Kegelisahan, Kierkegaard, Hegel, dan Apa yang Harus Dilakukan

I

Tono jatuh cinta pada Tini dan sudah tiga hari ia tak mendapat chat dari si doi. Tono dag-dig-dug dan bertanya-tanya kenapa tak kunjung ada kabar dari Tini untuknya. Tono pun merasa waktu merambat kelewat lambat. Angan-angannya mengembara ke mana-mana. Pikirannya menebak-nebak, apa yang sedang dilakukan Tini, sedang berada di mana, dan sedang bersama siapa.

Pikiran terakhirnya itu membuat Tono bergidik. Dalam pikirannya, muncul bayangan Tini sedang pergi bersama lelaki lain, ke suatu tempat yang indah, dalam suasana yang syahdu, dan diliputi kebahagiaan. Tono semakin bergidik membayangkan bahwa lelaki itu telah menggantikan tempatnya di hati Tini. Tono kian memercayai kecemasan itu ketika mengingat bahwa chat terakhir dari Tini sangat sumir: Wkwk. Padahal, saat itu Tono tak sedang melawak dan tak ada yang lucu.

Tono mulai menimbang apakah cintanya kepada Tini bertepuk sebelah tangan. Tono mulai mengira-ngira apakah selama ini Tini memang benar membalas perasaannya. Tono mulai menerka-nerka tentang bagaimana Tini memosisikan dirinya dalam hidupnya. Tono ingin tahu bagaimana persisnya perasaan Tini kepadanya.

Tono pun lantas melakukan berbagai hal yang menurutnya bakal memberikan jawaban ketidaktahuannya atas diri Tini itu. Tono kemudian menekuri segala yang dirasa akan memberi informasi tentang Tini kepadanya. Instagram, Twitter, Facebook, dan status WhatsApp Tini dipantaunya. Komentar-komentar di akun media sosial Tini tak luput dibacainya.

Dan Tono tak merasa menemukan jawabannya. Dan Tono masih khawatir tentang bagaimana Tini memosisikan dirinya.

II

Dan Tono adalah kita. Dan jatuh cinta yang dialami Tono adalah tamsil bagi segala fenomena dalam hidup kita. Bisa saja itu berupa relasi dengan kawan, keluarga, istri, anak, tetangga, atau bahkan orang yang hanya kita kenal di media sosial. Walakin, satu hal yang patut digarisbawahi dari ilustrasi di atas adalah bahwa kita memiliki kecenderungan untuk mengetahui kebenaran objektif atas sesuatu sebagai dasar bertindak. Bahwasanya, sadar atau tidak, kita seringkali condong untuk mencari kepastian akan suatu hal untuk dijadikan patokan dalam mengambil keputusan.

Itu disebabkan karena ketika kita memiliki, atau merasa memiliki, pengetahuan tentang kebenaran dari sesuatu, kita merasa memiliki kemantapan dan keyakinan untuk bersikap. Kita terhindar dari kegelisahan yang disebabkan tidak utuhnya informasi yang kita miliki. Tindakan Tono memantau akun media sosial Tini untuk mengetahui perasaannya memperlihatkan hal tersebut. Tidak tertutup kemungkinan, kita pernah, atau bahkan sering, bertindak seperti itu.

Tindakan Tono itu tentu didorong ketidakpastian mengenai perasaan Tini kepadanya. Tono gelisah karena tidak mengetahui hal tersebut dengan pasti. Ketidakpastian ini membikin Tono merasa bahwa eksistensi dirinya terancam. Sementara, kesadaran tentang eksistensi diri yang terancam tentu menjadikan Tono merasa berada pada posisi tak nyaman. Bisa jadi, sadar atau tidak, kita pun pernah, atau kerap, mengalaminya.

III

Apa yang seharusnya dilakukan Tono ketika berada di situasi semacam itu? Kenapa Tono tetap saja gagal mencapai kepastian yang dicarinya terkait perasaan Tini? Apakah mungkin Tono mengetahui kebenaran yang dicarinya itu? Lebih jauh, apakah Tono—dan kita, jika berada dalam situasi semacam itu—mungkin sampai pada kebenaran objektif dari sesuatu?

Jawabannya tidak. Itulah titik tolak filsafat Kierkegaard, sekaligus kritiknya terhadap pemikiran Hegel, yang bermaksud menjadikan filsafat sebagai sistem yang menyeluruh dan mencakup segala macam pengetahuan dan kebenaran yang telah ditemukan manusia. Dengannya, filsafat, melalui proses dilektika, pada akhirnya akan menjadi pengetahuan tak terbatas mengenai segala hal dan dapat menjelaskan segala sesuatu.

Bagi Kierkegaard, filsafat semacam itu sangat ambisius dan tidak masuk akal. Meski Kierkegaard mengakui bahwa realitas objektif memang ada, namun kebenaran itu tak mungkin kita ketahui. Realitas objektif hanya milik-Nya. Apa yang mungkin kita ketahui adalah apa yang terjadi dalam dunia inderawi kita.

Ketidakmampuan dalam menggapai realitas objektif itulah yang seringkali membuat kita merasa gelisah, terlebih ketika musti berhadapan dengan pilihan yang penting dan mendasar. Maka, menurut Kierkegaard, kebenaran tidaklah bersifat objektif, melainkan subjektif. Dalam artian, yang terpenting tentang kebenaran ialah relasi kita sebagai subjek dengan sesuatu yang di luar jangkauan kita itu.

Singkatnya, dalam keterbatasan untuk mengetahui apa yang sungguh-sungguh benar dan objektif, yang utama adalah bagaimana kita memosisikan diri terhadap apa yang kita pandang sebagai kebenaran, bukan apakah keyakinan kita itu sungguh-sungguh benar.

Kedengarannya memang sederhana. Namun, hal ini menuntut komitmen dan tanggung jawab atas berbagai kemungkinan dari kebenaran yang kita persepsikan tersebut. Dan tentu, ini mengandaikan latihan seumur hidup.

IV

Dalam ilustrasi di atas, Tono tampak sedang berada dalam kegelisahan akibat ketidakpastian. Tono tidak dapat mengetahui bagaimana persisnya perasaan Tini kepadanya. Ketidaktahuan tersebut, dalam ilustrasi di atas, membuat Tono berpikir macam-macam. Jangan-jangan Tono mengambil pilihan yang salah. Jangan-jangan, Tini tidak mencintainya, atau selingkuh, hendak meninggalkannya atau mengkhianatinya, atau sederet bayangan tidak aduhai lainnya.

Padahal, apa yang seharusnya Tono lakukan adalah menentukan bagaimana ia menyikapi keadaan yang dialaminya itu. Tono harus memutuskan apakah, karena berbagai hal, akan tetap mempertahankan hubungannya Tini, atau malah sebaliknya, mengambil langkah yang sama dengan Kierkegaard ketika membatalkan pernikahannya dengan Regina Olsen. Tono seharusnyalah melakukan itu alih-alih sibuk ini-itu guna mencari tahu bagaimana sejatinya perasaan Tini kepadanya.

Karenanya, menjadi terlihat bahwa kritik Kierkegaard terhadap Hegel tidak sekadar karena kecongkakan dan tak masuk akalnya upaya menjala kebenaran objektif atas sesuatu itu, melainkan juga karena usaha tersebut tidak banyak membantu dalam pergulatan hidup seseorang.

Jelas bahwa apa yang dibutuhkan Tono adalah pengetahuan tentang apa yang harus dilakukannya dalam situasi tersebut; pilihan apa yang harus diambilnya; dan bagaimana ia menyikapi Tini; bukan usaha keras kepala mengetahui cinta Tini kepadanya.

Memang, karena ketaklengkapan informasi atas diri Tini, Tono berusaha mencari tahu dengan memantau akun sosial medianya. Hal ini menunjukkan kecenderungan dalam diri Tono untuk masuk dalam proyek besar Hegel: mencapai kebenaran objektif, yakni isi hati Tini. Namun, hal tersebut dilakukan Tono karena dorongan yang lebih mendasar, yakni keinginan Tono untuk mengambil keputusan untuk menyikapi ketakpastian dirinya di hadapan Tini.

Dengan kata lain, apa yang ingin Tono capai bukanlah kebenaran objektif, melainkan pengetahuan tentang bagaimana ia harus bertindak dan mengambil pilihan. Pengetahuan akan kebenaran objektif itu Tono cari bukan demi kebenaran objektif itu sendiri, melainkan untuk menjadi dasar baginya bersikap.

V

Inilah juga beda filsafat Kierkegaard dengan Hegel. Bagi Hegel, manusia adalah pengada yang rasional yang ingin tahu dan berusaha menggapai kebenaran objektif. Sementara itu, Kierkegaard berpendapat bahwa manusia merupakan pengada yang selalu berada pada keharusan untuk memilih dan mengambil keputusan dalam pergulatan hidupnya.

Dari perbedaan mendasar tersebut, dapat ditarik benang merah bahwa Hegel, dengan upaya memahami secara rasional guna mencapai kebenaran objektif atas sesuatu itu, seolah-olah berdiri di luar panggung kehidupan, menjadi pengamat yang berjarak, karena ingin menemukan sebuah konsep yang dianggap sebagai kebenaran objektif.

Kierkegaard, sebaliknya, melipat jarak dan terjun langsung dalam kehidupan untuk menjadi pelaku. Dengan menjadi pelaku, Kierkegaard, alih-alih merumuskan dunia, justru menyeru untuk merasai dan menghadapi kecemasan, cemburu, kecewa, kebahagiaan, ati ambyar netes eluh cendhol dawet, dan segala bentuk pengalaman dalam hidup.

Sebab, bagi Kierkegaard, terlampau banyak hal yang sulit, bahkan tak mungkin, dipahami manusia secara rasional, yang akhirnya hanya akan mengantarkan pada kegelisahan demi kegelisahan. Itu sebab, apa yang penting adalah bagaimana kita menentukan sikap di hadapan berbagai macam fenomena dalam hidup dan berkomitmen pada pilihan-pilihan kita tersebut.

Itulah apa yang harus dilakukan, alih-alih mencari rumusan dunia yang final dan objektif. Sebab, selain kerasa kepala dan komikal—meminjam istilah Kierkegaard—usaha tersebut jelas tidak berhubungan langsung dan tidak banyak membantu dalam menghadapi pergulatan hidup kita sebagai manusia.

Mlangi, 2020

Ilustrasi: Pratomo Bangun

Syafiq Addarisiy
Latest posts by Syafiq Addarisiy (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *