Republik Rakyat Lucu: Penyegar Pikiran Sempit

Judul               : Republik Rakyat Lucu

Penulis             : Eko Triono

Penerbit           : Paperback, 2018

Tebal               : 168 halaman

ISBN               : 9786025868405

Republik Rakyat Lucu – adalah  cerpen-cerpen Eko Triono yang pernah tersiar di media massa dalam lima tahun terakhir. Cerpen-cerpennya yang bersifat eksperimental dengan bentuk yang padat, kritik sosial yang berbalut humor. Racikan humor Eko Triono dalam kumpulan cerpen ini berbeda, ia melakukan kritik secara samar tapi pedas, tersembunyi namun  jelas, tapi tetap mempertahankan humor yang nyeleneh namun nikmat.

Cerita-cerita dalam Republik Rakyat Lucu terbagi menjadi tiga babak kehidupan. Pertama, masa belajar dan jatuh cinta. Kedua, meniti karir, sengsara, kadang tertawa. Ketiga, karir politik dan ke mana angin menggiring nafsu batin.

BAGIAN I

Gembus adalah tokoh yang paling sering muncul. Mungkin bisa dibilang dia adalah tokoh utamanya (dengan sudut pandang orang ketiga). Gembus bergerak dalam ruang pendidikan dengan segala problema yang terjadi di dalamnya. Mulai dari peraturan sekolah yang tidak rasional, hukuman yang tidak adil, kebijakan sekolah yang mulai kehilangan arah, dan sebagainya. Sebagai selingan kehidupan, Gembus juga mengalami jatuh cinta. Namun sayangnya dia hanya menjadi korban dari kebusukan cinta itu sendiri. Puisi cintanya yang konon indah itu kemudian diplagiat untuk pertama kalinya dalam hidup. Cerita berjudul “cinta di dalam lembar kerja” sukses membuat saya nyengir dan bergumam dalam hati, “benar juga ya.”

BABAK II

Gembus dan beberapa temannya tumbuh dewasa. Kuliah di jurusan keguruan membawa Gembus meniti karir pertamanya menjadi seorang guru. Namun Republik Rakyat Lucu bukanlah tempat yang indah untuk para guru, apalagi dengan status honorer seperti Gembus. Bekerja menjadi tukang ojek online akhirnya menjadi pilihan Gembus untuk menambah penghasilan. Tidak cukup juga, Gembus mencari tambahan dengan pasang nomor. Tidak cukup lagi, ia berhenti dan memilih untuk menjadi penjaga toko mainan.

Dan masih banyak lagi pekerjaan yang harus Gembus coba, karena hidup di Republik Rakyat Lucu tidaklah mudah. Kegagalan demi kegagalan akhirnya membawa Gembus masuk ke dalam dunia politik. Kisahnya diceritakan di babak ketiga.

Di babak ini, “Murid Kencing Berlari” merupakan judul yang menarik. Eko Triono menggambarkan kondisi pendidikan yang penuh dengan dilema lewat ceritanya. Banyak orang tua saat ini yang menyerahkan begitu saja anaknya ke sekolah. Sementara guru dibatasi geraknya dengan berbagai aturan.

“Pak Guru mencukur dengan kasar sembari memarahi Gembus dan teman-temannya di teras sekolah dasar di Republik Rakyat Lucu, lantas membentak kuat-kuat; “Rambut gondrong bikin otak kalian bodoh!” Kemudian Gembus pulang dan sesampainya di rumah, dia bertanya pada ayahnya. “Ayah, apa benar rambut gondrong bikin kita bodoh?” “Kata siapa?” jawab ayahnya santai setelah minum kopi penyegar pikiran sempit, “Rambut ibumu, nenekmu, juga Ibu Gurumu gondrong-gondrong, dan nyatanya mereka pintar-pintar.”~

BABAK III

Di babak ketiga ini, nuansa politik yang begitu culas di Republik Rakyat Lucu dibongkar habis-habisan oleh Eko Triono. Mau tidak mau, Gembus harus menyesuaikan dirinya dengan lingkungan politik yang akan dimasukinya tersebut. Tidak pernah korupsi, kolusi dan nepotisme bukanlah mental politisi di Republik Rakyat Lucu. Suara dalam pemilihan bisa dimanipulasi. Hukum bisa diperjual-belikan. Segala bentuk kecurangan bisa diatur. Begitulah kondisi Republik Rakyat Lucu. Dan tentu saja, Gembus terbawa arus.

Buku yang diterbitkan oleh Shira Media ini memiliki genre realisme sosial di mana realisme memasukkan nilai moral. Sarana untuk mengkritik dan menyampaikan pesan moral. Masuk  dari bagian satu hingga tiga. Relevansi buku ini menarik untuk dibaca adalah banyak hal terdekat yang sering diabaikan. Seperti halnya bagian awal yang berjudul Kata Siapa.

Layaknya kumpulan cerita, di dalamnya terdapat cerita yang cukup panjang hingga sekitar delapan halaman. Juga cerita yang sangat pendek, setengah halaman. Tapi cerita di dalamnya tidak terpisah. Cerita di dalamnya merupakan rangkaian perjalanan seorang anak manusia di sebuah wilayah yang konon katanya “lucu” (penuh ironi). Bagi anda yang ingin mencoba sensasi cerita -cendrung- pendek tapi nakal, Republik Rakyat Lucu tentu saja bisa jadi pilihan.

Latest posts by Mirja Sentani (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *