Dunia Sunyi Monolog di Yogyakarta

Dunia Sunyi Monolog di Yogyakarta

“Sejarah” drama monolog di Yogyakarta bahkan di Indonesia adalah sejarah minoritas, baik secara kuantitatif (jumlah pelaku, tingkat keseringan atau frekuensi pentas), maupun secara kualitatif (pencapaian estetik).

Secara kualitatif, kita bisa bandingkan jumlah  aktor yang menekuni monolog dengan mereka yang menggeluti drama dialog dalam berbagai corak: realis, surrealis, absud dan lainnya. Angka perbandingannya bisa njomplang. Jumlah  aktor yang bermain monolog lumayan kecil (mungkin belasan). Adapun jumlah aktor yang bermain drama dialog, bisa mencapai ratusan, bahkan ribuan.

Selain jumlah peminatnya kecil, frekuensi pementasan monolog pun tergolong rendah.  Dalam satu tahun, pementasan teater (drama dialog) bisa mencapai puluhan kali. Namun pementasan monolog hanya mencapai beberapa kali.

Adapun secara kualiatif, kehadiran drama monolog belum memberikan kontribusi nilai  yang cukup signifikan. Bukan karena mutunya rendah, melainkan oleh sedikitnya nilai yang disemburkan drama monolog.  Nilai yang saya maksud adalah segala pencapaian gagasan dan semesta simbol yang mampu memperkaya cara berfikir dan memberi inspirasi publik penikmat.

Kontribusi nilai monolog  yang belum maksimal tentu berkaitan dengan frekuensi pementasan yang rendah. Akibatnya, pementasan-pementasan monolog yang digelar sangat jarang itu, hanya memberikan percikan-percikan kecil dan belum menjadi arus besar ide dan poetika. Gampang lewat. Mudah lenyap. Pandangan ini seturut dengan pendapat yang mengatakan bahwa membangun atau memperkuat nilai membutuhkan proses yang berkesinambungan. Hal inilah yang belum dilakukan oleh para aktor monolog. Pentas bergaya “berkala” (kala-kala pentas, kala-kala tidak) kurang memberikan posisi yang kokoh bagi seni monolog.

Seturut dengan beberapa hal di atas, respons atas pementasan monolog berupa kritik pun tergolong  rendah, bahkan “sunyi”. Banyak pementasan monolog belum berhasil menciptakan resonansi perbincangan yang panjang. Kecuali, seni monolog itu diproyeksikan untuk kepentingan di luar seni, misalnya politik (baca: aktor bermonolog dalam event politik misalnya demonstrasi, acara parpol dan lainnya). Respons perbincangan bisa lebih besar, terutama di media sosial. Itu pun bukan di kalangan seni,melainkan “masyarakat politik”, yakni komunitas yang merasa selalu meng-up-date isu-isu politik dan membicangkannya.

Dunia Sunyi

   Monolog masih menjadi dunia sunyi. Pertama karena seni monolog butuh persyaratan mendasar, yakni kematangan keaktoran. Persoalannya,  tidak semua pelaku teater memenuhi syarat itu. Jika dipaksakan, hasilnya pun mentah dan –menurut penonton—bikin sakit perut. Hal ini menunjukkan bahwa sejatinya monolog merupakan media penghadiran seluruh potensi keaktoran seseorang baik secara intelektual, spiritual, emosional, maupun ketrampilan teknis serta kekuatan tubuh, vocal dan lainnya.

Meskipun tetap berbasis pada proses kolektif, pada galibnya di atas panggung aktor monolog mempertaruhkan nasib pertunjukannya pada diri sendiri! Ia seperti seorang pendekar yang kaya ide, kaya jurus dan kaya teknik serta bermental petarung! Bertarung dengan teks naskah, teks tubuh, ruang, waktu, suara, suasana/mood, cahaya, irama, benda-benda demi melahirkan peristiwa dramatik. Bagaimana jika mendadak dia blank? Beberapa bagian teks lenyap dari benak? Kecelakaan-kecelakaan semacam itu bisa saja terjadi, tapi sudah diantisipasi dengan kesanggupan menempuh proses panjang dan ‘berdarah-darah’. Artinya, seni monolog tertutup bagi “aktor-aktor bermental instan”.

Tingkat kesulitan yang tinggi, proses yang berdarah-darah, pergulatan kreatif yang tidak pernah selesai dan eksplorasi estetik yang tak kenal batas, membuat banyak pelaku teater berpikir ulang untuk bermain monolog. Hal ini juga menunjukkan bahwa selama ini dunia teater di Yogyakarta, belum melahirkan banyak aktor, tapi banyak pemain.

Kedua, faktor kultur.  Masyarakat kita lebih dekat dengan budaya komunal daripada budaya individual/personal. Akar budaya ini turut menentukan ketika masyarakat menentukan pilihan ekspresinya. Dalam konterks bermain teater, orang-orang lebih memilih teater yang “rame-rame” daripada monolog yang personal-individual. Menanggung sendiri seluruh risiko dan akibat atas pilihan, cenderung dihindari banyak orang yang lebih memilih “tanggung renteng”.

Budaya “tanggung-renteng” ini ada sisi baiknya, yakni kebersamaan, tapi juga ada “sisi buruknya” yakni orang cenderung tidak berani fight. Bertarung sendirian! Seni monolog lebih dekat dengan etos “bertarung sendirian”.

Ketiga, belum tingginya perayaan atas aktor. Publik teater di Yogyakarta umumnya masih memandang bahwa aktor dan keaktoran merupakan “alat” bagi teater untuk menyampaikan ide-ide sosial dan estetik. Aktor dan keaktoran dipelajari bersama bidang-bidang yang lain dalam teater dan menjadi bagaian yang tidak “istimewa”. Keaktoran lebih banyak diserap dari pengalaman secara langsung.  

Para pelaku teater belum secara optimal memuliakan keaktoran misalnya dengan (1) mejadikan keaktoran sebagai pengetahuan/ilmu, (2) mekakukan penelitian, pengkajian, analisis, pengembangan wawasan dan pelatihan secara sistemik atas keaktoran dan (3) menghadirkan peristiwa dramatik teater keaktoran dengan kemampuan tinggi sehinggga memiliki nilai yang sebanding dengan pementasan teater lainnya.

Keempat, belum tercukupinya modal bagi aktor bermain monolog. Beberapa modal yang dibutuhkan itu antara lain (1) modal estetik (kekayaan literasi lakon), (2) modal budaya (kemampuan melahirkan ide dan kreativitas pemanggungan, baik secara artistik maupun produksi, (3) modal sosial, dukungan publik dan (4) modal ekonomi sebagai prasyarat produksi pementasan monolog.

Kelima, problem produksi dalam langgam kapital. Biasanya untuk mementaskan monolog, seorang aktor harus memiliki modal finansial secara mandiri. Cara berpikir “kamu yang pentas dan kamu yang keluarkan ongkos (paling banyak) ” masih dominan. Beban produksi yang “ditanggung sendiri” –meskipun mungkin juga ada bantuan dari kanan-kiri—membuat para aktor kecut nyali. Uang jutaan atau puluhan juta –taruhlah yang paling rendah Rp 25 juta—yang menjadi dana produksi, memaksa para aktor berpikir ulang dan bahkan menunda cita-citanya untuk main monolog.

Maka, jika ada aktor yang berani tampil main monolog biasanya (1) memiliki modal finansial kuat, mampu mencari sponsor dan (2) nekat, atau bonek (bandha nekat), dengan mengandalkan kontribusi dari banyak orang baik tenaga, pikiran maupun uang.  “Mutu produksi” nya pun tak bisa dijamin.

Dalam konteks produksi pementasan, dunia ekonomi yang berlanggam kapitali(sme) merupakan kendala yang sangat serius bagi para pelaku teater, termasuk aktor-aktor yang ingin bermain monolog. Ketika kuasa kapital menentukan proses kreatif maka yang terjadi adalah “subordinasi” teater yang berdampak buruk: tergerusnya spirit, pudarnya idealisme, penguatan atas pragmatisme, orientasi pada produk seni yang “dangkal” dan lainnya.

Lima kendala yang tepapar di atas, hanyalah indikator yang bisa kita baca. Kendala lainnya mungkin masih banyak. Banyaknya kendala tersebut menyebabkan tradisi (bermain) monolog di Yogyakarta belum kokoh. Monolog belum menjadi core aktivitas berteater, melainkan “ruang rekreasi” atau coba-coba bagi para peminatnya.

Sastra lakon

Nasib yang nyaris sama juga dialami oleh sastra lakon monolog. Mengamati teater di Yogyakarta sejak tahun awal tahun 1980-an, saya mencatat banyak naskah monolog dimainkan oleh para aktor. Naskah tersebut merupakan karya yang  ditulis orang lain (sastrawan/dramawan Indonesia dan Barat) dan ditulis orang dalam sendiri (anggota atau mereka yang menjadi bagian dari grup teater).

Naskah-naskah monolog yang bersumber dari khazanah sastra asing ( Barat) biasanya merupakan naskah standar. Artinya, bentuk penulisan naskah tersebut mengacu pada konvensi/gaya yang bisa diacu dan dikenali kolektif/umum (misalnya dalam keterangan adegan, ruang, waktu, suasana). Sehingga memudahkan orang lain untuk mementaskan. Sebut saja misalnya naskah monolog “Bahaya Racun Tembakau” (Anton Chekov) atau “Kucing Hitam” (Edgar Allan Poe) yang sangat sering dipentaskan itu.

Naskah berformat penulisan standar juga ditulis oleh para sastrawan dan dramawan Indonesia, sebut saja misalnya Arifin C Noer (“Prita Isteri Kita”, “Kasir Kita”), Putu Wijaya (‘Aeng”) dan lainnya.

Di luar itu, muncul naskah-naskah sendiri dari kalangan tearterawan atau mereka yang memiliki kedekatan emosional dengan grup teater. Ide lakon bisa digali dari pikiran penulis sendiri, komunitas,  bisa pula diambil dari cerpen terutama yang menggunakan “aku lirik” dalam berkisah. Misalnya cerpen karya Emha Ainun Nadjib (“Yang Terhormat Nama Saya”) atau cerpen-cerpen Putu Wijaya.

Naskah-naskah yang lahir dari lingkaran dalam grup teater, biasanya ditulis karena dorongan eksternal: merespons gejala politik-sosial tertentu, memenuhi permintaan orang lain dengan tema persoalan yang “sudah ditentukan” dan seterusnya. Dan pola penulisannya tidak selalu mengacu pada standar naskah lakon. Banyak istilah atau idiom yang hanya dikenali oleh kalangan terbatas. Ini tidak lepas dari pemahaman bahwa naskah lakon monolog tersebut “hanya” menjadi bagian dari proses pementasa, yang menjadi “utuh” atau “lengkap” setelah terjadi eksplorasi dalam latihan.

Persoalannya, naskah yang “utuh” atau lengkap tersebut tidak selalu terdokumentasi. Begitu pementasan usai, “usai” pula eksistensi sang naskah. Tercerai berai, hilang atau dimakan ngengat. Pragmatisme pentas bisa menggerus eksistensi naskah lakon. Dalam konteks ini, diperlukan pelacakan kembali sehingga naskah-naskah lakon yang lahir dari para penulis di Yogya bisa ditemukan dan didokumentasi. Syukur diterbitkan. Persoalannya siapa yang mau melakukan?

Penguatan Tradisi Monolog

Tradisi drama monolog di Yogyakarta memang belum kokoh. Namun, sudah ada upaya yang baik dari para aktor, penulis lakon, sutradara dan pelaku teater lainnya untuk menghadirkannya: monolog sebagai entitas estetik teater, yang mandiri atau tidak menjadi subordinasi teater (drama dialog).

Untuk menguatkan tradisi monolog dibutuhkan aktor-aktor  mumpuni yang memiliki kesadaran keilmuan bukan sekadar pengalaman. Selain itu juga  ekologi kreatif teater yang disangga grup mapan/kuat,  modal literasi, edukasi, sistem kelola produksi, ruang/media ekspresi, modal ekonomi, modal budaya, jaringan dan seterusnya.


[1] Drama monolog: permainan seorang aktor yang memerankan satu karakter tokoh dengan pelbagai problemnya, psikis/psikologis, sosial, politik, budaya. Ia mengandalkan seni peran: kekuatan keaktoran yang meliputi tafsir cerita/lakon/tokoh, vocal, genture, ekspresi, pengahadiran suasana dan peristiwa dramatik.

[2] Ditulis oleh Indra Tranggono, seorang pemerhati budaya, pelaku seni pertunjukan dan penulis naskah lakon. Tulisan ini merupakan pengantar diskusi Bincang-Bincang Sastra edisi 167 Studio Pertunjukan Sastra (SPS) Yogyakarta dengan tema “Irama Lain Monolog Yogya”, yang hadir di Festival MocoSik 2019. Dilaksanakan pada Jumat, 23 Agustus 2019 pukul 19.30-22.00 di Omah Ontosoroh MocoSik, Jogja Expo Center (JEC).

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *