, begitu rentan memantik konflik di Indonesia. Dalam konflik lantaran motif agama, selalu banyak massa yang dilibatkan, sehingga tidak jarang memicu konflik terbuka. Artinya, dalam bentuk apa pun, wacana yang merupakan kritik terhadap agama selalu rentan memantik konflik yang parah.

Secara khusus, jika melihat sejarah sastra di Indonesia lagi, maka akan ditemukan beberapa konflik yang sempat meletus lantaran karya sastra mencoba mengkritik atau mengangkat persoalan agama, seperti: kritikan keras kiai-kiai terhadap komedi sebabak berjudul “Komidi Alam Baka” yang diadaptasi dari cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis oleh Bastari Asnin (1962); H.B. Jassin digiring ke meja hijau, dicopot dari posisinya, sekaligus majalah Sastra yang diasuhnya dibredel lantaran memuat cerpen “Langit Makin Mendung” karya Kipandjikusmin (1968); dan kontroversi yang ditimbulkan novel Perempuan Berkalung Sorban karya Abidah El-Khalieqy setelah difilmkan, lantaran dianggap melakukan kritikan kontra produktif terhadap tradisi islam konservatif di lingkungan pesantren (2009).

Melihat kenyataan-kenyataan tersebut, sang penulis lewat novela ini sebenarnya menghadirkan dua wacana yang tabu sekaligus: tuntutan posisi kaum LGBT dan kritik terhadap agama. Ia berhadapan dengan dominasi ideologi heteronormativitas (baik di level negara, agama, maupun keluarga) dan masyarakat agama (khsususnya Islam) yang sensitif. Artinya, Stebby mempunyai keberanian lebih untuk menantang situasi tersebut dengan tampil lewat wacana-wacana yang diangkatnya dalam novela Rumah Ilalang.


Melihat Waria, Melihat Sisi Lain Mereka

Sekali lagi, harus diakui–baik dengan melihat bukti lewat media maupun lapangan langsung–bahwa beberapa tahun terakhir cukup gencar dilakukan tuntutan kesetaraan posisi bagi kaum LGBT. Ia adalah aksi, ia adalah topik yang kerap menyeruak di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, massa yang dilibatkan di dalamnya pun tidak dapat dikatakan sedikit, pun baik lewat aksi yang mandiri maupun dengan jalan ‘berganti seragam’: ikut gerakan-gerakan protes para buruh, demonstrasi para pekerja, dan lain sebagainya.[1] Akan tetapi, suara yang sebaliknya dengan suara perjuangan mereka, yakni penolakan, rupanya juga tak kalah bergema di sisi lainnya. Ya, lagi-lagi dalih penyimpangan terhadap  norma agama dan norma sosial masyarakat dijadikan palu pemukul balik ‘serangan’ mereka.

Kaum waria yang dikepung wacana heteroseksual di Indonesia, akhirnya terus-menerus meringkuk dalam posisi marginal dan kerap terepresi, mulai dari yang bersifat ejekan, hinaan, pelecehan, penolakan, hingga paparan kekerasan fisik. Koeswinarno, dalam bukunya, Hidup sebagai Waria (LKiS, 2004), mencatat bahwa penolakan lazimnya bermula dari lingkungan keluarga, kemudian berkembang ke ranah lingkungan masyarakat.

Stigma–untuk tidak mengatakan selalu–kerap dilekatkan pada diri kaum waria. Apa pemantik utamanya? Jelas, masalah gender! Dalam pandangan masyarakat, tiada variasi gender di luar feminin dan maskulin: masyarakat heteroseksual bersikukuh, tak mau tahu, ‘bodo amat’, dan hanya mengenal kedua gender tersebut, sekaligus secara tak langsung, mereka mengharuskan bahwa gender feminin adalah keharusan yang melekat pada jenis kelamin (seks) perempuan, dan begitu pula sebaliknya pada yang maskulin. Lanjut Koeswinarno dalam penelitiannya: siapa saja yang menyalahi konstruksi ‘ciptaan’ masyarakat tersebut–misalnya, laki-laki berpenampilan dan bertindak feminin, atau sebaliknya pada perempuan, atau mungkin juga dalam satu tubuh terdapat dua gender sekaligus–secara otomatis akan dilabeli sebagai sesuatu yang aneh, tidak normal, menyimpang, bahkan sesat.

Stigma terhadap waria terus diproduksi di tengah-tengah masyarakat, dilanggengkan dengan kehadiran berbagai media terkini, terlebih ketika misalnya beberapa kelompok waria tertentu didapati terlibat dalam kegiatan prostitusi, pengedaran obat-obatan terlarang, dan aktivitas-aktivitas tidak terpuji lainnya. Masyarakat semakin menaruh benci, menolak berinteraksi, berbaur, memberi ruang bagi mereka, serta menganggap mereka sebagai pemicu keresahan.[2]

Masyararakat, sepertinya, hanya terpaku pada informasi-informasi negatif semacam demikian, padahal di luar, di bawah luas lengkung cakrawala, di belahan bumi dan hampar tanah yang lain, kian banyak aktivitas-aktivitas positif dan produktif yang digerakkan pula oleh komunitas waria. Sebagaimana satu contoh kasus, pada tahun 2018, para waria yang menamai diri mereka Komunitas Waria dan Gay Singaraja (Wargas) melakukan aktivitas bagi-bagi kondom di daerah Bali, guna pencegahan penularan Human Immunodeficiency Virus-Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV-AIDS).[3] Tidak hanya itu, mereka juga bergerak dalam kegiatan sosial semacam penyuluhan pembuangan sampah, menjadi pelatih seni tari, membuka jasa rias, dan berbagi ilmu di bidang kuliner.[4] Secara langsung atau tak langsung, barangkali kita dapat menyebut ‘gerak-gerik’, aktivitas, dan upaya para waria tersebut sebagai bentuk resistansi di hadapan stigma-stigma masyarakat heteronormativitas.

Sebagaimana disinggung pada pembuka tulisan ini, sebelum pelik identitas Tabita jadi perdebatan masyarakat, sejatinya upaya resistansi LSM-SU berakibat pada dapat diterimanya mereka, serta perbauran lebih cair dengan lingkungan sekitar, kendati harus diakui pandangan negatif dan sinis tetap tak bisa dihilangkan sepenuhnya. Tak percaya? Coba susuri sendiri halaman demi halaman di balik sampul novela ini!

Lantas, adakah respons balik dari negara dalam skala lebih luas pada eksistensi dan resistansi kaum waria selama ini? Jawabannya adalah ‘ada’, bahkan pada masa tertentu dapat dikatakan ‘masif’. Sebagai misal, perihal pengakuan, negara memanglah belum mengesahkan identitas resmi jenis kelamin yang dimiliki para waria. Artinya, jika ‘pengakuan’ dimaknai sebagai pengakuan dalam konteks formal/legalitas hukum, kaum waria belumlah memperoleh pengakuan secara resmi. Akan tetapi, andai terma ‘pengakuan’ dimaknai sebagai usaha-usaha untuk mengapresiasi tindakan dan peran-peran mereka, maka sejatinya Orde Baru telah mengupayakan pemberdayaan kaum waria sejak tahun 70-an lewat Departemen Sosial. Kian banyak pembinaan yang dilakukan oleh pemerintah, salah satunya berupa pembinaan minat dan bakat dengan maksud agar para waria ‘sedikit menepi’, atau bahkan berhenti dari aktivitas cebongan (pelacuran) yang identik dengan mereka.[5] Aktivitas kelompok Wargas di Buleleng yang telah disentil sebelumnya juga menjadi bukti terkini, sebab mereka pun bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Buleleng, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Kesejahteraan Rakyat (Kesra), dan lain-lain.[6]


Bagaimana dengan Stebby?

Saya kira, penilikan terhadap intentsi pengarang perlu dihadirkan dalam mendedah novela ini. Kita dapat bertolak dari pernyataan-pernyataan (pengakuan) sang penulis, yang ia lontarkan dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Studio Pertunjukan Sastra (SPS) Yogyakarta, pada tanggal 22 Februari 2020, di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Sepengakuan Stebby, novela ini merupakan hasil riset, semacam pengamatan terhadap teman-temannya–sebab ia bergaul luas dengan para waria–yang notabene juga merupakan waria.[7] Baik tokoh Tabita, Tania, Nancy, dan Mami Yuli, dapat dikatakan merupakan karakter-karakter yang sekadar disamarkan namanya.[8] Mereka sejatinya adalah tokoh nyata dalam kehidupan Stebby. Singkatnya, pengarang berupaya menampilkan sisi lahir dan batin beberapa waria.

Dari sanalah kemudian ia dapati kenyataan, bahwa sebenarnya tiap-tiap waria menyikapi dengan cara berbeda apa yang ada pada tubuh dan apa yang bersemayam di dalam diri mereka: sebagian menolak tegas ‘tubuh’ prianya, sebagian lagi tetap mengakui keutuhannya sebagai lelaki, kendati tetap merasa feminitasnyalah yang mendominasi. Penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini dapat dibaca dalam bab “Pendahuluan” buku Hidup sebagai Waria (LKiS, 2004) karya Koeswinarno.

Nah, lantaran strategi penulisan Stebby itu pula, Asef Saeful Anwar (pengulas Rumah Ilalang pada acara yang sama) melontarkan kritik. Ia menganggap bahwa Stebby, lewat Rumah Ilalang-nya, terkesan sekadar memotret kehidupan waria, baik sisi lahir maupun batin, tanpa berusaha menghadirkan konflik atau ketegangan di luar mainstream penulisan-penulisan sastra yang mengangkat problematika waria selama ini.

Sebagai pemungkas, dengan bertolak dari kritik Asef terhadap sang penulis di atas, kiranya tak ada salah andai kita mulai menanti karya terbaru yang lahir dari ‘tangan nurani’ Stebby. Ya, sekali lagi, tak ada salah!


[1] lihat Priyasmoro, Muhammad Radityo. 2018. “Kelompok LGBT Ikut Pawai Hari Buruh, Tuntut Kesetaraan Hak Bekerja”. https://www.liputan6.com/news/read/3495985-/kelompok-lgbt-ikut-pawai-hari-buruh-tuntut-kesetaraan-hak-bekerja#.Diakses pada 22 April 2020.

[2] lihat DW. 2018. “Dianggap Meresahkan Publik LGBT Di Pariaman Bisa Didenda 1 Juta Rupiah”.https://www.dw.com/id/dianggap-meresahkan-publik-lgbt-di-pariaman-bisa-didenda-1-juta-rupiah/a-46516892. Diakses pada 22 April 2020.

[3] lihat Utik. 2018. “Wajib Disimak, Beginilah Sisi Lain Komunitas Waria dan Gay di Buleleng”. https://www.nusabali.com/berita/38975/wajib-disimak-beginilah-sisi-lain-komunitas-waria-dan-gay-di-buleleng. Diakses pada 22 April 2020.

[4] lihat Umara, Rangga. 2019. “Pahlawan Waria dari Yogyakarta (Bagian 1)”. https://www.cnnindonesia.com/tv/20190217151426-415-369995/pahlawan-waria-dari-yogyakarta–bagian-1-. Diakses pada 22 April 2020.

[5] lihat subjudul “Pemerintah dan Organisasi Waria” dalam Koesnarno. 2004. Hidup sebagai Waria. Yogyakarta: LkiS,hlm. 62–72.

[6] lihat Utik, 2018.

[7] lihat website Kibul.in yang memberitakan kegiatan diskusi Rumah Ilalang, diselenggarakan oleh SPS Yogyakarta, di TBY.

[8] tentang Mami Yuli misalnya, dapat dilihat di https://historia.id/urban/articles/takdir-waria-di-persimpangan-jalan-PMLZE


Ilustrasi Poster: Pratomo Bangun | ig: @jagalaut

Ilham Rabbani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *