Almanak: Refleksi Diri dan Terapi dalam Penciptaan Karya Seni Rupa

Saya mencoba merefleksikan kembali memori pengalaman pribadi dengan karya beraliran surealis, semacam dongeng yang selalu menarik untuk didengarkan sebelum tidur sewaktu kecil. Pengalaman hidup seperti sedih, senang, pahit, angan-angan, kekonyolan, lingkungan sekitar dan yang terpenting tentang proses berkesenian yang tidak bisa dilupakan. Barangkali berbeda dengan orang kebanyakan, pilihan menjadi seorang seniman pada saya,  justru lahir dari tuntutan dan paksaan keluarga. Paksaan ini yang kemudian banyak mengisahkan bagaimana cara-cara yang saya lakukan supaya dapat sukses di bidang seni. Tentu saja pada proses ini menimbulkan  guncangan dan tekanan psikologis karena tidak berangkat dari keinginan sendiri.


Refleksi Memori Pengalaman Pribadi: Kontradiksi Menjadi Energi Berkesenian


Fase awal dalam kehidupan berkesenian menjadi hal penting bagi saya. Memilih profesi untuk mengarungi kehidupan di dunia seni tidak semata-mata langsung terjadi begitu saja, dalam penciptaan karya ini, saya lebih memilih spirit berkesenian yang dilalui, dari paksaan hingga rasa kenyamanan saat berkarya hingga membuat bangkit dengan berbagai tragedi yang dialami. Garis besar konsep penciptaan ini menggambarkan spirit di balik setiap karya-karya, momen yang lucu, tragis, sedih, komedi, parodi yang tidak bisa dilupakan lalu diwujudkan menjadi karya seni rupa.

Salah satunya dalam proses berkesenian, saya sering menjumpai berbagai kasus dalam dunia seni rupa. Seperti saat ini, pengaruh teknologi internet menjadi fasilitas utama untuk mengetahui berbagai macam karya seni dan informasi di penjuru dunia. Kasus-kasus plagiat, meniru ide, bahkan saling mencomot berbagai ikon-ikon karya orang lain untuk dijadikan karya pribadi. Instannya teknologi membuat malasnya para kreator untuk membuat karya yang benar-benar murni ciptaan sendiri. Peran referensi sendiri sangat rentan akan saling kopi ide maupun bentuk. Ide saya sendiri muncul karena beberapa kasus tersebut dengan membuat karya yang saling mencomot berbagai figur populer dan ikon karya-karya para seniman besar yang digunakan pada karya saya. Tujuannya untuk mengkritisi apakah seni rupa hari ini adalah seni rupa yang legal untuk saling mengakui karya yang dibuat menyerupai, mengopi dan semata-mata mengatasnamakan kontemporer untuk melindungi diri. Saya mengombinasikan cerita pengalaman tersebut sebagai media ungkap dan modus untuk mempertanyakan berkesenian saat ini. Pengalaman itu akan saya dongengkan melalui bahasa metafora media seni rupa, layaknya sebuah dongeng yang diwujudkan melalui karya seni.

Idiom yang timbul untuk mewakili kegelisahan tersebut dengan menggabung-gabungkan berbagai ikon karya dan figur seniman terkenal, kemudian disatukan untuk menjadi sebuah karya seni rupa, tetapi tidak semata menjiplak saja, namun masih menggunakan gaya melukis saya dengan unsur-unsur kombinasi lowbrowpopsurealis. Sebagai contoh dalam skema berikut yang menggunakan kanvas, cat minyak, cat akrilik, intalasi menggunakan medium campuran (sesuai konsep penyajian dan penciptaan karya).

Gambar. Skema pengembangan Referensi (foto diambil pada 20/05/2016, 15.59 WIB)

Seperti contoh karya di atas yang secara jelas ditampilkan dengan mempadupadankan beberapa corak karya seni seniman luar dan akhirnya melahirkan nuansa baru pada karya saya, menghasilkan karya yang tidak terlalu lepas dengan karakter saya, dengan menggabungkan konten-konten seperti binatang zebra, mainan, burung dan figur wanita. Figur- figur wanita saya pakai sebagai objek utama untuk merepresentasikan diri sendiri yang memperagakan tokoh utama suatu cerita pada karya. Pemilihan objek sendiri bukan berdasarakan bentuk wanita yang cantik dan indah-indah saja, tetapi figur yang mencerminkan pemikiran yang kuat, multitasking, mempunyai tanggung jawab yang tinggi, dan peran paling penting daripada laki-laki, walaupun lelaki dengan fisik yang besar dan kuat. Mengutip pernyataan Balaikan (1959:74) “The unusual metaphor hat creates the even more extraordinary image, which is composed of two or more elements having no logical relationship with each other”. Gambaran perempuan tersebut sangat mewakili sosok saya sebagai peran utama yang memikul tanggung jawab bercabang dan harus bekerja lebih dari satu pemikiran untuk mencapai kesuksesan, bukan hanya dengan otot saja tetapi dengan akal yang cerdik.


Seni Lukis Sebagai Media Seni dan Terapi


Mengambil dari wawancara Mayang Pitaloka; Peran Seni Lukis pada lapas Narkotika kelas IA Yogyakarta, yang memiliki berdampak cukup besar. Danto dalam wawancaranya membuktikan adanya perubahan perilaku salah satu warga binaan yang bernama Pablo. Ia mengalami depresi dan tekanan psikologis yang cukup berat hingga sulit berkomunikasi pada orang di sekitarnya. Sedikit demi sedikit Pablo dikenalkan dengan seni lukis dan mulai melukis selama beberapa minggu. Secara tidak langsung, Pablo, mencurahkan kegundahannya melalui unsur-unsur rupa, seperti garis, warna, bidang, tekstur, gelap terang, dan memaknainya sebagai representasi pikirannya. Dari hasil karya lukisan yang sudah jadi, memicu dirinya untuk menjelaskan kepada orang lain sehingga timbul komunikasi (Pitaloka, 80:2017).

Karya seni bukan hanya sebagai hobi dan memperindah suatu objek saja, tetapi ada hal kepuasan di balik semua itu. Seperti kepuasan batin setelah menceritakan kegelisahan, mengungkapkan isi hati senang dan sedih dengan media lukis. Di sini seni berperan untuk mentransfer pengobatan diri dan secara tidak langsung menyegarkan perasaan-perasaan yang dulu enggan dikeluarkan, lalu diapresiasi hingga menemukan rasa, cerita, dan situasi hati perupa sendiri. Saya mengambil pengaruh dalam dunia psikologi karena pernah mencoba menjalani proses terapi (mentrasfer keluh kesah dengan menggambar lalu diceritakan kepada psikiater, kemudian dibakar, guna menghapus memori yang membuatnya tersiksa hilang) dengan menggambar.  Hasilnya perasaan saya menjadi lega dan merasa lebih tenang. Berawal dari itu, muncullah keinginan menggunakan metode ekspesif terapi untuk mengekspresikan lebih lanjut penciptaan karya seni. Sebagai contoh dalam dua karya berikut ini.

Chrisnabanyu, lllumination, Cat Arilik di atas Kanvas, 4 panel 23×23 cm dan 30×30 cm cat akrilik di atas kanvas, 2016.

Sebuah pengendapan ide yang selalu menjadi inspirasi, entah dari mana datangnya, saya menganggap semua itu dari doa dan beberapa makhluk yang menjadi pengayomnya, yaitu punokawan (punokawan secara tidak langsung menggambarkan figur orang tua, orang yang terkasih, keluarga, dan tentunya Tuhan Yang Maha Esa), makhluk yang memberi berbagai inspirasi yang tidak diduga dan menjadi suatu daya dorong untuk menjadi yang terbaik dalam menjalani kehidupan dalam berkesenian. Konsep penyajian membuat bentuk plus pada panel karya bagian yang atas, tanda plus menerangkan penambahan yang mengartikan makhluk dalam “kanvas plus” memberi petunjuk yang positif, dari ide kehidupan, berkarya, sampai memaknai sebuah arti keindahan dalam menjalani kehidupan.

Chrisna Banyu, Just a game, Cat Arilik di atas Kanvas, 120 x 90 cm, dan 70 x 90 cm 2016.

Arti sebuah hidup hanyalah mencapai tujuan yang belum tentu semua terjadi sesuai rencana, tetapi hidup adalah perjalanan singkat menuju kenyamanan diri yang kebanyakan orang sebut sukses. Sukses adalah kata indah dan impian setiap orang yang berlomba untuk memperebutkannya. Kadang menghalalkan segala cara untuk mencapai hal tersebut, dari tindakan positif sampai negatif. Refleksi ini membuat saya sadar akan diri ini mengalami gejolak tentang bagaimana cara agar sukses, proses yang dijalani memerlukan pengorbanan luar biasa hingga tidak tahu apakah cara yang benar itu memang benar atau sebaliknya; cara yang dipakai itu sebenarnya keliru. Sadar akan setiap tindakan adalah pilihan benar atau salah, tidak ada setengah benar atau setengah salah, persaingan antara kita dengan lawan, kecurangan, dll. Kadang muncul pemikiran hidup seperti permainan (games). Kita membuat pencitraan seperti apa dan kita melakoninya, hasil dari apa yang kita lakukan menentukan menang atau kalah. Menang dengan cara curang atau kalah dengan cara jujur, semua sama, kitalah yang mengatur alur kehidupan ini mau seperti apa nantinya. Hidup ini sudah menjadi virtual, kita dalam keadaan nyata tapi seperti di dalam dunia khayal yang bisa mengatur bagaimana ending dari sebuah cerita. Kita adalah kreator dalam dunia kita sendiri.

Foto Chrisna Banyu
Chrisna Banyu
Latest posts by Chrisna Banyu (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *