NYI BANJARPURWA

Tersebutlah sebuah kisah mashur di kalangan warga Jatilawang sejak tumbangnya Orde Baru bertahun-tahun silam. Kisah ini bermula dari bibir Jumadi, seorang pemuda yang hobinya duduk ongkang-ongkang membaca koran pagi di warung Mak Siti. “konon, arwah perempuan tua itu masih berkeliaran mencari mangsa, haus akan darah. Dulunya dia seorang ahli kebatinan yang amat disegani banyak orang di Jatilawang, kesohorannya itu terdengar hingga ke berbagai pelosok negeri, bahkan sampai pula ke telinga Mbah Kemblak, seorang ahli kebatinan yang sudah tua renta, ia mengaku banyak kehilangan pasien setelah kemunculan perempuan tua di Jatilawang.

Orang-orang yang dulunya adalah langganan tetap Mbah Kemblak pindah haluan dalam berobat. Mereka beranggapan bahwa Kemblak bukan seorang dukun yang sakti mandraguna lagi. Ilmunya telah usang dimakan zaman. Pun jampi-jampi yang biasa ia bacakan setiap kali mengobati orang, semuanya tak ada arti lagi jika dibandingkan dengan mantra yang biasa dibaca oleh si perempuan tua, terdengar teduh dan tidak terlampau terkesan seperti memanggil setan kuburan. Barangkali perempuan tua itu memanggil malaikat di langit dan di bumi dengan mantra-mantra untuk membantunya dalam mengobati pasien yang selalu saja berdatangan ke rumahnya dari pagi hingga sore..”

Beberapa pengunjung warung yang baru saja datang, segera bergabung, karena cerita masih belum dituntaskan Jumadi,

“Kemblak jengkel dengan keberadaan si perempuan tua. Ia geram dan tak rela jika usaha perdukunannya bangkrut begitu saja setelah lebih dari 30 tahun berada di puncak keemasan. Ia mencari cara untuk menyingkirkan dukun perempuan tua itu. Hingga akhirnya datanglah seorang lelaki parlente dari ibukota ke Jatilawang dan daerah-daerah sekitarnya yang mengabarkan bahwa akan ada upaya pembersihan desa dari antek-antek tukang sihir yang belakangan sedang marak terjadi di berbagai kota. Pembersihan dilakukan tentu saja demi kebaikan bersama semua orang yang tinggal dan menetap di Jatilawang.

Mendengar hal itu, tercetus pikiran busuk dari kepala Kemblak. Dukun kesohor itu akan memfitnah si perempuan tua sebagai dalang utama dari semua hal-hal gaib yang bermunculan di pusat kota, sedangkan Kemblak akan melarikan diri sejauh mungkin setelah ia berhasil menghasut seisi Jatilawang..”

Apa yang kemudian terjadi? Apakah hasutan itu berhasil memperdaya warga hingga si perempuan tua terusir? Seorang pengunjung yang sedari tadi menyimak cerita Jumadi, mulai berani melontarkan tanya. Tanya yang bagi Jumadi seperti sebuah ketakpercayaan-

Seraya menyeruput kopinya, Jumadi kembali melanjutkan kisah, “orang-orang Jatilawang termakan hasut Kemblak hingga mereka kalap. Puluhan orang, termasuk lelaki parlente dari kota, bersama orang-orang suruhannya, segera meringkus si perempuan tua ketika ia tengah lengah saat sedang mengambil timba di sumur belakang rumahnya. Perempuan tua itu meronta-ronta, menjerit tak karuan, dan melontarkan beberapa kalimat yang serupa mantra ke udara. Angin berubah panas, langit yang semula rekah oleh matahari mendadak padam, sama sekali hitam.

Tubuh perempuan tua dibawa ke tengah-tengah desa, dilempar ke dalam lubang besar yang telah disiapkan sebelumnya. Lelaki parlente menembak bagian kepalanya sebanyak tiga kali, namun peluru yang ditembakkan terpental begitu saja, seperti ada baja maha kokoh yang melindungi. Ia pun mencobanya hingga berkali-kali, tapi tetap saja nihil. Perempuan tua tetap hidup. Ia tak bisa terluka sedikit pun. Tiba-tiba, lelaki parlente teringat dengan ucapan seorang ahli kebatinan dari perkampungan sebelah kulon yang berpesan bahwa si perempuan tua hanya bisa dibunuh dengan senjata yang sebelumnya sudah disiram dengan air kencing. Maka lelaki parlente pun mengencingi beberapa butir peluru peraknya, dan ia mencoba untuk menembak kembali bagian kepala si perempuan tua. Darah berhamburan di lubang besar itu. Si perempuan tua meregang nyawa.

Bertahun-tahun setelah peristiwa pembunuhan terhadap perempuan tua, Jatilawang nyaris menjadi kampung yang mati. Setiap orang memilih tutup mulut, jika nama perempuan itu disebut. Nama perempuan tua itu adalah kutukan bagi mereka yang percaya takhayul. Adalah kutukan bagi mereka yang mengimani setan-setan kuburan. Setiap malam purnama, arwahnya diyakini kembali ke dunia dan mencari tubuh baru untuk dirasuki, agar ia bisa mendapatkan kembali ilmu sihirnya yang dahsyat itu…”

Hari beranjak siang, sebagian besar pengunjung warung yang mendengarkan kisah Jumadi bergegas pulang. Tapi ada pula sebagian dari mereka yang tetap bertahan, berharap ada sebuah episode lanjutan. Kata Jumadi, “kalau mau tau cerita lanjutannya, tanya saja ke kuburan Banjarpurwa. hahaha. Mungkin dia akan menjawab setiap kebingungan-kebingungan pada diri kalian. Atau yang lebih celaka dia akan memangsamu bulat-bulat hingga yang tersisa hanya seonggok daging dan tulang yang masih merah oleh darah!”

Pengunjung warung bergidik ngeri. Tak terbayangkan oleh mereka jika menjadi santapan segar hantu Banjarpurwa, arwah si perempuan tua yang gentayangan mencari mangsa setiap malam-malam tertentu.

*

Jumadi sadar betul bahwa ia telah banyak berkisah pada banyak orang di warung Mak Siti. Itu artinya nyawanya terancam. Kisah tentang Banjarpurwa memang belum pernah terbukti kebenarannya. Hatinya telanjur ciut, sekaligus takut luar biasa. Ia merasa bayang-bayang perempuan tua yang terkutuk dari Jatilawang itu akan benar-benar menghantuinya. Ia takut jika cerita itu terbukti benar, sekalipun ia tak sungguh-sungguh memercayai seratus persen legenda tersebut.

Dulu, selagi ia masih berumur belasan tahun, ia pernah mengalami peristiwa yang di luar nalar. Ketika itu hari berubah petang. Sore bertambah pekat. Jumadi sedang asyik bermain sendiri di bawah pohon mahoni belakang rumah tetangganya, letaknya agak berjauhan dari kediaman Jumadi dan neneknya menetap. Konon mahoni itu dihuni anak-anak jin, itulah yang ia dengar dari beberapa kawan-kawan sepermainannya. Dengan niat iseng dan keingintahuan yang besar, Jumadi melempar beberapa kerikil ke arah rimbun mahoni, berharap ada anak jin yang akan keluar menampakkan diri. Setelah beberapa waktu ia menunggu, tak ada tanda apa pun jika pohon mahoni itu berhantu.

Ia pun mengambil kerikil yang terakhir. Melemparkannya kembali ke arah pohon mahoni. Betapa terkejutnya ia tatkala sesosok tubuh kerdil berjanggut panjang telah berdiri di bawah pohon. Berlari ke arahnya. Menyerang Jumadi dengan kuku-kuku jemarinya yang panjang dan runcing serupa harimau, siap menerkam dan melumat. Jumadi berteriak sekencang-kencangnya, menimbulkan keriuhan yang tak perlu, berharap ada orang sekitar yang melihat dirinya agar menolong.

Tetapi tak satu pun ada orang yang melintas. Jumadi berpasrah. Mahluk itu berhasil mengerkahnya, mengoyak perutnya hingga bagian dada, membuat tubuh Jumadi tersungkur. Namun Jumadi tak merasakan sakit apa pun. Mahluk kerdil itu menghilang, berubah menjadi cahaya, dan masuk ke bagian tubuh Jumadi yang koyak itu. Keajaiban terjadi. Nganga dari lukanya kembali bertaut seolah tak terjadi apa-apa pada dirinya.

Dan rasa takut yang tadi semula bersarang dalam dirinya kini mulai menghilang. Karena ia yakin peristiwa yang menimpanya sewaktu kecil adalah sebuah kebenaran-makhluk kerdil itu pastilah sosok sakti dari masa lalu kampung Jatilawang yang ingin mewariskan kesaktiannya. Jumadi adalah orang yang terpilih untuk mewarisi ilmunya. Tapi tak sekali jua pun ia berani menjajalnya, meski sudah belasan orang di Jatilawang yang menyuruhnya menggelar atraksi setiap sore akhir pekan, sebagai jalan bagi pembuktian makhluk kerdil masih ada, menetap dalam rongga-rongga jiwanya.

*

Jumadi kembali terserang ketakutan yang sangat akut ketika mendengar beberapa bayi yang baru dilahirkan tewas secara misterius dihisap oleh makhluk yang disebut-sebut mirip kuntilanak. Jumadi tak ingin percaya-Banjarpurwa hanya dongeng dari orang tua Jatilawang-bukan sesuatu yang nyata, ia harus meyakini hal itu, agar jangan sampai takhayul di dada orang-orang menular ke dalam dirinya, karena ia ingin keberanian-bila kelak yang ia takutkan menyerangnya dengan beringas dan melahap nyawanya hingga yang tersisa hanya onggok tulang-belulang dan sisa baju yang koyak penuh luka.

*

Menyebut namanya, seisi Jatilawang tentulah merasa gentar dan nyali mendadak ciut. Peristiwa puluhan tahun silam masih terekam jelas di ingatan setiap orang. Jumadi adalah salah satu yang masih terus menyenandungkan kisah Banjarpurwa ke telinga segenap warga. Orang-orang di warung kopi-adalah segelintir yang percaya pada kisah-kisah yang dibawanya. Kisah-kisah yang menyeret ingatan kepada zaman di mana yang patut ditumbangkan adalah orang-orang tak berdaya, wanita tua-

Dan pada malam-malam tertentu, kisah itu akan kembali bergulir dari mulut-mulut yang lain-pewarta bagi tidur panjang anak mereka yang ingin dongeng tentang masa lalu.

*

Bagaimana mungkin kau bisa sedemikian percaya ia kembali dari kematian? tanya Rahmat, kawan lama Jumadi yang merantau ke kota sejak tiga tahun lalu.

Ia seorang yang sakti-tubuhnya tak mempan senjata, baru bisa mati setelah ada yang menembaknya dengan peluru perak yang disiram dengan satu botol air kencing. Itu terjadi setelah insiden demo besar-besaran yang serempak dilakukan di ibukota-kau pasti tahu hal itu.

Setelah kematiannya, Jatilawang menjelma kampung yang mati. Hingga kini orang-orang masih bergidik ngeri jika ada yang berkisah tentangnya. Banjarpurwa-perempuan tua yang hidup dari belenggu setan-setan kuburan, yang mewabahkan kutuknya hingga ke berbagai penjuru, jiwa-jiwa yang tak tenang.

Aku bukan orang yang terlalu percaya pada kisah-kisah silam. Aku terbiasa mengawetkan dongeng-dongeng dalam buku harian yang selalu kubawa kemana pun aku pergi. Buku harian itu menjadi pewarta dari kenangan yang terus hidup dan ingin bertahan merawat nyeri.

Kau tahu? setiap jiwa yang pergi akan kembali. Mencari orang yang membunuhnya dengan senjata api, menyiksanya sampai mati.

Tidak ada seorang pun yang tahu dengan lelaki parlente. Ia datang dari sebuah kota yang jauh. Ia mengaku utusan negara yang ditugaskan membasmi antek-antek tukang sihir di seluruh kawasan yang dicurigai.

Mereka yang pergi akan kembali, membawa dendam. Yang tak mau padam.

*

Tak seorang pun yang ingin menceritakannya lagi ketika terdengar kabar bahwa Jumadi tewas secara misterius di rumahnya. Tak ada satu warga di Jatilawang yang tahu pasti penyebab tewasnya Jumadi. Dari kabar angin yang dibawa beberapa pemuda, aku mendengar bahwa tubuhnya penuh dengan luka sabetan senjata tajam, begitu pula bagian perutnya yang separuh menganga. Menurut penerawangan seorang dukun, ada makhluk yang lama bersemayam dalam raga Jumadi dan berniat keluar dari tubuh lelaki itu untuk selama-lamanya, namun entah mengapa makhluk itu justru malah membunuhnya tanpa ampun, seperti ada kekuatan lain yang mengendalikannya-hingga Jumadi berakhir dengan tragis.

*

Aku bukan termasuk orang yang percaya cerita takhayul-tapi orang Jatilawang selalu meyakinkanku dengan kisah temurun yang mereka bawa, terlebih bila menyangkut Banjarpurwa, perempuan tua yang selalu hidup dalam dongeng pengantar tidur. Perempuan tua yang dianggap memiliki keabadian dan tak bisa mati sampai kiamat menjelang.

Suatu malam, ketika berkumpul di pos ronda, seorang dari warga bercerita,

Dua hari sebelum Jumadi ditemukan tewas di rumahnya, ia sempat bertemu lelaki itu tengah menyendiri di tepian sungai. Waktu itu hari hampir magrib. Jumadi tampak murung, wajahnya lebih pucat dari biasa. Tak ada tanda-tanda kematian yang begitu kentara.

“karena buru-buru ingin pulang, aku tak ingin bertanya apa pun padanya. Lagipula dia tampak aneh karena di tangan kirinya telah terhunus sebilah belati, tampaknya ia ingin membunuh sesuatu, atau menangkap ikan dengan benda itu? Sungguh tak masuk di akal..”

“mungkin juga dia dilanda kegilaan karena kerap membual tentang Banjarpurwa. Nama perempuan penyihir itu terlalu tabu untuk disebut-sebut..”

“ya, kamu benar. Barangkali dia kualat dan kena batunya..”

“menurutku dia kena sihir dari arwah Banjarpurwa yang tak tenang di Alam Barzah. Perempuan sesakti Banjarpurwa bisa saja melakukan apa pun yang diinginkannya, demi terbalasnya dendam yang tak kenal ujung..”

*

Entah sampai berapa minggu kemudian pasca tewasnya Jumadi, dongeng Banjarpurwa lenyap begitu saja dari obrolan di warung-warung. Didera rasa penasaran, aku sempatkan bertanya kepada salah satu pemilik warung yang biasanya buka hingga tengah malam.

Bukannya menjawab, ia hanya diam. Wajahnya tampak pucat.

Aku tak mau menceritakan sebabnya, pemilik warung berkata.

Aku hanya ingin sekadar tahu, agar tidak terus-menerus dihantui rasa penasaran.

Karena terus kupaksa, akhirnya ia mau berbagi kisah.

*

Arwah perempuan tua itu kembali ke Jatilawang setelah bertahun-tahun lamanya orang menganggap ia telah terkurung di alam Barzah. Tapi aku yakin-anggapan itu telah terbantahkan dengan sempurna-karena pada akhirnya ia tetap kembali dan mencari korban-korban baru demi pemuasan dendamnya yang lama dipendam. Banjarpurwa datang ke Jatilawang dan menebar wabah angin hitam yang membunuh banyak orang, termasuk beberapa tetangga si pemilik warung. Karena tak ingin mati konyol juga, ia pergi mengungsikan diri ke rumah seorang karib terdekatnya, Wak Jarman, yang memiliki ilmu gaib. Tepat ketika arwah Banjarpurwa mengejarnya ke rumah itu, Wak Jarman membuka kendi pusaka miliknya dan arwah Banjarpurwa terseret masuk ke dasar kendi. Sempat terdengar ia meneriakkan murka, penuh dendam,

Aku akan kembali dan membunuhmu, tanpa ampun!

Surabaya, Agustus 2019

Dimuat di Radar Banjarmasin, minggu, 8 September 2019

Muhammad Daffa, lahir di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 25 Februari 1999. Menulis puisi dan cerpen. Karya-karyanya dipublikasikan di sejumlah koran lokal dan nasional, serta sejumlah antologi bersama. Buku puisi tunggalnya, TALKIN(2017) dan Suara Tanah Asal(2018). Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga.

Ilustrasi: Pratomo Bangun

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *