Lagu Tanpa Lirik dalam Lukisan Briyan Farid

Menggambar adalah kesenangan saya sejak kecil, terutama mulai kelas 3 SD sering ikut lomba menggambar. Kesenangan itu terus berlanjut sampai SMP, namun SMA saya vakum menggambar. Saya lebih mendalami dunia seni rupa ketika masuk kuliah jurusan seni rupa dan mulai mengerti seni rupa bukan hanya menggambar dan melukis. Selain sebuah ekspresi menyalurkan apa yang saya pikirkan dan saya rasakan, berkarya juga membuat saya lebih peka terhadap keadaan, bersosial dan lebih kritis dalam mengamati suatu hal.

Itu adalah dasar saya terus berkarya sampai saat ini, tidak lain untuk lebih menggiatkan diri mengkritisi segala hal dalam kehidupan, terutama di sekitar dan menurut saya penting. Walau terlihat sepele sekalipun. Karena dalam penciptaan sebuah karya, tidak jarang saya mengambil ide tentang fenomena sosial masyarakat, tentang nilai humanis, etika bersosial, dan juga tradisi, Jawa khususnya. Kemudian saya olah menjadi suatu narasi untuk dikonsepkan dalam simbol-simbol bentuk visual, seringnya dalam wujud lukisan.

Dua tahun belakangan ini saya suka tentang ide tradisi lisan Jawa yaitu ‘sanepan’, atau bisa dianggap sebagai filosofi pepatah Jawa. Karena terdengar kadang seperti gurauan, namun banyak makna sangat dalam ketika dikupas. Ide dan gagasan sangat penting dalam berkarya, saya lebih sering menentukan ide dulu dalam berkarya. Walau ide itu berkembang, awalnya tetap menjadi penting seperti sebuah ‘border’ untuk arah bentuk dan interpretasi karya tidak keluar dari ide.


(2019, Briyan Farid, Wang Sinawang, Acrylic On Canvas_70x100cm)

Bentuk dan teknik tiap perupa mempunyai metodenya masing-masing. Dalam hal berkarya (drawing dan painting), mulai awal kuliah saya lebih tertarik dan selalu lebih betah mengapresiasi lebih dalam karya dengan goresan kasar dan ekspresif. Hal tersebut pun tak bisa dipungkiri menjadi suatu referensi untuk saya pribadi dalam menggambar dan melukis.

Saya memulainya dengan belajar realis untuk mengetahui tentang proporsi suatu objek, lalu menuju impresionis untuk lebih objektif dalam menggambarkan objek yang saya mau, dan setelah itu menuju ekspresionis dan merasa betah lama di sini. Saya menganggap semua seni memang tentang ekspresi, namun ekspresionis dalam lukisan, saya anggap sebagai suatu pendapat subjektif tentang objek atau hal yang dilukiskan, jadi banyak keliaran dan fantasi di luar dari ‘objek’ atau hal yang kita angkat―juga eksekusi di atas kanvas pun dengan goresan―bahkan cipratan yang hanya bisa direncanakan tapi susah untuk ditebak wujudnya.

Seringnya saya memulai goresan ekspresif untuk background dan baru kemudian melukiskan subjek di kanvas―terkadang juga saya menemukan subjek tumpang tindih goresan-goresan kasar yang sebenarnya merupakan background, kemudian saya terka sendiri ‘ada bentuk apa yang muncul’, dan saya nampakkan wujudnya. Hal tersebut seperti “saya hanya membantu warna melukis dirinya sendiri”. Sungguh pada bagian tersebut saya sangat bergairah, selalu bermain dalam fantasi seperti ketika kita melihat awan di langit dan menerka-nerka awan itu membentuk wujud sesuai persepsi kita.


(2019, Briyan Farid, Angon Mongso, Acrylic On Canvas, 180 x 130 cm)

Saya sering berpikir karya saya seperti ingin menunjukkan pikiran dan fantasi surealis, namun dengan corak dan wujud visual subjek impresif tetapi dengan suasana lukisan yang ekspresif. Ya…menabrak-nabrakkan aliran dengan selalu progresif, pikir saya. Bukan hanya bermain dalam simbol-simbol seperti mengilustrasikan yang ada dalam pikiran, dalam berkarya lukis, saya sedang menggandrungi gaya abstrak.

Abstrak bagi saya seperti ‘lagu tanpa lirik’, dalam artian bermain komposisi, warna dan keharmonisan bentuk tanpa ada figure atau subjek yang bisa dibaca dan ditebak dengan jelas. Seperti musik, lagu tanpa lirik akan sangat bisa kita rasakan secara dalam ketika rasa dan suasana dari musik itu sendiri yang merasuk ke jiwa kita tanpa ada embel-embel kata (lirik) yang seolah menggamblangkan konsep atau pesan karya. Begitu juga abstrak yang sedang saya ulik, suasana dan emosi apa yang dirasakan apresiator ketika mengamati lukisan abstrak saya― juga tanpa terdorong oleh terbacanya wujud subjek berupa figure yang ada.

Hanya tumpang tindih warna dan goresan kasar, juga beberapa efek seperti cipratan dan tekstur lukisan yang dikomposisikan menjadi tantangan untuk saya, bisa menghanyutkan apresiator dan menusukkan sisi dramatis dari suasana abstrak saya atau tidak? Saya menganalogikan lukisan abstrak, seperti hal manis dan pahit akan selalu ada dalam hidup, yang menentukan adalah tinggal bagaimana kita menata diri, beradaptasi dan memanajemen diri untuk memilih sikap dalam menyikapi hidup. Warna, raut dan tekstur yang beragam dalam satu kanvas, tergantung komposisi untuk menentukan suasana dan perasaan seperti apa yang dihadirkan.


(2019, Briyan Farid, Distorsi Informasi, Acrylic On Canvas, 90 x 120 cm )

Saya menganggap konsisten itu bukan tentang bagaimana kita mempertahankan dan hanya menggeluti karakter atau aliran yang kita tekuni, namun bagaimana terus produktif dalam menciptakan karya secara konsisten. Berganti-ganti aliran dan tidak menekuni satu aliran menurut saya itu progresif, saya yakin karakter dan ‘ruh’ karya kita akan selalu ada walau berganti-ganti corak aliran, jika kita produktif. Beberapa pelukis yang pernah berpengaruh dalam karya saya antara lain Oky Rheymontha, Basquiat, Jackson Pollock dan Picasso. Pengaruh mereka dalam karya saya bukan berarti tentang teknik dan coraknya, namun juga pada sisi semangat dan produktivitas mereka, juga beberapa kontribusi mereka untuk seni rupa. Seperti di awal tadi saya sudah sedikit membahas tentang apa yang mendasari saya berkarya, terutama berkarya seni rupa.

Seni rupa bagi saya adalah suatu ilmu yang selalu bermanfaat untuk kehidupan, mulai dari mengkritisi berdasarkan yang nampak (visualnya) dan juga tentang mengkritisi suatu fenomena atau keadaan yang berlangsung di sekitar. Sisi kreatif dalam hal visual, lebih sabar dan telaten dalam membuat apa-apa sendiri (yang masih bisa dikerjakan tangan), sangat berpengaruh dalam motivasi semangat saya. Dalam Bahasa jawanya “Iso digawe, barang ketok wae kok!”, (Bisa dikerjakan, sesuatu yang terlihat kok).


 
(2018, Briyan Farid, Tentang Pola, Acrylic On Canvas, 120 x 80 cm )

Editor: Jemi Batin Tikal | @jemisekali

Poster: Pratomo Bangun | @jagalaut

Briyan Farid
Latest posts by Briyan Farid (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *