Menerangi Kegersangan: Cita-Cita dan Protes M. Yasir dalam Lukisan

Ia mengakui diri sebagai penganut surealisme, sebuah pengakuan yang saya rasa tidak lahir dari tren-tren kesenian terkini. Jika ditilik lebih mendalam, muatan dari lukisan M. Yasir menampilkan jiplakan dari alam dan fenomena, sebuah penciptaam lukisan yang berasal dari imitasi-imitasi tubuh, gerak, dan materi-materi lain. Pada dasarnya, apa yang ingin disampaikan M. Yasir dalam pembacaan Saya pada lukisannya adalah gerak yang Ia sebut “fenomena kehidupan terkini”, sehingga dalam pengakuan M. Yasir, Ia berkali-kali ingin menjabarkan kemiskinan, kondisi politik, dan lingkungan melalui lukisan. Sehingga mengubah paradigma kita bahwa karya seni harus sejuk dipandang mata, dan indah dipajang di ruang tamu. M. Yasir ingin memberikan sentuhan lain, seni adalah alat dan metode membuka mata pada kenyataan yang seringkali pahit.

Ada tarik-ulur wacana mengenai karya M. Yasir, apakah lukisannya berdasar pada fungsionalisme yang mencakup seni dan kehidupan sosial, atau justru estetisme dengan ide ‘seni untuk kepentingan seni’?

M. Yasir adalah pelukis yang menunjukkan tabiat lingkungan sekitarnya, lukisannya bukan berasal dari ruang kosong. Pun, M. Yasir telah memamerken lukisannya di banyak pameran, seperti pameran Move Art Yogyakarta, Rest Area Perupa Membaca Indonesia, dan lain-lain. Oleh karena itu, M. Yasir harus dilihat secara lebih mendalam dan kritis oleh rakyat-rakyat kebanyakan. Penalaran kritis terhadap karyanya dibutuhkan untuk menelusuri apa sebenarnya yang hendak Ia sampaikan dan siapa sebenarnya yang hendak Ia hajar dari lukisannya. Sepanjang pembacaan Saya, karya M. Yasir tidak harus berakhir hanya pada pameran-pameran di galeri dan puja-puji dari kelas menengah ke atas, namun juga harus kita bicarakan di warung kopi atau (bahkan) di rumah ibadah karena isi dari lukisannya ditunjukan untuk itu.


Je Ne Sais Quiu

Dalam filsafat estetika periode modern awal, istilah je ne sais quiu (aku tidak tahu apa) merupakan perdebatan menarik mengenai ‘apa sebenarnya keindahan itu’. Melihat lukisan M. Yasir, seringkali Ia didefinisikan sebagai lukisan yang indah, lalu apa yang membuatnya indah, apakah warnanya, bentuknya, atau medianya? Namun, untuk melihatnya saya tertarik melalui penalaran epistemologis untuk paham betul seni lukis yang ditampilkan M. Yasir, bahwa kesenian yang dibalut oleh pengetahuan si seniman takkan pernah dapat mengakses kenyataan karena adanya ‘kabut’ imajinasi dalam setiap pengetahuan. Maka, seperti halnya Tuhan, keindahan tak mungkin dimengerti apalagi dirumuskan. Alih-alih menghindari imajinasi, M. Yasir justru mencumbui imajinasi itu sendiri dalam lukisannya.

Maka, karya M Yasir dapat dipahami secara subjektif, bahwa keindahan bukanlah proporsi karya, bentuk, dan lain-lain, melainkan imajinasi yang ada pada kita yang menyaksikan, karena itu keindahan yang ditampilkan dalam lukisan M. Yasir dalam tulisan saya bukanlah cara untuk menjebak pembaca dalam definisi keindahan yang pakem. Untukmu M. Yasir-mu, untukku M. Yasir-ku. Namun, tulisan ini tidak sedang melihat keindahannya, justru tulisan ini berhasrat untuk membedah satu-satu simbol yang ada di dalam lukisannya.

Bentuk surealisme yang digambarkan oleh M. Yasir adalah penggambaran atas makna-makna dan berbagai simbol yang mempengaruhi karyanya. Surealisme adalah metode yang mendekatkan kita pada fakta dan realitas, lingkup surealisme awalnya lahir dalam bentuk kesusastraan. M. Yasir, satu di antara pelukis Indoenisa yang menyelipkan sebagian besar ciri lukisannya berbentuk fiksi, fantasi, dan sedikit sentuhan mistis, yang pada beberapa kilas lukisan menyatukan mistisime dan surealisme sebagai pembela kebudayaan rakyat.

Dalam tulisan M. Yasir berjudul ‘Lampu Sebagai Simbol dalam Seni Lukis Surealis’ memberikan pengantar pada lukisannya, khususnya Lampu (Bahasa Singkel: Damakh, Bahasa Minangkabau : Suluah). M. Yasir menggunakan istilah Lampu untuk simbol, dalam hal ini semiotika dalam lukisan M. Yasir yang paling unik adalah soal Lampu, yang sering sekali ditampakkan dalam lukisan-lukisannya sebagai ide utama ataupun selingan. 

Dari berbagai lukisan, Lampu mempunyai makna yang berbeda tergantung pada apa target dari lukisan tersebut, saya mengambil tiga sampel dari lukisan M. Yasir, yang jika diperas, makna yang terkandung di baliknya ada dua imajinasi, lampu sebagai cita-cita dan lampu sebagai bentuk protes.


Lampu Sebagai Cita-cita

Lukisan berjudul Bersu(rasa)tu karya M. Yasir menyuarakan pembebasan bagi banyak warna perbedaan, melampaui suku, ras, kebangsaan, dan agama. Masalah yang pelik, sejarah yang dimanipulasi, dan kebencian tanpa sebab telah membuat sebagian besar manusia saling berperang terlebih menyatroni tempat kelahiran M. Yasir, Singkel dan Indonesia. Dengan itu, melalui lukisan M. Yasir disampaikan nafas-nafas pembebasan yang bagaimanapun untuk mempersatukan manusia. Mengamini gaya M. Yasir, Friedeich Schiller (1759-1805) mengungkapkan hal ini, bahwa “Untuk mencapai solusi dalam masalah politik, jalan estetika mesti ditempuh, sebab melalui keindahanlah kita sampai pada kebebasan”. Meskipun lukisan M. Yasir menggambarkan ide yang progresif, bukan berarti M. Yasir harus mengikuti gaya lukisan kelam seperti lukisan-lukisan milik Edvard Munch misalnya, ia tetap melukiskan karyanya dalam cat dan bentuk yang menarik dan penuh warna.


Bersu(rasa)tu, 2017. Lukisan tentang idealisme yang dibangun M. Yasir dalam berkarya dengan bola Lampu

M. Yasir tampak banyak terinspirasi dari gaya kesenian dalam tradisi kebudayaan Minangkabau. Di Minangkabau, Lampu atau suluah menjadi simbol penerangan terhadap kemajuan. Sehingga dapat disimpulkan, Lampu dikaitkan dengan tanda penerangan (juga kegelapan apabila Lampu tersebut tidak berfungsi dengan baik). Beralih ke lukisan yang amat ikonik, yaitu lukisan Syekh Abdurrauf As-Singkily (Syiah Kuala) yang berjudul ‘Cahaya Nusantara’. M. Yasir melukiskan kebangsaan, dan Intelektualisme. Mungkin kita bingung, bagaimana mungkin Syiah Kuala disandingkan dengan peta Indonesia, sedangkan Indonesia sebagai negara di masa Syiah Kuala belum terbentuk? Namun, di situlah sisi menarik dari lukisan berjudul ‘Cahaya Nusantara’ ini, yang disampaikan dalam tulisan adalah ide-ide keulamaan, dengan simbol lampu minyak yang masih berpijar sampai sekarang.


Lukisan Syekh Abdurauf As-Singkily berjudul “Cahaya Nusantara” dari M. Yasir dengan menggunakan kopi sebagi tintanya.

Lukisan di atas, mengingatkan saya pada Agustin Sibarani, seorang yang melukis potret tokoh yang tak pernah ia lihat, tak pernah ia jumpai yaitu melukiskan wajah Sisingamangaraja. Proses yang rumit, perlu beberapa kali perombakan, terlebih bagian mata dari pahlawan nasional yang tak main-main sakralnya itu. Sibarani sebagaimana kita tahu berhasil melukiskannya dengan apik, pahlawan dari Batak itu harus dilukis dan dipajang di Istana Merdeka oleh Presiden Sukarno, Sisingamangaraja ‘hidup’ kembali. M. Yasir menghadapi hal yang sama, Syiah Kuala ‘dihidupkan’ kembali dengan imaji kebangsaan, bukan main-main, proses ini menurut M. Yasir sangat sulit, M. Yasir mengakui harus salat sunnah dua rakaat setiap hendak melukiskan Syiah Kuala. Ide dalam hal ini adalah sumber utama dari tujuan lukisan, bahwa Syiah Kuala memang harus dihidupkan, dalam wacana kebangsaan yang rapuh.


Lampu Sebagai Protes

Simbol lampu sebagai salah satu cara untuk menginformasikan atas fenomena permasalahan-permasalahan yang terjadi di Indonesia ke dalam karya lukis dengan gaya surealis berbentuk protes tampak pada lukisan yang sekilas tambah syahdu di bawah ini:


Subur yang Gersang (2017) karya M. Yasir

Dalam lukisan berjudul “Subur yang Gersang” di atas, tampak bola lampu yang berbentuk bunga mawar kuncup yang hendak mekar. Dalam tulisan M. Yasir, Ia menuliskan :

“Lampu berbentuk bunga mawar tersebut menjadi simbol rakyat miskin. Dari lukisan di atas, penulis ingin menyampaikan bahwa saat ini terjadi pemandangan atau realita yang mencolok antara si miskin dan si kaya. Orang kaya sangat tumbuh makmur, namun kekayaan yang dimiliki tidak sedikit pun menyentuh atau mampu mengurangi angka kemiskinan yang terjadi. Malahan pada realita yang ada saat ini orang-orang kaya seakan-akan membuat dinding besar/pembatas dan tidak ingin sedikitpun berbagi”.

Ada enam unsur tanda (sign) yang tergambar di lukisan di atas yaitu, tanah, setangkai mawar, bola lampu, tembok, pepohonan, dan langit biru. M. Yasir mengomentari ketimpangan yang terjadi di masyarakat, yaitu rumusan pembangunanisme yang berpihak pada kelas sosial tertentu, tembok memisahkan antara si gersang dan si subur dengan langit biru, bola lampu dan mawar selaksa obat penawar bahwa ada kegemilangan dan harapan yang menerangi bagi si gersang. Riwayat kesenian selalu digambarkan heroik, atau setidaknya sosok seniman dianggap memiliki virtuositas singular, sehingga yang terjadi adalah bias retrospektif tentang si seniman yang lahir sendirian dengan ide-ide tanpa adanya strutur sosial. Padahal, nyatanya setiap seniman selalu dihadirkan oleh relasi sosial yang terbentuk, berikut dengan pergulatan pada basis-basis material yang terjadi di dalamnya. M. Yasir bukanlah pelukis yang hadir untuk pameran seni lukis yang ekslusif. Lebih mendalam, lukisan-lukisan M. Yasir dapat dipahami jika membedahnya dari fungsionalisme karya-karyanya, bahwa bukan masyarakat ada untuk seniman, tapi seniman yang seharusnya ada demi masyatakat, alih-alih sebagai ‘seni untuk seni’.


Poster: Kurniaji Satoto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *