Membaca Aldi Lamaga, Meresapi Patah Hati

Setiap kalimatnya adalah kelokan sungai. Kita dipaksa untuk terus mengikuti air yang mengalir dengan tenang, dan menemui kelokan-kelokan yang ada. Di sepanjang perjalanan kita disuguhi oleh pemandangan-pemandangan indah, hingga kemudian kita tiba di laut yang penuh gelombang. Di situlah gelombang mengempaskan kita sebagai pembaca, hingga menimbulkan perasaan patah hati.

            Begitulah kesan setelah membaca novel Baiknya Kita Saling Membenci Saja karya Aldi Lamaga terbitan Jejak Pustaka. Dituturkan dengan gaya sederhana, meninggalkan kesan di benak pembaca. Diawali dengan kisah pertemuan tokoh utama, seorang laki-laki bernama Kira, dengan seorang perempuan yang bernama Bunga.

            Januari, tepat setelah pukul 00.00, tahun berganti. Seperti orang lain pada umumnya, berharap tahun ini jadi lebih baik dari tahun yang lalu. Aku melihat harapan yang sama di matamu yang jernih. Saat kau menatap, aku hanya diam terpaku oleh tatapan itu. Seolah senyuman membawaku ke dalam dirimu walaupun hanya sesaat. Kau menghampiriku tanpa rasa takut dan ragu, mengulurkan tanganmu untuk berkenalan denganku.

Foto: Aldi Lamaga

            Hari-hari tokoh utama diliputi kegelisahan setelah pertemuan itu. Setiap harinya wajah Bunga terus membayang di benaknya. Si tokoh utama ingin mengungkapkan apa yang dirasakannya, soal perasaan jatuh cinta pada Bunga. Namun teringat masa lalunya yang pahit, ada keraguan menghinggapinya—semenjak pertemuan itu Bunga hanya mengisi hari-harinya di dunia khayalan. Tetapi pada suatu hari, rasa itu tidak terbendung. Bunga yang berprofesi sebagai seorang perawat, ia temui di rumah sakit tempatnya bekerja. Pertemuan itu mengundang pertemuan selanjutnya. Masih ada rasa ragu hingga di benak si tokoh utama. Dalam novel ini, si tokoh utama digambarkan sebagai lelaki yang sedikit melankolis, sebab pada suatu ketika ia mengajak bertemu seorang teman perempuannya, dan ia menumpahkan segala keluh kesahnya, bahwa ia sedang dilanda asmara.

            “Makasih Rah, jujur aku ragu makanya aku tanya soal ini ke kamu, tapi jika aku butuh bantuan kamu lagi kamu masih mau kan buat bantuin aku?”

             Singkat cerita, si tokoh utama menjalin hubungan dengan Bunga. Mereka melewati hari-hari dengan bersama. Suatu ketika Bunga menunjukkan sikap yang membuat si tokoh utama bertanya-tanya. Ternyata Bunga tidak menghendaki kekasihnya dekat dengan seorang perempuan bernama Darah, meskipun hanya sebatas teman. Si tokoh bimbang. Pada akhirnya ia memilih menjauhi Darah karena ia sudah begitu gandrung dengan Bunga. Namun tindakan si tokoh utama menjadi sia-sia seiring berjalannya waktu. Bunga lebih memilih mengakhiri hubungannya, dan berpindah ke lain hati. Tokoh utama patah hati.

Cidro, rasane nembus ning ndada.

            Ia teringat dengan Darah. Ia menyesali masa lalunya, hanya menganggap Darah sebagai seorang teman tidak lebih. Bunga mengetahui tanda-tanda bahwa tokoh utama menjalin hubungan dengan Darah. Bunga mencoba kembali, ia telah dikecewakan oleh kekasihnya yang baru. Namun tokoh utama terlanjur sakit hati. Ia memilih membenci Bunga, daripada harus memaafkan. Lara iki ninggal tatu sekra ketulungan.

            “Baiknya Kita Saling Membenci Saja. Jika kau membenciku atas semua rasa sakit yang kau rasakan. Anggap saja rasa sayang yang pernah terjalin hanyalah ketidaksengajaan dan sesuatu yang tidak pernah diinginkan. Jika kau menyesali pertemuan denganku waktu itu, dari awal Baiknya Kita Saling Membenci Saja.”

Foto: Aldi Lamaga

            Akhir kata, selamat meresapi karya Aldi Lamaga, selamat meresapi patah hati!


Berkorespondensi dengan penulis Aldi Lamaga, Instagram: @aldi_lamaga


Ilustrasi Poster: Pratomo Bangun | Ig: @jagalaut

Latest posts by Risen Dhawuh Abdullah (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *