3 Cerita Mini Jorge Luis Borges

Sebuah Dialog tentang Dialog

A: Kami tersedot dalam diskusi mengenai kehidupan yang kekal, membiarkan malam tiba tanpa cahaya dari lampu, sehingga kami tidak dapat melihat wajah satu sama lain. Dengan tangan kosong atau kelembutan yang lebih meyakinkan daripada nafsu, Macedonio Fernández’ bersuara sekali lagi bahwa jiwa itu abadi. Dia meyakinkanku, kematian sebuah raga secara keseluruhan itu tidak berarti, dan sekarat adalah hal yang paling tidak penting yang bisa terjadi pada seorang pria. Aku sedang bermain dengan pisau lipat kepunyaan Macedonio, membuka dan menutupnya. Akordeon yang paling dekat telah menyelesaikan La Comparsita secara tak terbatas, itu sepele dan banyak orang suka karena telah disalahartikan oleh mereka sebagai orang tua—aku menyarankan Macedonio bahwa kami membunuh diri kami sendiri, jadi mungkin kami berdiskusi tanpa semua keributan itu.

Z: (mengejek) Tapi aku curiga kalau pada momen terakhir kamu mempertimbangkan lagi.

A: (sekarang, jauh di dalam batin) Sejujurnya, aku tidak ingat apakah kami bunuh diri pada malam itu atau tidak.


Mimpi Harimau

Pada masa kecilku, aku adalah pemuja harimau yang bersungguh-sungguh—bukan jaguar, macan tutul itu, yang menghuni pulau terapung eceng gondok sepanjang Paraná dan hutan belantara Amazon yang kusut, tetapi yang benar-benar macan, jenis macan belang Asia yang hanya bisa dihadapi oleh tentara, dalam sebuah kastil di atas seekor gajah. Barangkali aku akan berdiri berjam-jam di depan salah satu kandang kebun binatang, aku akan mengurutkan banyak ensiklopedia dan buku sejarah alam berdasarkan kemegahan harimaunya. (Aku masih ingat gambar-gambar itu, aku—seseorang yang tidak bisa mengenang alis dan senyum seorang wanita tanpa kekeliruan.) Masa kecilku ketinggalan zaman, harimau-harimau dan obsesiku pada mereka telah luntur, tetapi mereka tetap dalam mimpiku. Di laut bawah tanah atau kekacauan, mereka tetap bertahan. Selama aku tidur, aku ditarik ke dalam mimpi atau yang lainnya, dan mendadak aku sadar bahwa itu adalah sebuah mimpi. Pada beberapa kesempatan, aku sering berpikir, ini adalah sebuah bunga tidur, pengalihan murni dari keinginanku, dan sejak aku memiliki kekuatan yang tak terbatas, aku akan membawa harimau.

Oh, ketidakmampuan! Mimpiku tidak pernah terlihat akan menimbulkan makhluk seperti yang aku inginkan. Macan itu muncul, tapi itu semua kering, atau tampak lemah, punya bentuk yang tidak murni atau ukuran yang tak dapat diterima, secara keseluruhan sangat sebentar, atau terlihat lebih seperti anjing atau burung dibandingkan seperti macan.


Kuku Jari Kaki

Kaos kaki lembut memanjakan mereka hari ini, dan sepatu yang terbuat dari kulit melindungi mereka, tapi jari kakiku hampir tidak memberi tahu. Yang mereka semua minati hanyalah kuku jari kaki yang keluar—semi-transparan, fleksibel, lembaran bahan seperti tanduk, sebagai perlawanan—siapa? Kasar, curiga karena hanya mereka yang bisa, kuku jariku tidak berhenti bekerja dalam pembuatan persenjataan yang lemah itu. Mereka memalingkan muka dari alam semesta, dan itu memperpanjang kegairahan, tanpa akhir, sepuluh kepala proyektil itu, yang mana memotong waktu dan lagi secara tiba-tiba oleh guntingan Solingen. Pada kesembilan puluh twilit day dari kurungan sebelum kelahiran mereka, jari kakiku telah menghidupkan pabrik luar biasa itu. Lalu ketika aku tersembunyi di  Recoleta, di dalam sebuah rumah berwarna abu yang dihiasi bunga-bunga kering dan jimat, mereka akan tetap bekerja dengan keras kepala, sampai korupsi pada akhirnya memperlambat mereka—mereka dan janggut di pipiku.


Tiga cerita mini ini diterjemahkan dari edisi berbahasa Inggris berjudul, “A Dialog About a Dialog”, “Dreamtigers”, “Toenails” yang ada pada antologi Jorge Luis Borges, Collected Ficciones, diterjemahan dari bahasa Spanyol oleh Andrew Hurley. 3 cerita mini ini dialihbahasakan oleh Zumrotush Sholihah.

Ilustrasi Poster: Pratomo Bangun | IG: @jagalaut

Latest posts by Zumrotush Sholihah (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *