3 Sajak 1 Tubuh Tentang Riwayat Penemuan dan Penyesalan Sumbi

3 SAJAK 1 TUBUH TENTANG RIWAYAT

PENEMUAN DAN PENYESALAN SUMBI

.
  1. Riwayat

dari rahim babi rusa aku tumbuh

lalu diasuh oleh kemegahan hidup.

tercatat sebagai putri yang tubuhnya

tersusun atas darah dan doa dewa.

.

dalam diriku, mengalir sebuah rahasia

yang sering gagal kudengar riciknya.

.

seperti siul burung, perempuan tak bernama

kerap memanggilku dari balik purnama.

kukira itu ibunda yang jauh mengintai

kesunyianku dari punggung bulan.

.

silam, ia berkata bahwa sisa air kelapa

yang ditenggaknya di hutan ialah muasal dewa

menunggalkan sabda atas kelahiranku di dunia.

.

ia tak sempat berpikir bagaimana kelak

harus menjawab andai kutanya

siapa lelaki yang menidurinya di hutan

sampai aku terbit jadi buah persetubuhan.

.

2. Penemuan

betapa kelahiran telah menyiasatiku

dari rahasia yang sering gagal diurai.

.

belum semusim senyumnya kuserap

seketika kawanan orang berkuda

menghadapiku penuh curiga.

kami tak saling kenal, tapi ibunda

bagai ditawan jalan takdir yang parau.

.

sebelum lari tergopoh, ia kecup hatiku

dengan bibir sedingin embun.

tangisku menyusul sekencang ia berlari

meninggalkanku di balik semak berduri.

.

seketika hutan menyerap air mataku

yang sederas sungai citarum

sejak seseorang melarikanku dari terik cahaya

menyisir jarak dengan iring-iringan kuda.

.

3. Penyesalan

harusnya aku tak menunda kejujuran

atas perkawinan ganjil antara aku dan tumang

agar ia berangsur paham bahwa anjing jaga

selincah dewa itu jelmaan ayahnya.

.

bahkan bila terpaksa ia menolak percaya

sedikitnya dosa lekas terputus dan tumang

tak sampai tewas tertembus panah.

.

harusnya aku tak gegabah lari ke gua

bertapa memohon ampunan dewa

atau meminta kecantikan kekal.

.

bahkan bila terpaksa kuwajib menua

setidaknya jejak keriput di kulit wajah

tak sampai merotasi takdir dan memaksa

sangkuriang mengawini ibu kandungnya.

2019


PERTARUNGAN DEMI SUMBI

.

dayang sumbi! dayang sumbi!

sudahkah dari ribuan pertarungan

kau pilih satu nama pangeran

untuk kau agungkan jadi peminang?

.

bahkan kepada diri sendiri

aku begitu merasa terhina.

sebab sepanjang pertumpahan darah

tak seorang pun sanggup

meremukkan hatiku yang karang.

.

betapa kecantikan telah menyulapku

jadi gadis yang hidup dalam ancaman.

betapa terik keinginan untuk menghindar

jauh melupakan nasib diri yang malang.

.

dayang sumbi! dayang sumbi!

sudahkah kesedihan melarikanmu

dari penyesalan sebab lebih memilih

untuk menolak semua pinangan?

2019



NUWA

.

Kesunyian bangkit dari tubuhmu.

Ia mengasingkanmu ke lapang waktu:

tempat pinus, willow, apel, quince, dan plum

merayap dari bibir telaga ke bukit batu.

.

Di ujung jauh, melati, bakung, dan narcissus

meluluri udara dengan wangi menyengat.

Macan, kijang, merpati, dan katak bebas beranjak

dari lembah ke arah yang tak tertebak.

.

Kau seorang, terjebak dalam keganjilan

berjalan meringkas langkah menuju sungai.

“Dari bayang air, kutahu cara memecah tubuh

agar selamat dari jerat sunyi yang sepuh.”

.

Kau seorang, terbebas dari renungan

sejak sungai terulur dan ombak gaduh

menampar lumpur ke tepian.

“100 tubuh terbentuk darilincah tangan,

hiduplah ia hanya dalam kendali mantra.”

2019



PULANGLAH

.

ia kembali ke danau, bukan lagi untukmu.

tak ada lagi kail, umpan, atau pun patin,

yang berhak kau sambut sore ini.

“pulanglah, kesedihan ada bersamamu.”

.

ia akan lupa ke danau, sebab luka di tubuhnya

bertambah luas, dan tak tersembuhkan.

“pulanglah, kesedihan sudah bersamamu.”

.

di perut gubuk, seseorang tergelepar,

memanggil keras namamu dan berseru:

“pulanglah, biar aku selesai di pelukmu.”

2019


HADIAH ULANG TAHUNMU

: N. Evani M.

.

aku telah mengoyak jantung,

juga seluruh bagian inti tubuhku.

sebab kuingat, april sebagai peringatan

kelahiranmu yang entah di angka berapa.

.

sebagai sudra, tak ada yang lebih sanggup

kupersembahkan semisal bunga, cokelat,

perhiasan, atau apa pun yang biasa dihadiahkan

oleh yang selain aku kepada kau.

.

sebab itu, hanya sanggup kutebus pisau

dengan ujung yang lebih runcing dan tajam,

lanjut kusayat inci per inci lapisan kulit

dan ringkasnya: ini intiku, sepenuhnya untuk kau.

2019


Foto Ilustrasi: Pementasan DUALISME dari Teater Amarta

Fotografer: Pratomo Bangun | IG: @jagalaut


Ilustrasi: Jemi Batin Tikal | IG: @jemisekali

Latest posts by Daffa Randai (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *