Menggambar adalah Jalan Ninjaku

Saya mulai merasakan batin bergidik sekaligus adem dengan keindahan dan anggunnya lanskap jagat raya. Semuanya mewujud hingga bisa terlihat oleh mata manusia, namun tidak semua sudut pandang sama saat melihatnya. Misalnya saja gunung berada di puncak, pemandangan yang istimewa itu harus diabadikan momennya lewat jepretan mata kamera. Namun bagi saya, gunung itu sendiri merupakan objek.

Ketika saya memilih melihatnya dari arah sejauh mungkin, utuh dan lengkap dengan pepohonan, sungai, serta rumah-rumah kecil di bawahnya. Bukankah jika itu digambar menjadi semacam obituari ingatan masa kecil? Jika benar, rupanya sudut pandang ini masih suatu kelaziman. Justru proses saya berawal dari menggambar gunung. Saat saya masih kanak-kanak.

Kecintaan saya dengan aktivitas menggambar bagaikan api jauh dari panggang. Menimbang saya bukanlah seorang seniman, bahkan berasal dari lingkungan yang kurang memadai. Namun, saya bandel dan tetap menggambar. Walaupun pada porsi yang terkadang cukup untuk dimakan sendiri. Dukungan, apresiasi, kepercayaan, dan ketidaktahuan menjadi dasar alasan saya tetap berkarya.


“Melihat” Ibarat Merekam, Bakal Tersimpan Lama atau Segera Hilang

Seni merupakan hasil representasi intuitif, menurut saya. Begitu pun yang terjadi pada nasib beberapa bagian dari karya yang saya gambar. Mereka terlahir atas gerakan mendasar yang terjadi begitu saja.

Sebuah respons atau jawaban dari berbagai peristiwa yang seolah-olah bertanya kepada saya seperti ingin divisualkan. Peristiwa yang mengelilingi, yang dekat, dilihat, didengar, memberikan tawaran, saya coba usik dengan potensi kepekaan berbatas. Tapi, walaupun demikian tetap dengan harapan masih dalam upaya mewakili sebuah perasaan dan penghayatan sekalipun bersumber dari khayali.

Tanpa melupakan sebuah peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam kosmis tempat tinggal makhluk hidup. Segala hal yang terjadi di sekitar diri, sekalipun sebuah pengalaman, semua yang kita “lihat” itu  adalah tabungan rekaman ide. Prinsip form follows fun sering didengar maupun mendarah daging bagi sebagian pegiat seni. Ketika merasa bergairah untuk menggambar, maka menggambarlah. Hasil gambar itu dengan sendirinya akan mencium kening dan menganggapmu sebagai kekasih yang telah melahirkannya.

Begitu juga saat saya lapar, maka akan segara makan. Tetapi berbeda jika saya makan bukan karena lapar, melainkan makanannya sangat enak. Masing-masing porsi makan dari kedua kasus tersebut pasti akan berbeda. Begitu pun hasil gambar, akan lebih matang jika benar-benar sedang lapar sekaligus rasanya enak. Mohon maaf, saya tidak menggunakan istilah teori dalam tulisan ini. Karena relasi atas makna-makna ideologis yang akan dicapai sempat membuat diri terlalu gelisah. Begitu pula dengan gambar yang saya buat berikut:

Akrilik di atas kanvas

Karya ini terilhami oleh pandangan kebanyakan orang yang beranggapan pandemi bermula dari negara luar hingga sampai ke dalam negeri. Saya gunakan imaji wayang untuk mewakili “dalam negeri” yang bersanding dengan seorang perempuan berkostum khas luar negeri, lalu divisualkan. Saya tak mengangkat soal pandemi. Begitupun perihal pose, kostum, maupun gender yang digambar. Hanya sebagian dari gairah imaji yang ingin digambar dan direkam. Membuat garis-garis gambar yang berangkat dari sebuah peristiwa. Tanpa mengangkat seluruhnya, hanya sebatas konsistensi kontekstual.

Dalam proses berkarya, bentuk dan teknik saya biarkan mengalir begitu saja. Lebih sering menggunakan cat air untuk menunjang gambar realis maupun surealis. Karya realis, sering diwujudkan dalam bentuk wajah dan beberapa bentuk gambar urban sebagai pemanis. Namun, nyatanya saya lebih condong sering menggambar surealis yang kadang kala dijadikan sebagai visualisasi puisi.  Berikut beberapa karya lain yang pernah saya buat:

Cat air di atas kertas
Bolpoin di atas kertas
Bolpoin di atas kertas
Akrilik di atas kanvas

Ilustrasi Poster: Pratomo Bangun | IG: @jagalaut

Melia Tri Pamungkas
Latest posts by Melia Tri Pamungkas (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *