Kesedihan Panjang dalam Cerita yang Pendek

Salah satu fungsi sastra adalah menghibur. Dalam konteks sastra, definisi menghibur tidak serta merta diartikan sebagai sesuatu yang mengarah pada kebahagiaan atau rasa senang. Sebab bila hanya didefinisikan pada pengertian tersebut, akan sangat terbatas sekali ruangnya. Menghibur dapat diinterpretasikan, bahwa karya sastra memberikan sajian berupa pikiran-pikiran pengarang yang mengarah pada segala perasaan pembaca, tak terkecuali perasaan sedih.

Membaca Doa Panjang dalam Cerita yang Pendek karya Sigit Teduh, kita seakan disajikan mozaik-mozaik kesedihan. Sepanjang sepuluh bab nyaris pembaca tidak akan diberi kesempatan untuk mengentaskan dirinya dari kubangan melankolia. Pilihan kata yang digunakan dalam memoar sepanjang 120 halaman mengarah ke sana, rasa sedih yang sama. Memoar ini menawarkan kesedihan yang panjang. Seperti paragraf di bawah ini.

            ………………….

Malam yang sepi. Malam ini dan esok akan tetap sama. Lampu kamar yang sebelumnya menerangi akhirnya menyusul mati.  Seperti ruang sebelahnya. Ini hanya rindu. Masih tentang rindu. Kamu tak perlu tahu seperti apa aku saat ini. Jika kamu benar-benar ingin tahu aku, ingatlah senja dan pagi di kota Jogja. Itulah aku dan ada kamu di sana (Bab 1).

Atau bisa dibaca pada contoh lain.

………………………

Jogja dan Ruang Sepi, 2018

Bersiaplah untuk rasa yang menyakitkan. Aku sungguh tak pandai menyimpannnya. Wangi dan lukisan yang pernah kamu beri, akhirnya pun kamu tinggalkan di tempat yang katamu ruang kita. Meninggalkan banyak tahu di tempat yang kusebut ruang sepi. Lembaran waktu yang kamu tinggalkan tidaklah adil jika akhirnya kamu ikut pergi bersamanya dan kamu meninggalkanku di sini. Sendiri (Bab 1)

Selain paragraf-paragraf kesedihan—ini hanya istilah saya saja—memoar ini juga mengandung kalimat-kalimat yang menarik—saya menyebutkan sejenis kata-kata mutiara. Di antaranya adalah

  1. ……………….

Dengan segala peduliku, jika mungkin tentang kita tidak lagi menyenangkan bagimu, maka mengenangmu adalah cara terakhirku untuk menutup cerita di tulisan akhirku (Bab 1).

  • ……………………

Kadang rindu ini tak adil. Seperti hujan, turun tidak selalu tepat pada waktunya. Aku pernah berlari untuk berteduh, namun tetap saja basah. Begitupun rindu, jika bisa memilih, aku lebih memilih kesepian. Rindu yang amat menyesakkan. Dan aku berjuang seorang diri. mengingatkan segala hal yang kubenci dan akan tetap seperti ini (Bab 2).

3.)………………………

Pada suatu sore yang hampir tenggelam, memedulikanmu adalah alasan terbaik menikmati perasaan. Melepaskan cinta dan rasa yang sama untuk orang yang kembali sama. Sedalam ini aku pernah jatuh cinta. Dan luka yang masing-masing kita pernah rasakan, adalah cara terbaik untuk kita kembali saling menerima (Bab 4).

4.)……………………Teruslah bersama denganku yang selalu ingin belajar. Meyakinkan bahwa aku akan menua bersamamu. Kita tak perlu lagi mencintai diam-diam. Karena aku tak lagi ingin menjadi doa yang ragu. Melepaskan pesakitan yang mengungkung kita tak saling sapa (Bab 5).

Ilustrasi: Pratomo Bangun

Latest posts by Risen Dhawuh Abdullah (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *