Satan, Skizofrenia, dan Cerita dari Bukit Selatan

Judul               : Belfegor dan Para Penambang

Penulis             : Kiki Sulistyo

Penerbit           : Basabasi

Cetakan           : I, Maret 2018

Tebal               : 172 halaman

ISBN               : 978-602-391-385-5


I

Relief-relief pecah, absurd, fragmen demi fragmen berlepasan, kacau, tetapi sekaligus memukau. Demikian kesan sepintas, selepas membaca kumpulan cerpen terbaru Kiki Sulistyo, Belfegor dan Para Penambang (Basabasi, 2018). Bayang-bayang Danarto (1940-2018) muncul. Setelah dihayati, semenjak cerpen pembuka sampai cerpen penutup, kekentalan nuansa realisme magis akan terasa.[1] Permasalahan keseharian yang menjadi konflik utama dibungkus kejadian-kejadian magis, atau sebaliknya.

Tetapi sungguh, bukan hanya itu, saya menemukan sesuatu yang menarik tatkala mendedah buku ini. Saya bahagia membacanya, serasa dihidangkan puzzle cerita yang (sengaja?) diberantakkan pengarangnya: harus menyusuri rimba kata dan menemukan satu persatu kunci tersembunyi, sampai akhirnya merasa lamat-lamat menemukan titik terang keterkaitan cerita satu dengan yang lainnya.

***

Membaca Belfegor dan Para Penambang, saya dituntut kembali menengok masa silam: sastra Indonesia pasca keruntuhan Orde Lama beserta dominasi Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Ajip Rosidi menyebutnya Angkatan Terbaru (1966–1976), dengan ciri khas–seperti dijelaskan dalam pengantar bunga rampai Laut Biru Langit Biru–kebebasan setiap pengarang untuk melakukan eksperimen-eksperimen yang (hampir) tanpa batas, yang dalam puisi terutama dilakukan oleh Sutardji Calzoum Bachri dan Darmanto Jt, dalam prosa oleh Iwan Simatupang, Danarto, dan Putu Wijaya, juga dalam teater oleh Rendra, Arifin C. Noer, Putu Wijaya, dan diikuti sastrawan-sastrawan muda yang muncul setelahnya.[2] “Khazanah kesusastraan Indonesia memperlihatkan kesemarakannya yang luar biasa,” kata Maman S Mahayana.

Apa yang pernah dilakukan Danarto dalam Godlob (1976), saya temukan kembali dalam cerpen-cerpen Kiki, terutama yang bertajuk “Batu Pengisap Matahari”, “Kentang dari Neraka”, dan “Keabadian Sirin”. Sekaligus, dari dua puluh cerpen di dalamnya, ketiga cerpen tersebutlah yang paling kuat mewakili “kegilaan” cerita Kiki. Namun lantaran itu, bukan berarti cerita lainnya kosong bumbu-bumbu keganjilan: perwatakan tokoh, sajian konflik, perpindahan peristiwa dalam alur sedemikian kabur (dari realitas ke halusinasi dan mimpi, atau sebaliknya), dan lain-lain.

Meneruskan soal keganjilan-keganjilan dalam Belfegor dan Para Penambang, saya berasumsi bahwa bukan tidak mungkin kumpulan cerpen ini dibangun di atas satu fondasi atau pijakan utama: “keanehan”–karena skizofrenia–tokoh Sirin. Alasannya, ialah alur cerita yang kerap menghadirkan peristiwa-peristiwa luar nalar, ihwal Sirin, ayahnya, usia, obat, istirahat, psikologi, kelainan, delusi, tersadar tiba-tiba, dan sakit kronis, ialah kata-kata yang lamat-lamat bersekutu menggiring saya kepada titik–yang setidaknya–cukup terang: skizofrenia atau demensia prekoks. Kendati demikian, saya memilih tetap  membaginya ke dalam tiga garis besar, yakni satan (iblis), skizofrenia (demensia prekoks), dan cerita dari bukit selatan (tentang para penambang).

II

Pertama, tentang satan (iblis), dalam dua cerpen pembuka, Kiki memunculkan nama “Asmodeus” dan “Belfegor” (Belphegor), yang dalam khazanah Islam barangkali dapat disandingkan dengan Zalitun, Dasim, Walhan, A’wan, Watsin, A’war, beserta beberapa nama lainnya. Nama Asmodeus sendiri akan kita temukan dalam Kitab Tobit (dalam Kitab Deuterokanonika).[3] Ia adalah iblis yang membunuh suami-suami Sarah, namun akhirnya ditaklukkan oleh Tobiah (anak Tobit) dengan bantuan Malaikat Rafael. Terlihat kemudian, Asmodeus sebagai makhluk pembunuh dimasukkan ke dalam watak tokoh “aku” yang membunuh ayahnya sendiri. Sementara Belfegor (dalam Alkitab juga disebut Baal-Pheor), sifat-sifat yang ditimbulkan lantaran muslihatnya ialah malas, namun di satu sisi berusaha mengarahkan manusia menjadi makhluk peraup untung dan provokator dalam misi perpecahan.

Kita temukan dalam cerita Kiki, pernyataan tokoh aku yang, “… merasakan ambisiku meluap-luap. Aku bermain di banyak kalangan. Aku mengacaukan sejumlah bisnis perusahaan besar. Membuat konflik para pemegang saham hingga perusahaan itu tumbang. Aku juga menyusun jalur perdagangan yang mengarah pada pundi-pundiku sendiri. Bahkan, bisnis ayah dan karir politiknya diam-diam kuhabisi pula. Aku punya misi yang lebih besar, jauh lebih besar daripada yang bisa dipikirkan seorang pebisnis atau politikus mana pun (hlm. 21-22).” Cerpen “Belfegor” sendiri saya yakini merupakan teks transformasi dari film Belphegor: Le Fantome du Louvre (2001).

Satu lagi cerita yang mengangkat tentang satan adalah cerpen “Kentang dari Neraka”, cerpen yang memiliki kompleksitas keganjilan (tokoh, latar, alur) mengungguli cerpen-cerpen lain. Sebagian peristiwa dalam cerpen ini barangkali terinspirasi dari beberapa adegan dalam film Drag Me to The Hell (2009).

Buku

III

Seorang pastor dalam film The Rite (2011)    melontarkan sebuah hipotesis, “Admittedly, it’s very easy to confuse psychotic illness with possession. … For example, paranoid schizoprenics are not aware that they’re,” yang kemudian disambut dengan pertanyaan dari Michael, “Neither are the possessed while they’re being possessed, are they?

Pertanyaan Michael tersebut, barangkali adalah pertanyaan dengan jawaban sangat rumit bagi orang-orang yang menegasikan keberadaan Tuhan beserta semesta malakut. Saya tidak hendak menguraikan jawabannya pada bagian kedua (skizofrenia) ini. Akan tetapi, setidak-tidaknya pertanyaan tersebut dapat menjembatani pembicaraan tentang satan dan skizofrenia dalam cerita-cerita Kiki. Misalkan saja, pertanyaan Michael tersebut ditujukan untuk menanyakan bagaimana mesti menentukan kondisi tokoh dalam cerita pendek: apakah ia (tokoh yang menjadi narator) bercerita dalam keadaan kerasukan atau skizofrenia kumat?

Mungkin masih menyisakan beberapa kesulitan, tetapi dunia yang dibangun dalam cerita pendek mestilah dimasuki lewat teks (tertulis) dengan jalan membaca, yang meniscayakan ketelitian ekstra. Maka kemudian, dari sinilah hal yang telah saya ungkapkan di atas tentang penemuan keywords–antara lain peristiwa luar nalar, ihwal Sirin, ayahnya, usia, obat, istirahat, psikologi, kelainan, delusi, tersadar tiba-tiba, dan sakit kronis–bekerja: gejala-gejala keganjilan tokoh, perpindahan penceritaan dari realitas ke halusinasi dan mimpi (atau sebaliknya), dan lain-lain dipadukan dengan kata kunci tersebut. Kita kemudian seperti dituntun untuk menemukan rujukan dari hasil perpaduan: skizofrenia.

Sebelum istilahnya diganti menjadi schizophrenia (skizofrenia) oleh Eugen Bleuler (1857–1939) pada tahun 1908, konsepnya telah diperkenalkan pertama kali di tahun 1898 sebagai dementia praecox (demensia prekoks) oleh Emil Kraepelin (1856–1926), juga Bleuler sendiri. Skizofrenia merupakan gangguan psikotik dengan karakteristik adanya gangguan dalam pikiran, perasaan, emosi, dan perilaku: pikiran yang terganggu, yakni berbagai pemikiran tidak saling berhubungan secara logis; persepsi dan perhatian yang keliru, afek datar atau tidak sesuai; dan berbagai gangguan perilaku dan aktivitas motorik. Individu dengan gangguan skizofrenia biasanya menarik diri dari lingkungan sosial dan kenyataan, dan masuk ke dalam kehidupan fantasi yang penuh dengan delusi dan halusinasi. Kita dapat menemukan dengan jelas gejala-gejala demikian pada penciptaan psikologi tokoh Sirin, termasuk juga sang ayah.

Memutuskan untuk “berkenalan lebih jauh” dengan Sirin, kita barangkali dapat mengidentifikasi beberapa faktor (dalam cerita) yang mengakibatkan dirinya membawa kita pada dunia dan alur yang serba ganjil, meskipun tidak sepenuhnya melepaskan diri dari realitas kehidupan. Misalnya: pertama, faktor turunan dari sang ayah (genetik), sehingga memungkinkan persentase dirinya terkena gangguan yang sama lebih dari 9%; dan kedua, faktor psikososial, karena tinggal di lingkungan yang membuat dirinya mengalami tekanan (keretakan keluarga, tuntutan pekerjaan, dan lain-lain), menyebabkan seorang individu mudah stres dan tidak mampu untuk mengoordinasikan sistem intelektual, emosi, dan tingkah lakunya.[4]

Gejala skizofrenia beserta faktor-faktor penyebabnya tersebut dapat kita temukan dalam cerpen “Batu Pengisap Matahari”, “Keabadian Sirin”, “Penyeberangan Sirin”, “Burung Sirin”, “Pak Tua dan Pesawat Terbangnya”, “Pesawat Sirin”, “Pesawat Mainan”, termasuk tiga cerpen awal tentang satan, ditambah juga cerpen “Cerita Sirin” yang cenderung memperlihatkan gejala dari sudut pandang tokoh lain. Yang unik dan sedikit mengundang humor, jika Sigmund Freud[5] pernah menjelaskan perihal kondisi pasien skizofrenia yang memiliki hasrat sangat dalam dan primitif pada susu, dalam Belfegor dan Para Penambang kita dihadapkan dengan situasi tokoh-tokohnya yang berhasrat memiliki pesawat terbang pribadi dan pertemuan kembali dengan sanak familinya (ibu Sirin).

IV

Cerpen “Cerita Sirin” sekaligus menjadi jembatan antara cerita tentang skizofrenia dan cerita dari bukit selatan (tentang para penambang). Dalam cerita tersebut, Sirin–yang memiliki gangguan kejiwaan, dilihat dari tuturan dan tingkah lakunya–diposisikan sebagai kenalan tokoh “aku”, yang ditimpa masalah lantaran berusaha meliput dan membongkar berita kebocoran limbah tambang emas, yang ditutupi oleh perusahaan pengelolanya di pulau seberang. Kiki tidak memberikan referen pulau manakah yang dimaksudkan. Apakah pulau di seberang asal pengarang (Lombok), yakni Sumbawa dengan PT Newmont-nya? Tidak dijelaskan.

Pembebasan dari referen yang bersifat autentik atau menunjuk dengan jelas salah satu nama pulau–jika dilihat dengan heremeneutika Paul Ricoeur: otonomi semantik (dari intensi pengarang, konteks produksi teks, dan kelompok sasaran)–dipergunakan oleh Kiki agar orang-orang di luar lingkungan dirinya dapat menarik kejadian-kejadian dalam cerita menjadi berdekatan dengan realitas masing-masing (pembaca), sebagaimana pernah dikatakan Ignas Kleden ketika “mengantar khalayak” untuk memasuki kumpulan cerpen Yel milik Putu Wijaya. Pembaca menegasikan keberadaan Kiki. Hasilnya, kegiatan penambangan dalam cerita tersebut dapat ditafsirkan sebagai kegiatan yang terjadi entah itu di bagian selatan Pulau Lombok, Pulau Sumbawa (PT Newmont), atau bahkan Papua (PT Freeport) sama sekali. Interpretasi yang menghasilkan nama-nama di luar tiga lokasi yang daya sebutkan pun, tentu “halal” dilakukan.

Kita memang dapat memilih beberapa kacamata dalam membaca cerita dari bukit selatan tersebut. Dua di antaranya: pertama, sebagaimana saya sebutkan tadi; dan kedua, ialah mengaitkannya dengan sosiokultural Kiki. Saya cenderung memilih kacamata kedua, sebab merasa memiliki keterkaitan dengan sang pengarang: kami dari daerah yang sama, Lombok.

***

Bisa dikatakan cukup terlambat, saya menyadari fenomena itu sekitar tahun 2011, di dini hari, sebelum berangkat dari kampung untuk kembali ke kota. Ada yang berbeda di hari-hari belakangan: angkutan umum, atau truk-truk yang berjalan semasih remang, tidak seramai waktu-waktu yang telah lalu. Pagi lazimnya riuh. Keheningan dipecah obrolan para petani dan buruh yang hendak mencari peruntungan ke pulau seberang: Sumbawa. Sudah menjadi kebiasaan sebagian masyarakat di kampung saya, utamanya laki-laki, bahwa pada musim menjelang panen, mereka akan berbondong-bondong menyeberang. “Paman Yi-mu sepertinya jadi berangkat bebetel[6] ke Sekotong kemarin,” jelas bapak saya.

Jadi demikian, rupanya sebagian besar orang-orang beralih mengadu nasib ke “Bukit Selatan” alias Sekotong. Itu pun dengan mempertaruhkan nama (sebagai penambang ilegal) sekaligus nyawa. Dan fenomena pergeseran “hobi” yang saya temui tersebut, rupanya diolah ke dalam beberapa cerpen dengan mendalam, elegan, sekaligus bernuansa magis oleh Kiki.

Telah menjadi hal lumrah ketika para sastrawan melontarkan kritik secara subtil terhadap lingkungan masyarakatnya. Apa yang dikritik? Ialah–sebagaimana pernyataan Joko Pinurbo–peralihan situasi hidup yang memberlangsungkan pula pergeseran pola hubungan antara manusia dan alam, dari hubungan antarsubjek menjadi hubungan antara subjek dan objek. Dan alam adalah objek yang bisa “dihabisi” demi pemenuhan hasrat manusia.[7] Dapat ditebak yang terjadi berikutnya: jejak-jejak yang ditinggalkan kegiatan penambangan liar tersebut hanyalah kerusakan demi kerusakan lingkungan, seperti pencemaran dan kontaminasi mercury, terganggunya ekosistem di perairan, bahkan juga berpotensi mengundang bencana alam. Dampak yang ditimbulkan pada hubungan sosial masyarakat juga tidak kalah seriusnya: persaingan yang menyengit dan berbuntut pengkhianatan, permusuhan, bahkan tindak kekerasan yang berakhir dengan pembunuhan. Telah kian ramai media-media memberitakan hal demikian.

Kendati sebenarnya aktivitas penambangan telah dilarang secara berulang-ulang oleh pemerintah, namun watak “pagah” (baca: keras kepala) rupanya telanjur melekat pada diri masyarakat bersangkutan. Dalam hal ini, saya menemukan bahwa kritik oleh Kiki sebenarnya tidak hanya berhenti pada masyarakat itu sendiri, melainkan andai digali lebih dalam, akan merunut kepada nama pemerintah: soal pelibatan masyarakat kemudian, termasuk juga tuntutan kesejahteraan (materiel dan wawasan) rakyat yang mungkin tidak kunjung menemukan titik terang.

Persoalan menjadi sedemikian pelik, dan kepelikan tersebut dapat kita “nikmati” lewat pergulatan-pergulatan tokoh dalam cerpen “Cerita Sirin”, “Para Penambang”, “Penunggu Sungai”, “Anjing Hitam Rastamin”, juga “Kecubung Es”. Secara pribadi, pengolahan cerita mengenai problem para penambang ala Kiki, bagi saya sangat berhasil dan memukau.

V

Selain satan, skizofrenia, dan cerita dari bukit selatan (tentang para penambang), beberapa cerpen lain yang dihadirkan sebagai “pelengkap” dalam Belfegor dan Para Penambang, di antaranya: “Pada Saat Itu Ada Kilat di Langit” menceritakan deja vu yang dialami tokoh utama dan isu-isu hotel berhantu; “Hantu Bapak” yang secara gamblang mengangkat lika-liku kehidupan pribadi para politikus; “May dan Para Tentara” dan “Hikayat Penunggu Sumur” yang menyentil peristiwa sejarah masa Orde Baru; juga “Mikail Telah Menyayat Pinggangnya” yang pada beberapa bagian (terutama suasana dan ending)menurut saya memiliki kemiripan dengan “Anjing-anjing Menyerbu Kuburan” milik Kuntowijoyo.

Seluruhnya menguarkan nuansa magis, mungkin–jika dikembalikan kepada pengakuan Kiki dalam pengantarnya–karena dalam penciptaan cerpen-cerpennya, ia kerap kali mempertanyakan seberapa besar kadar fiksi (yang di dalamnya sisi magis dan supernatural lebih mudah diterima) dalam fakta yang dialaminya, bukan sebaliknya. Dan andai keganjilan-keganjilan atau keanehan di dalamnya justru membuat kita menjadi gumunan, saya boleh menyarankan–dengan menyitir pernyataan Ariel Heryanto–agar kita sebaiknya menyadari bahwa hidup ini sendiri sudah cukup aneh, karena diisi banyak orang yang aneh, sering mengalami yang aneh, dan suka mengarang kisah aneh-aneh tentang pengalaman.[8] Tidak terkecuali resensi ini, sebab saya pun merasa sedemikian aneh tatkala menuliskannya. Demikianlah.


[1] Realisme magis, mulai dikenal lewat Alejo Carpentier (1904–1980), kemudian menemukan ikon utamanya dalam Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marquez, merupakan aliran sastra yang tumbuh subur di tanah Amerika Latin karena beberapa dorongan, termasuk situasi kultural dan tradisional masyarakatnya yang akrab dengan hal-hal magis, yang diterima dengan wajar sehari-hari. Di Indonesia, kerap dilekatkan dengan Danarto (pen.), Eka Kurniawan, Triyanto Tiwikromo, atau A.S. Laksana (Anton Kurnia dalam Mencari Setangkai Daun Surga, 2016: hlm. 125–129).

[2] lihat juga: Sastra Indonesia Modern II (1989) karangan A. Teeuw;  Pengarang Tidak Mati (2012) karangan Maman S Mahayana; atau Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik dan Penerapannya (2012) karangan Rachmat Djoko Pradopo.

[3] Deuterokanonika merupakan istilah yang digunakan sejak abad XVI dalam Gereja Katolik Roma dan Kekristenan Timur, guna mendeskripsikan berbagai kitab dan bagian tertentu Perjanjian Lama Kristen yang bukan merupakan bagian dari Alkitab Ibrani saat ini. Istilah ini digunakan sebagai pembeda dengan kitab-kitab Protokanonika atau Apokrifa.

[4] lihat penjelasan Alloy, Jacobson, dan Acacella (1999) dalam https://wilyleo.wordpress.com/2010/11/27/arti-cinta/

[5] dalam Sigmund Freud, Pengantar Umum Psikoanalisis, 2009: hlm. 673.

[6] menghancurkan batu-batuan dengan peralatan sejenis palu dan pahat.

[7] dalam pengantar antologi puisi Lebih Baik Putih Tulang Daripada Putih Mata (2017).

[8] dalam kata pengantar Kroco (2004) karangan Putu Wijaya.


Versi lebih pendek tulisan ini pernah dimuat dalam website Terune.id pada 12 Maret 2019.


Ilustrasi Poster: Pratomo Bangun | IG: @jagalaut

Ilham Rabbani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *