Sihir dan Tipu Daya Yogya

Studio Pertunjukan Sastra (SPS) bekerja sama dengan Taman Budaya Yogyakarta menyajikan acara bertajuk “Tipu Daya Yogya” edisi 172 sebagai pembuka gelaran bincang-bincang sastra tahun 2020. SPS menghadirkan para pembicara yang sudah tidak asing lagi dalam kancah kesastraan dan kebudayaan di Yogyakarta dan Indonesia, yakni Hairus Salim dan Iqbal Aji Daryono. Acara digelar Sabtu, 25 Januari di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta. Acara dimeriahkan pembacaan puisi oleh Sutirman Eka Ardhana, Ulfatin Ch., Marwanto, Ahmad Muchlish Amrin, Hendrik Efriyadi.

Tajuk “Tipu Daya Yogya” merupakan perwujudan kegelisahan mungkinkah Yogyakarta selama ini telah menjadi “perangkap” yang “menjerat” penghuninya sehingga sulit untuk lepas, keluar dari Yogya. Sesungguhnya, kita yang terlena oleh tipu daya Yogya, atau Yogya yang terlena oleh tipu daya kita?

Iqbal Aji Daryono penulis buku Out Of The Truck Box mengatakan bahwa di Yogya berdiri banyak kampus bagus, sehingga terjadi dialek keilmuan yang bagus dari berbagi daerah di Indonesia, iklim Yogya yang hangat mendukung kegiatan diskusi serta geografis wilayah Yogya yang dekat memudahkan interaksi dan komunikasi budaya-ide yang menumbuh suburkan gagasan merupakan tipu daya Yogya yang kuat.

Sedangkan Hairus Salim yang datang ke Yogya membawa cita-cita menjadi penulis dan penyair. “Berat sekali menjadi penyair sebab pergulatan menulis puisi sangat berat. Lalu saya banting setir menulis artikel sebab peluang dimuat di koran lebih besar. Banyak forum-forum diskusi di Yogya mendukung proses kreatif sehingga membuat saya betah,” ujar penulis buku Tuhan Yang Tersembunyi.

Yogyakarta seperti telah menjadi rumah sendiri pagi setiap penghuninya. Banyak orang datang mula-mula untuk belajar, lalu dilanjutkan bekerja, menikah, mengontrak rumah, membeli tanah, membangun rumah, dan akhirnya menjadi penduduk baru yang duduk berdampingan dengan penduduk lama. Sesrawungan melahirkan segala kemungkinan, baik yang ada di dalam maupun yang datang dari luar pun terjadi. Penduduk awal dan penduduk yang datang kemudian dapat hidup berdampingan tanpa curiga dan gemeremang prasangka.

Di dalam wilayah kesastraan pun demikian yang terjadi. Kehidupan bersastra di Yogyakarta bergulir tiada henti mengikuti alur perkembangan Yogyakarta ke arah maju. Para sastrawan lahir dan tumbuh, lantas tinggal menetap dan terus berproses kreatif di Yogyakarta. Karya-karya bernuansa Yogyakarta pun lahir dari rahimnya. Para sastrawan dari berbagai penjuru tanah air itu pun kemudian telah menjadi Yogya.

Penduduk awal dan penduduk yang datang kemudian dapat hidup berdampingan tanpa curiga dan gemeremang prasangka.

Penyair Joko Pinurbo menyebut bahwa Yogya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Penyair Iman Budhi Santosa menyebut di pangkuan Yogya aku terlahir kembali. Penyair Indrian Koto menyebut di kota ini, aku merasa kembali dilahirkan. Hanung Bramantyo menyebutkan bahwa Yogyakarta adalah ladang garapan, tempat orang-orang nenandur (bercocok tanam), bukan untuk dol tinuku (jual beli). Agaknya, Yogyakarta yang independen telah menumbuhkan etos kebudayaan dan etos kerja (makarya, berkarya) setiap masyarakatnya.

Maka tersebutlah nama Mahatmanto, Kirdjomuljo, Motinggo Boesje, Nasjah Djamin, Umar Kayam, Subagio Sastrowardoyo, Kuntowijoyo, Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi W.M., Darmanto Jatman, Umbu Landu Paranggi, Iman Budhi Santosa, Linus Suryadi Ag., Emha Ainun Nadjib, Mustofa W. Hasyim, Suminto A. Sayuti, Hamdy Salad, Joko Pinurbo,  Dorothe Rosa Herliany, Joni Ariadinata, Agus Noor, Eka Kurniawan, Puthut EA, Gunawan Maryanto, Raudal Tanjung Banua, Hasta Indriyana, Indrian Koto, Mahfud Ikhwan dan banyak lagi yang lainnya.

Nama-nama yang bermunculan itu pun tidak hanya harum di Yogyakarta, namun bahkan di arena sastra Nasional. Keberadaan Malioboro, Stasiun Tugu, Pasar Kembang, Senisono, lorong-lorong kampung, para mahasiswa, pedagang kaki lima, gelandangan, pencopet, tukang becak menjadi bahan baku bagi kelahirankarya sastra. Belum lagi suasana alam Yogyakarta yang romantis dan melankolis serta kehidupan yang dramatis dan tragis yang membentang mulai dari Suroloyo hingga Wediombo, dari Kaliurang hingga Parangtritis.

Foto: Jemi Ilham

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *