Kutukan Batu

“Kau telah gagal Bandung! Bagaimana kau bemimpi untuk miliki jiwa dan ragaku jika seribu candi saja tak sanggup kau bangun?”

“Aku mencintaimu Roro, bagaimanapun juga kau akan jadi permaisuriku!” Bandung Bandawasa menyeret Roro Jonggrang ke istananya.

“Lepaskan aku! Dasar pembunuh! Pergi dari sini!”

“JONGGRANG! Kau membuat kesabaranku habis! Aku mengutukmu! Jadilah kau batu candi keseribu, Roro Jonggrang!”

“Aaarrrggghhh!!! Sungguh malang kau Bandung, sampai mati pun aku tak sudi jadi milikmu!”

Menggelegar langit dan bumi karena kutukanmu Bandung, hingga bergetar menyusup ke dasar bumi. Seharusnya cinta yang melunakkan laku kasihmu. Tapi hanya angkara murka yang tersisa menjadi sebuah cerita.

***

Memoles gincu. Dewina tengah bersiap untuk pementasan tari di Candi Ijo. Ia diundang menjadi salah satu bintang tamu di acara festival budaya.

“Gimana? Cantik belum?”

Dewina yang kukenal kalem, sekarang tampak sedikit lebih erotis. Entah kenapa hanya dengan rompi bludru yang menutupi tubuhnya ia lantas terlihat begitu seksi. Ditambah gincu merah yang tebal, eye shadow paduan warna ungu dan biru, serta alis tajam dan pipi kemerahannya. Bagiku tampak….

“Sempurna”

Dewina hanya tersenyum padaku dan itu membuat jantungku berdegup kencang. Dengan bulu merah muda di atas mahkotanya, ia akan menarikan tarian Golek Ayun-ayun. Lentik jemarinya berpadu indah dengan alunan gending Jawa sekilas tampak begitu molek dan menggoda. Selepas penampilan Dewina aku tak tertarik menonton penampilan yang lain dan memilih melanjutkan pekerjaanku meliput festival budaya ini.

***

Mas Gemma sedang sibuk dengan pekerjaannya dan aku sibuk mencari penjual jajanan yang tersebar di sekitar candi. Di teras candi kedelapan, aku melihat apa yang kucari. Wedhang Ronde. Kupesan satu porsi dengan ekstra kacang sangrai, kunikmati dengan duduk di kursi yang sudah disediakan dan menghadap ke sebuah batu candi. Aku merasa ada yang aneh, entah aku atau batu itu yang aneh.

“Mbak jangan melamun, nanti kesurupan loh,” kata bapak penjual Ronde yang jika kutaksir umurnya sekitar tujuh puluh tahun.

“Saya tidak terlalu percaya sama yang seperti itu,” jawabku enteng.

“Beneran ini Mbak, saya kira tadi Mbaknya kemasukan, soalnya yang Mbak lihat prasasti kutukan.”

“Ha? Prasasti kutukan? Kutukan apa?”

“Ya saya kurang tahu Mbak kalau kutukan apa, yang jelas isinya mantra yang diulang-ulang, orang bilang itu kutukan.”

Aku menjadi penasaran dengan batu yang kulihat. Saat kuraba, permukaannya terasa kasar. Tiba-tiba aku kehilangan keseimbangan dan tersuruk. Perlahan hiruk pikuk festival mengabur, sebagai gantinya muncul bayangan kegelapan, seolah tanpa batas. Aku berusaha menggapai batu atau kursi yang bisa kujadikan tumpuan. Tapi tanganku hanya menembus kegelapan dan udara dingin menusuk kulit. Lorong hitam ini berakhir di tempat yang membuatku terperanjat. Di manakah aku?

“Jonggrang! Beraninya kau menipuku!” Kulihat seorang yang tinggi besar dan tampak mengerikan. Entah karena sedang marah atau memang wujudnya mengerikan. Aku sama sekali tak berani bergerak maupun bicara, bahkan merintih karena luka saat jatuh tadi pun aku tak berani.

“JONGGRANG!!!” Teriaknya, seolah sedang melampiaskan semua kemurkaannya. Tapi….

“Dew, Dewi, bangun Dewi, Dewina.”

“Mbak, bangun Mbak…” Sayup-sayup kudengar suara. Perlahan kubuka mata dan kulihat Mas Gemma dan penjual Ronde serta beberapa pengunjung lain mengerubungiku. Beberapa ada yang tampak khawatir dan sisanya hanya terlihat penasaran akan apa yang terjadi.

***

Dua hari kemudian.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Pak Sumadi–ayah Dewina. Laki-laki di hadapanku ini tampak begitu khawatir atas apa yang menimpa putrinya.

“Saya kurang tahu, Pak.”

“Di mana ia pingsan?”

“Dewina pingsan di dekat prasasti Om Sarwwawisana,” jawabku.

Sungguh aku tak tega melihat getir di rupa Pak Sumadi. Juga Dewina yang tak kunjung bangun sejak malam itu.

“Setelah itu, apa yang terjadi hingga ia tidur sampai sekarang?” tanya Pak Sumadi dengan suara bergetar.

“Tidak ada kecuali mungkin setelah pingsan ia tertidur di mobil dan berguman tentang raga tanpa jiwa yang membatu atau apalah itu kurang jelas.”

“Raga tanpa jiwa yang membatu? Tidak mungkin, tidak mungkin.Terlambat sudah, kutukannya sudah berlangsung.Tidak….”

“Kutukan apa yang bapak maksud?”

“Dalam raga Dewina terdapat jiwa Roro Jonggrang dan dalam jiwa Roro Jonggrang tersimpan sebuah kutukan. Kini kutukan itu telah diturunkan pada Dewina, putriku tercinta.” Jelas Pak Sumadi tak sanggup lagi menahan air matanya.

“Lalu apa yang harus kita lakukan Pak?”

“Tidak, bukan kita, tapi kamu, hanya kamu, hanya cinta sejati yang bisa menyelamatkannya.”

“Saya?”

“Bawalah Dewina ke rumah Pakdhe Harso kemungkinan dia mengerti apa yang harus kau lakukan. Lindungi Dewina di sana.” Lelaki berpostur pendek dengan penampilan ringkih itu menjelaskan dengan yakin.

“Baiklah Paman, demi Dewina nanti malam kami akan pergi ke rumah Pakdhe Harso.”

***

Malam itu juga aku memacu mobil dari Magelang menuju Prambanan dengan kecepatan tinggi. Hingga tak sampai dua jam kami sudah sampai di rumah Pakdhe Harso. Saat membuka pintu dan menyalakan lampu Pakdhe Harso hampir terpekik melihat siapa yang mengetuk pintu rumahnya. Di pojok kursi tebal dan empuk Pakdhe Harso memintaku mendudukkan keponakannya. Menyadari situasi mengejutkan yang dihadapinya, Pakdhe Harso hanya berdiri tegak dan mengawasiku dengan mata dibuka lebar-lebar. Pakdhe Harso adalah seorang bajingan –penarik gerobak sapi– yang dulu selalu melindungi adiknya –Ibu Dewina– dari kutukan titisan Roro Jonggrang.

“Apa yang harus kulakukan padanya Pakdhe?” Setelah saling bertukar pandang. Pakdhe Harso menjawab pertanyaanku dengan pernyataan yang sangat tak terduga. “Tidak ada.”

“Sepertinya Pak Sumadi telah salah karena menyarankanku untuk membawa Dewina ke sini, kalau begitu biarlah dia kubawa pulang.” Jawabku memancing Pakdhe Harso seraya mengangkat Dewina.

“Kau pikir apa yang bisa dilakukan oleh orang yang bahkan tidak dicintai oleh Dewina untuk menyelamatkannya?” Tanya Pakdhe Harso.

Berdesir darah di sekujur tubuhku.“ Seperti Bandung Bandawasa yang membangun seribu candi untuk Roro Jonggrang, maka saya pun bisa melakukan segalanya untuk Dewina.”

“Meski akhirnya kau akan menanggung kekecewaan seperti Bandung Bandawasa?”

“Iya, meski nantinya aku akan kecewa.” Kataku mantap.

“Baiklah, kalau begitu jemputlah Dewina, dia ditahan oleh roh Bandung Bandawasa, kau harus mengalahkannya jika ingin menyelamatkan Dewina.”

“Bagaimana caraku mengalahkannya?”

“Pertama, minta ajian milik Dewi Agni, lakukanlah perjalanan kaki dari patung Roro Jonggrang di Candi Prambanan ke homa tempat pembakaran sesaji Dewa Agni di Candi Ijo tepat pada malam purnama keempat belas nanti malam.”

***

Tepat pukul sembilan malam aku pergi ke Candi Prambanan untuk memulai perjalanan. Lalu angin dingin menyapu wajahku.Disertai bisikan tajam. “Jangan pergi!” Kulihat sekeliling tak ada siapapun. Hanya aku sendiri. Siapa yang berbisik padaku? Kenapa aku tak boleh pergi? Aku kembali mengawasi sekeliling. Sepi. Waktu hampir menunjukkan pukul sepuluh. Masih banyak kendaraan lalu lalang. Aku berjalan dengan masih memikirkan peristiwa aneh yang kualami tadi.

Di tengah perjalanan aku merasa harus mampir ke Sumur Amerta Mantana di Keraton Boko.Entah dari mana keyakinanku itu berasal dan aku pun berbelok ke jalan Ratu Boko menuju Sumur Amerta Mantana. Memasuki jalan menanjak tak banyak lagi kendaraan lalu lalang.Sesampainya di gapura Keraton Ratu Boko, lagi-lagi saat aku meniti tangga memasuki komplek percandian bahuku terasa begitu berat seolah ada yang menindih dan bisikan itu kembali terdengar. Hanya dengan kalimat berbeda.“Pulang! Pulanglah! Pulanglah…!”Tak ada orang lain di dekatku, bahkan sejauh mata memandang aku tak melihat siapa pun. Dari mana suara-suara itu berasal? Dan apa yang menindih bahuku? Hanya sebentar.Tapi jelas terasa. Dan bisikan itu pun terlalu jelas jika ingin pura-pura tidak mendengar.

Setelah mematung sejenak kulangkahkan kaki menuju Amerta Mantana di tenggara candi pembakaran.Untuk melepas lelah aku mencuci muka dan meminum sedikit air dari sumur itu. Tiba-tiba aku merasakan pening yang teramat sangat, mungkinkah aku keracunan? Ah, tidak mungkin, air yang kuminum adalah air suci. Lalu aku mendengar tapak kaki kuda yang begitu jelas berjalan ke arahku. Dari kejauhan kulihat seorang laki-laki dengan pakaian seolah raja di zaman dulu menunggang kuda hitam yang lebih hitam dari gelapnya malamini. Dengan keras, pria itu menghardikku.

“Kau sudah kuperingatkan!”

Aku hanya bisa mematung.

“Siapa kau?”Tanpa sadar pertanyaan itu meluncur dari bibirku.

“Kau sudah kuingatkan!” Lagi-lagi dia membentakku dan aku tak bisa menjawab apa-apa. Kemudian pria berkuda itu tampak menjauh dan gumpalan kabut yang melingkupinya menyebar. Semakin tipis hingga tak berbekas.

Aku bukanlah seorang penakut, tapi kenapa kakiku gemetaran? Tak bisa menjaga keseimbangan aku pun terjungkal. Akh! Kepalaku membentur dinding sumur. Dan semuanya menjadi gelap. Sangat gelap. Aku berusaha menggapai sesuatu apapun itu, tapi tanganku hanya menembus gelap, tak mendapat apa-apa.

Lalu, aku berjalan dan hanya berjalan tak tahu ke mana. Kakiku sudah tak lagi gemetaran kepalaku juga tak lagi pusing.Jalan, terus berjalan.Aku melihat seberkas cahaya berwarna merah. Panas, sangat panas.Api. Dan dari api itu muncul seorang yang sekujur tubuhnya terbakar dan dia menunggang… ha? Kambing? Siapa dia?Dengan dikelilingi kabut semerah darah, sosok itu semakin mendekat. Dan suara dari sosok di hadapanku begitu menggelegar.“Siapa kau?”Dengan gemetar dan gagap, aku menjawab. “Gemma Akbar, si…siapa kau?”

Mendengar namaku wajah itu menyeringai dan dari mulutnya terjulur tujuh helai lidah. Bwhooossshhh!!! Dari setiap lidah menyemburkan api ke arahku. Panas sekali sampai ke ulu hati, panas sekali rasanya jantungku terbakar. Perlahan pandanganku mengabur.

***

“Di mana aku?” Kepalaku sakit sekali, kulihat sinar matahari sangat menyilaukan. Bagaimana bisa aku ada di sini? Kulihat sekeliling, aku berada di sebuah kamar yang sangat mewah. Berbagai pernak-pernik emas bertebaran. Kucoba mengingat-ingat keberuntungan apa yang membuatku sampai di sini. Seorang pria tinggi besar masuk. Dada bidang dan otot bahunya kokoh. Dia berjalan mendekati dipan tempatku berbaring. Menyeringai.

Kupejamkan mata saat tangan besar pria itu mengarah padaku. Dan. Akh…! Tak terjadi apa pun padaku. Dengan takut kubuka mata perlahan, tak kutemukan lagi sosoknya. Kulihat sekitar kamar kutemukan dia sedang berdiri di depan jendela mengamatiku dengan mata membara. Lama sekali dia mengamatiku dan aku hanya bisa diam membatu. “Sial! Kau bukan dia. Kau menipuku! Lagi-lagi menipuku! Bedebah!” Bentaknya seraya memukul bibir jendela dan pergi meninggalkan ruangan. Suaranya benar-benar membuatku bergetar. Aku merasa pernah merasakan hal ini sebelumnya. Ah! Aku ingat! Dia adalah pria mengerikan yang kutemui saat aku pingsan di Candi Ijo. Benar.Laki-laki mengerikan itu adalah dirinya. Lalu mengapa aku ada di sini?

Ruang yang tadinya hangat karena sinar matahari. Entah mengapa mendadak sepi. Dingin. Kulihat kabut melayang di langit-langit kamar.Mula-mula berwarna putih.Lambat laun berubah menjadi ungu. Semakin tebal.Menggumpal. Membentuk sosok perempuan. Semakin nyata. Untuk kesekian kalinya aku terperangah.Dan hanya bisa diam membatu. Sosok yang kulihat ini tak lain adalah diriku sendiri. Seolah bercermin. Hanya saja dengan pakaian dan sorot matanya berbeda. Pakaiannya bak seorang putri keraton, sorot mataya adalah sorot mata yang berani dan… sedikit nakal.“ Lari! Pergilah dari sini! Tempatmu bukan di sini. Pulanglah. Larilah!”

Terdengar suara orang berlari kearahku.

BRAK!

Pintu dibanting keras. Kabut dan sosok perempuan di hadapanku tiba-tiba lenyap.Kabur bersama angin.

“Sial!”Hardik pria besar di depanku yang tiba-tiba masuk. “Gara-gara kau! Kau menipuku! Dia menipuku! Siapa lagi yang akan menipuku?!” Bentaknya dengan wajah merah padam dan napas menggebu.

***

Gemma terbangun, cahaya samar-samar menerabas rimbunan pohon. Panik melanda diri Gemma. Ia jalan tak tentu arah. Maju, mundur, memutar entah kemana seolah tanpa tujuan. “Dewina! Dewina! Di mana kamu! Dewina!” Terdengar suara gemerasak dari semak-semak di depannya. Gemma tertegun. Diam.Sekonyong-konyong, muncul wanita dengan pakaian compang-camping. Kaki telanjangnya berdarah, tersaruk-saruk berjalan dengan wajah pucat pasi seolah sedang melarikan diri dari binatang buas.

            “Dewina!” Teriak Gemma sembari berlari ingin memeluk Dewina. Baru beberapa langkah Gemma melihat sosok tinggi besar berlari ke arah Dewina dengan wajah berapi-api. Reflek Gemma menarik Dewina lari menjauhi pria itu. Lari. Berlari terus saja berlari. Tanpa melihat ke belakang. Hingga tersandung akar pohon dan terjengkang berguling jauh sekali. Kepala mereka terantuk benda keras dan rata. Gelap, mendadak semuanya gelap. Sangat gelap.

***

            “Dewina? Di mana kamu?”

            “Dasar manusia tak berguna! Beraninya merebut kekasih orang! Apa yang kau dapatkan dari ini semua? Hanya kekecewaan! Dia tidak mencintaimu!” Suara itu semakin mendekatiku, bersama dengan sosok tinggi besar yang menyeramkan.

            Tiba-tiba badanku terasa panas. Panas sekali.Sangat panas. Panaaas. Menyembur api dari dadaku membakar makhluk tinggi besar itu dan makhluk itu pun menghilang bersama dengan hilangnya kegelapan yang menyelimutiku.

            Kulihat sekelilingku. Ha? Candi Boko? Kudengar ayam berkokok dan fajar mulai merambat. Aku teringat kalau seharusnya sekarang aku menuju Candi Ijo. Tapi badanku terasa begitu lelah, remuk. Aku bukanlah lelaki ringkih. Tapi pagi ini aku merasa bahkan berjalan pun sudah tak ada lagi tenaga. Aku memutuskan pulang ke rumah Pakdhe Harso. Dan melanjutkan perjalanan lain kali. Sesampainya di rumah Pakdhe Harso. Beliau sudah menunggu di depan rumah dengan wajah harap-harap cemas.

            “Pakdhe, maafkan aku, sepertinya aku kehilangan Dewina, aku tak dapat menyelamatkannya.” Kataku menyesal.

            “Nak, kau berhasil, kau berhasil menyelamatkannya, Nak.Tapi, kau kehilangan dirinya.” Ungkap Pakdhe Harso tak dapat menyembunyikan kecemasannya.

            “Maksud pakdhe?” Tanyaku heran.

            “Dia sudah sadar, dia selamat meski muncul beberapa luka di tubuhnya. Tapi nak, dia… dia tak mengenaliku. Dia kehilangan ingatannya. Rupanya kutukan itu telah sampai menyerang ingatannya. Ingatannya telah membatu, Dewina lupa dengan segalanya, bahkan dengan dirinya sendiri.” Jelasnya penuh penyesalan.

            “Hah? Hahahaha. Hahahahaha…” Aku marah.

            Bangsat kau Joko Bandung!


Ilustrasi: Pratomo Bangun, IG: @jagalaut

Zulhamus Syafira
Latest posts by Zulhamus Syafira (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *