Janus

Dari Majalah New York

            Mangkuk yang sempurna. Mungkin itu tidak akan Anda pilih jika Anda berhadapan dengan rak mangkuk, dan bukan hal yang pasti untuk menarik banyak perhatian pada pameran kerajinan, namun itu nyata adanya. Seperti yang diduga, dikagumi sebagai anjing kampung yang tidak punya alasan untuk curiga dia mungkin lucu. Justru anjing yang demikian, faktanya, sering dibawa keluar (dan dalam) bersama dengan mangkuk.

            Andrea adalah seorang agen perumahan, dan ketika dia berpikir bahwa beberapa calon pembeli mungkin pecinta anjing, dia akan menurunkan anjingnya pada waktu yang sama dia menempatkan mangkuk di rumah untuk dijual. Dia akan menaruh hidangan minum di dapur untuk Mondo, mengambil plastik ciut dari tasnya dan jatuhkan ke lantai. Dia akan menerkam dengan senang hati, sama seperti yang dia lakukan tiap hari di rumah, memukul mainan favorit di sekitar. Mangkuk biasanya di atas meja kopi, meskipun belakangan ini dia menampilkannya di atas sebuah lemari pinus dan di meja yang dipernis. Pernah menempatkan di meja merah menyala di bawah Bonnard yang masih hidup, di mana itu menyimpannya sendiri.

            Setiap orang yang membeli rumah atau yang ingin memiliki rumah sendiri pasti tidak asing dengan beberapa trik yang digunakan untuk meyakinkan pembeli bahwa rumah cukup istimewa : api di perapian sore hari; kendi kuning muda di meja dapur, di mana tidak ada satu pun biasanya ruang untuk meletakkan bunga; mungkin sedikit aroma musim semi, dibuat oleh setetes aroma uang dari bola lampu.

            Hal indah mengenai mangkuk, Andrea pikir, adalah bawah keduanya halus dan menarik—sebuah paradoks mangkuk. Lapisan warna krim dan tampak bercahaya tidak peduli cahaya apapun di sekitarnya. Ada sedikit warna di dalamnya—kilat geometris kecil—dan beberapa di antaranya diwarnai dengan flek perak. Sama misteriusnya seperti sel yang terlihat di mikroskop; sulit untuk tidak dipelajari; karena mereka berkilau, berkedip dalam sekejap mata, dan lalu dilanjutkan bentuknya. Sesuatu mengenai warna dan penempatan acak yang disarankan. Orang yang suka perabot tanah biasanya mengomentari mangkuk, tetapi ternyata orang itu merasakan nyaman dengan Biedermeier yang juga sangat menyukainya. Tapi mangkuk itu sama sekali tidak wah, atau bahkan begitu terlihat siapa pun akan curiga bahwa itu dilakukan dengan baik dan sengaja. Mereka mungkin memperhatikan ketinggian langit saat pertama kali memasuki ruangan, dan hanya bila saat mata mereka ke bawah  atau menjauh dari refraksi sinar matahari di dinding pucat, mereka akan melihat mangkuk. Maka mereka akan segera pergi ke sana dan berkomentar. Namun mereka selalu bimbang saat mereka mencoba mengatakan sesuatu. Mungkin karena mereka di rumah alasan serius, tidak memperhatikan beberapa objek.

            Suatu kali, Andrea mendapat telepon dari seorang wanita yang tidak mengajukan penawaran pada sebuah rumah yang telah ditunjukkan padanya. Mangkuk itu, dia berkata—apakah mungkin mencari di mana pemilik telah membeli mangkuk indah itu? Andrea pura-pura bahwa dia tidak tahu apa yang wanita itu maksudkan. Sebuah mangkuk, suatu tempat di rumah? Oh, di atas meja di bawah jendela. Ya, dia akan bertanya, tentu saja. Dia membiarkan hari berlalu, kemudian memanggil kembali untuk mengatakan bahwa mangkuk itu adalah hadiah dari seseorang yang tidak ia ketahui di mana membelinya.

            Saat mangkuk tidak dibawa dari rumah ke rumah, duduk di meja kopi Andrea di rumah. Dia tidak menyimpan dengan hati-hati (meskipun dia mengangkutnya demikian, di sebuah boks); dia menyimpan di atas meja, karena dia suka melihatnya. Cukup besar sehingga tidak terlihat rapuh, atau terutama rentan jika siapa saja di sisi samping menubruk meja atau Mondo blunder saat memainkannya. Dia memberitahu suaminya memohon untuk tidak meletakkan kunci rumah di dalam. Maksudnya agar menjadi kosong.

            Saat suaminya pertama kali memperhatikan mangkuk, dia mengintip ke dalamnya dan tersenyum ringan. Ia selalu memintanya untuk membeli sesuatu yang disukanya. Di tahun baru, keduanya memperoleh banyak hal untuk menebus semua tahun yang buruk saat mereka lulus, tapi sekarang mereka merasa nyaman cukup lama, kenikmatan barang-barang baru berkurang. Suaminya berucap mangkuk itu “Cantik”, dan dia berpaling tanpa mengambil untuk memeriksanya. Dia tidak lagi tertarik dengan mangkuk daripada punya leica baru.

            Perempuan itu yakin mangkuk membawa keberuntungan. Tawaran sering dimasukkan dalam rumah di mana dia menampilkan mangkuk. Terkadang pemilik, yang selalu menyampaikan untuk pergi atau keluar saat rumah sedang ditunjukkan, tidak bahkan tahu mangkuk itu ada di rumah mereka. Suatu kali—dia tidak bisa membayangkan—dia meninggalkannya, dan lalu dia sangat takut bahwa sesuatu mungkin terjadi padanya. Dia bergegas kembali ke rumah dan menghela napas dengan lega saat wanita pemilik membuka pintu. Mangkuk, Andrea menjelaskan—dia telah membeli sebuah mangkuk dan meletakkan untuk diamankan, sementara dia berkeliling rumah dengan calon pembeli, dan dia—dia merasa ingin bergegas melewati wanita yang cemberut dan menangkap mangkuk. Pemilik menyingkir, dan itu hanya saat Andrea berlari ke dada yang dilirik sekilas wanita itu sedikit aneh. Beberapa saat sebelum Andrea mengambil mangkuk, dia menyadari bahwa pemilik pasti baru saja melihat bahwa itu diletakkan sempurna, bahwa sinar matahari menyorot bagian lebih biru dari itu. Kendinya sudah pindah ke sisi jauh dari dadanya, dan mangkuk menonjol. Sepanjang perjalanan pulang, Andrea bertanya-tanya bagaimana dia bisa meninggalkan mangkuk itu. Rasanya seperti meninggalkan teman di jalan-jalan—berjalan pergi. Kadang ada cerita di surat kabar tentang keluarga yang melupakan seorang anak di suatu tempat dan menuju kota lain. Andrea hanya pergi satu mil di jalan sebelum dia mengingatnya.

            Pada waktunya, dia bermimpi tentang mangkuk. Dua kali, bangun dari mimpinya—dini hari, di antara tidur dan tidur siang yang terakhir sebelum bangun—dia membersihkan penglihatannya. Menajamkan fokus dan mengagetkannya—mangkuk yang sama yang dia lihat setiap hari.

            Dia memiliki tahun yang menguntungkan menjual perumahan. Kabar menyebar, dan dia memiliki lebih banyak klien dari dia merasa nyaman juga. Dia memiliki pikiran bodoh bahwa jika hanya mangkuk adalah benda hidup dia akan berterima kasih. Ada saatnya dia ingin berbicara dengan suaminya tentang mangkuk. Dia pialang saham, dan kadang memberitahu orang bahwa dia beruntung menikahi wanita yang mempunyai estetika yang baik dan belum bisa juga berguna juga di dunia nyata. Mereka sangat mirip, sungguh—mereka sepakat dengan itu. Mereka berdua pendiam—reflektif, lambat menciptakan penilaian, tapi keras kepala sekali mereka sampai pada sebuah kesimpulan. Mereka berdua menyukai detail, tapi sementara ironi menariknya, dia lebih tidak sabar dan meremehkan saat masalah menjadi banyak sisi atau tidak jelas. Tapi mereka berdua tahu; berjenis hal mereka bisa berbicara tentang ketika mereka sendiri di mobil bersama, pulang dan pesta atau setelah akhir minggu dengan teman-teman. Tapi dia tidak pernah ngomong dengannya mangkuk. Saat mereka makan malam, bertukar berita hari ini, atau sementara mereka berbaring di kamar di malam hari mendengarkan stereo dan bergumam tersadar sedikit dari tidur, dia sering tergoda untuk segera keluar dan menyatakan itu bahwa dia berpikir mangkuk ada di ruang keluarga, mangkuk warna krim, bertanggung jawab atas kesuksesannya. Tapi dia tidak mengatakan itu. Dia tidak mulai menjelaskan itu. Kadang di pagi hari, dia akan melihatnya dan merasakan bersalah karena dia punya rahasia tetap.

            Mungkinkah dia punya beberapa lebih dalam penghubung dengan mangkuk—relasi semacam? Dia mengoreksi pikirannya : bagaimana bisa dia berkhayal demikian saat dia masih manusiawi dan mangkuk itu? Itu konyol. Hanya berpikir bagaimana manusia hidup bersama dan saling mencintai… tapi selalu demikian apakah, selalu berelasi? Dia bingung oleh pikiran-pikirannya, tapi mereka tetap di pikirannya. Ada sesuatu dalam dirinya kini, sesuatu yang nyata, bahwa dia tidak pernah berbicara mengenai itu.

            Mangkuk masih menjadi misteri, bahkan untuknya. Frustasi, karenanya keterlibatannya dengan mangkuk berisi keberuntungan yang tidak terbalas; itu menjadi mudah untuk merespon jika ada yang menyortir permintaan dibuat dengan imbalan. Tapi hanya terjadi di dongeng. Mangkuk tetap saja mangkuk. Dia tidak percaya sesaat. Apa yang dia percayai bahwa sesuatu yang dia cintai.

            Di masa lalu, dia terkadang berbicara dengan suaminya tentang harta baru yang dia akan beli atau jual—curhat beberapa strategi pintar dia akan merancang untuk membujuk pemilik untuk siap menjual. Sekarang dia berhenti melakukan itu, ke semua strateginya yang melibatkan mangkuk. Dia sengaja dengan mangkuk, dan lebih posesif. Dia memasukkan ke rumah hanya saat tidak ada seorang pun di sana, dan dihapus saat dia meninggalkan rumah. Sebagai gantinya hanya memindahkan kendi atau piring, dia akan melenyapkan benda lainnya dari meja. Dia memaksakan diri untuk menangani dengan hati-hati, karena dia tidak peduli dengan mereka, dia hanya ingin mereka tidak terlihat.

            Dia bertanya-tanya bagaimana situasi akan berakhir. Seperti bersama kekasih, tidak ada skenario yang pasti bagaimana masalah akan berakhir.  Cemas menjadi ancaman. Tidak akan relevan jika kekasih bergegas ke pelukan orang lain, atau menulis surat kepadanya dan bergegas ke kota lain. Ketakutan adalah kemungkinan kehilangan. Itulah yang terpenting.

            Dia akan bangun di malam hari dan melihat mangkuk. Yang tidak pernah terjadi padanya dia kemungkinan memecahkannya. Dia mencuci dan mengeringkannya tanpa was-was, dan dia sering memindahkan, dari meja kopi ke sudut meja mahoni atau di mana saja, tanpa takut kecelakaan. Sudah jelas dia tidak akan menjadi orang yang akan melakukan apapun pada mangkuk. Mangkuk itu hanya ditangani olehnya, diatur begitu aman pada sebuah permukaan atau lainnya; itu tidak mungkin membuat siapa saja menghancurkannya. Mangkuk merupakan konduktor menghantarkan listrik. Akan tidak terkena petir. Namun ide merusak terus ada. Dia tidak berpikir lebih dari itu—untuk apa hidupnya tanpa mangkuk. Dia hanya melanjutkan rasa takut bahwa beberapa kecelakaan akan terjadi. Tidak mengapa, di dunia manusia menanam tanaman di tempat mereka tidak miliknya maka pengunjung rumah akan tertipu dengan berpikir bahwa sudut-sudut gelap mendapatkan sinar matahari—akan penuh intrik?

            Dia pertama kali melihat mangkuk beberapa tahun sebelumnya, di sebuah pameran kerajinan dan mengunjungi setengah rahasia dengan kekasihnya. Dia mendesaknya untuk membeli mangkuk. Dia tidak perlu lagi sesuatu, dia memberitahunya. Tapi dia tertarik pada mangkuk, dan mereka berlama-lama di dekatnya. Lalu dia pergi ke gerai selanjutnya, dan dia muncul di belakangnya, mengetuk bahu pinggirnya saat dia mengusap ukiran kayu. “Kamu bersikeras, saya akan membelinya?” kata dia. “Tidak,” kata si laki-laki. “Saya akan membelinya untukmu.” Dia telah membelikan untuknya barang-barang lain sebelum ini—hal-hal yang disukainya, pertama kali—cincin ebony, yang pas dengan jari kelingkingnya; kotak kayu panjang dan tipis, indah sekali, bahwa dia menggunakan untuk memegang klip kertas, sweater lembut abu-abu dengan kantung saku. Itu idenya saat dia tidak bisa di sana untuk memegang tangannya dia bisa memegangnya sendiri—tangannya memegang di dalam sakunya yang ada di depannya. Tapi di waktu dia menjadi lebih dekat dengan mangkuk dari hadiah yang lainnya. dia mencoba untuk berbicara sendiri. Dia memiliki sesuatu yang lain yang lebih menyolok dan berharga. Bukan benda yang kecantikannya di luar jangkauannya; hanya orang lewat sebelum mereka berdua melihatnya.

            Kekasihnya bilang bahwa dia selalu lambat untuk tahu apa yang sebenarnya disukainya. Mengapa melanjutkan hidupnya demikian? Mengapa jadi dua wajah, dia berkata apa adanya. Dia telah membuat langkah pertama ke arahnya. Ketika dia tidak bisa mendengungkan tidak bisa merubah hidupnya dan datang pandangan, di bilang padanya apa yang membuatnya berpikir dia akan mendapatkan keduanya. Lalu dia membuat langkah terakhir dan pergi. Itu sebuah keputusan menghancurkan keinginannya, untuk menghancurkan ide-ide yang keras kepala tentang menghargai komitmen.

            Waktu berlalu. Sendirian di ruang keluarga malam hari, dia sering melihat mangkuk di atas meja, diam dan aman, tidak terpakai. Di jalannnya, sangat sempurna : dunia memotong setengah, dalam dan lancar dengan kekosongan. Dekat pelek, bahkan di cahaya redup, mata bergerak ke kilatan kecil warna biru, menghilang di titik cakrawala.


Cerpen | Ann Beattie
Penerjemah | Risen Dhawuh Abdullah
Poster | Pratomo Bangun | @jagalaut

Ann Beattie (lahir 8 September 1947) adalah seorang penulis novel dan cerita pendek Amerika. Dia telah menerima penghargaan untuk keunggulan dari Akademi Amerika dan Institut Seni dan Sastra dan PEN / Malamud Award untuk keunggulan dalam bentuk cerita pendek. Karya-karyanya di antara lain, Chilly Scenes of Winter, Falling in Place, Love Always, Picturing Will, dan Another You.

 

Diterjemahkan dari edisi bahasa Inggris berjudul, “Janus” yang terhimpun pada antologi The Best American Short Stories of the Century with an introduction by John Updike, Houghton Mifflin Company Boston New York.

Latest posts by Risen Dhawuh Abdullah (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *